Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Awal Kehidupan Baru


__ADS_3

"Kak ... perut aku kenapa? Rasanya sakit sekali," ucap Raina yang saat ini tengah mengandung anak pertama mereka yang memang sudah memasuki perkiraan untuk lahiran.


"Sepertinya bayi kita sudah tidak sabar ingin segera melihat dunia, Sayang. Tunggu dulu di sini, aku akan menyiapkan semua keperluan kita," sahut Alex sambil bergegas membawa tas yang memang sudah disiapkan jika saja Raina akan lahiran.


Hampir 20 menit perjalanan mereka ke rumah sakit, dan saat masuk ke ruang pemeriksaan ternyata benar jika Raina akan segera melahirkan.


Alex segera menghubungi mertua serta keluarganya untuk meminta doa agar persalinan istrinya lancar, dan dia hampir tidak tega ketika melihat Raina yang terus-terusan meringis menahan rasa sakit kontraksi yang sekarang memang sudah hampir 5 menit sekali.


"Kak." Raina menggenggam tangan suaminya dengan begitu erat ketika merasakan kontraksi yang sangat luar biasa.


Peluh membasahi hampir semua wajah putih Raina. Dengan begitu telaten Alex berusaha untuk meringankan apa yang dialami oleh istrinya dengan mengelus-ngelus punggung Raina.


"Yang sabar, ya, Sayang." Alex mencium kening istrinya sambil terus berdoa agar sang bayi segera terlahir.


"Kak." Lagi-lagi Raina meringis kesakitan dengan sesekali menarik napas panjang.


"Maafkan aku ... jika saja melahirkan akan sesakit ini, aku tadi tidak akan mengijinkan kamu untuk melahirkan secara normal, dan mungkin aku tidak akan terlalu menuntut untuk segera mempunyai anak," batin Alex seraya terus mengelus kepala istrinya.


Hampir 5 jam lamanya, Alex menyaksikan istri tercintanya merasakan sakit yang luar biasa ketika berjuang untuk melahirkan buah cintanya, dia terus memberi semangat pada istrinya yang kala itu sudah hampir menyerah dengan rasa sakit yang begitu luar biasa.


"Kak ... aku gak kuat," ucap Raina terputus-putus karena merasakan sakit yang jauh lebih sakit ketimbang tadi.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku." Alex mengelus kepala istrinya.


Sementara itu, dokter datang untuk memeriksa kembali keadaan Raina, dan ketika diperiksa ternyata sebentar lagi bayi Raina akan segera keluar.


Alex dibuat makin gugup ketika melihat istrinya yang di suruh mengeden oleh dokter supaya kepala bayinya keluar. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki oleh Raina, akhirnya sang bayi terlahir dengan selamat.


Suara tangis bayi laki-laki begitu nyaring di ruangan tempat Raina bersalin. Rasa sakit seketika hilang ketika bayi mungil buah cintanya terlahir dengan sempurna.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau berjuang untuk anak kita, Sayang." Alex mengecup bibir Raina dengan begitu lembut dan tanpa disadari di sana masih banyak orang yang menyaksikan adegan live mereka.


"Kak ... malu, ih." Raina langsung tersipu malu karena memang dia sadar jika perawat yang sedang membersihkannya melihat adegan mereka.


"Maaf," lirih Alex pelan dan dia pun ternyata tidak sadar jika di sana ada banyak orang.


***


Raina berada di rumah sakit sekitar 2 hari, setelah kondisinya membaik, dokter pun mengijinkan Raina untuk kembali.


Suara riuh begitu menyelimuti rumah Alex dan Raina ketika mereka baru saja tiba di kediaman mereka.


Saat itu Bi Asih menemani Raina dan ketika pulang dari rumah sakit pun Bi Asih yang menggendong bayi mungil Raina dan Alex.


"Sayang ... selamat sudah menjadi ibu, Nak," ucap ibunya Raina sambil memeluknya dengan begitu erat.


"Itu adalah kodrat wanita, Nak. Jadilah ibu yang baik supaya pengorbanan kamu tidak sia-sia," sambung Ibunya Raina.


Ibunya Raina beralih pada bayi yang sekarang sedang digendong oleh Bi Asih. Dia langsung saja mengambil alih menggendong cucu pertamanya kemudian tersenyum karena bahagia.


*Seminggu Kemudian*


Saat ibunya dan Bi Asih masih berada di rumah, Raina masih belum merasakan bagaimana susahnya menjadi seorang ibu, sebab ketika bayinya menangis karena lapar atau popoknya basah malam-malam, Raina di bantu oleh ibunya dan Bi Asih sehingga Raina masih bisa tertidur dengan begitu pulas.


Namun, saat ini ibunya serta Bi Asih sudah kembali dan Raina hanya tinggal bertiga bersama bayi dan suaminya.


Tengah malam bayi yang diberi nama Faisal Putra Pratama menangis karena lapar. Alex yang mendengar suara Faisal menangis dia langsung membangunkan istrinya.


"Mami ... Faisal nangis," ucap Alex sambil menepuk-nepuk istrinya agar bangun.

__ADS_1


Raina mulai memicingkan matanya, kemudian menggendong Faisal untuk menyusuinya.


Hampir setiap malam Raina dibangunkan oleh Alex untuk menyusui dan mengganti popok Faisal, waktu tidurnya pun otomatis jadi berubah, Raina hampir setiap malam harus begadang karena mengurus bayi pertama mereka.


"Pi ... tolong gantiin dong, aku ngantuk," ucap Raina seraya mata tetap terpejam.


"Mi ... aku besok harus upacara, aku baru bisa tidur. Mami dulu aja, ya," sahut Alex yang malah menarik Raina untuk terbangun.


Hampir setiap malam Raina seperti itu, kalau siang Raina dibantu oleh Bi Asih sehingga tidak terlalu repot, tetapi ketika malam otomatis dia sendiri yang harus melakukannya.


"Pi ... jagain Faisal sebentar dong, aku lagi mau menelpon Ibu," teriak Raina ketika dia ingin bermain ponsel.


"Aku lagi tanggung, bentar," sahut Alex sambil tidak melirik ataupun menoleh ke arah istrinya.


Masih banyak sekali alasan-alasan lain yang membuat Raina repot sendiri karena kebetulan saat itu di sekolah Alex menjadi panitia akreditasi sekolah sehingga dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan sekolahnya.


"Kamu tuh berubah, dulu begitu perhatian dan sekarang setelah aku tidak cantik dan tidak langsing lagi, kamu menghindar dari aku. Padahal semua ini kamu yang mau agar aku hamil," hardik Raina dengan terisak.


"Mami ... aku lagi benar-benar banyak kerjaan, tunggu sebentar, ya." Alex berusaha untuk tidak terprovokasi oleh emosi istrinya.


"Kamu baru juga segitu udah bilang repot, aku ... aku ... dari pagi sampai pagi lagi harus ngurus bayi kita, aku juga capek ... aku lelah ... kamu sih enak bisa ketemu sama murid-murid kamu yang sok ke ganjenan dan melihat guru cewek yang cantik setiap hari, sedangkan aku ... kuliah saja cuti dan ditambah harus diam di rumah. Aku bosan, kamu tahu tidak?" teriak Raina sambil menangis tersedu-sedu.


"Sayang ... maafkan aku, ya." Alex berusaha untuk memeluk Raina, tetapi di tahan oleh Raina.


"Aku tidak ingin hamil lagi, jadi jangan sentuh aku," bentak Raina dengan terus menangis tersedu-sedu.


"Sayang ... jangan bicara seperti itu, maafkan aku karena aku tidak memperhatikan kalian. Aku janji ... tidak akan mengulanginya lagi," jelas Alex dengan suara yang lembut.


"Pokoknya aku tidak ingin kamu menyentuh aku lagi, aku takut hamil dan punya anak lagi. Aku tidak ingin jika nanti aku bakalan lebih repot daripada sekarang." Raina meletakkan bayinya di pangkuan Alex, kemudian dia memilih untuk menutupi dirinya dengan selimut sambil terus menangis.

__ADS_1


__ADS_2