
Tiba di rumah Anna melihat semua belanjaan Salman. Dia membuka satu persatu dan ternyata semua kebutuhan yang hendak dia beli sudah lengkap semua.
"Mas, kok bisa tahu apa aja yang akan aku beli," tanya Anna ketika melihat begitu lengkapnya belanjaan Salman.
"Masa? Semuanya sudah lengkap?" sahut Salman sambil menarik kursi meja makannya.
"Iya, ini udah lengkap semua," jawab Anna sambil membuka kemasan makanan yang dia sukai.
"Syukurlah ... tapi jika ada yang kurang kita beli lagi aja," sambung Salman.
"Aku hanya tidak ingin kamu capek, makanya aku belanja," lanjut Salman.
"Kalau kita nyari asisten rumah tangga gimana? Gak usah nginep ... cuma bersih-bersih rumah dan nyuci baju. Kalau misalkan kamu mau di masakin juga gak apa-apa," tawar Salman.
"Kalau ada asisten kamu gak bakalan capek," jelas Salman hati-hati.
"Terserah kamu aja, Mas," jawab Anna dengan tersenyum.
"Terserah itu artinya setuju atau terpaksa?" goda Salman.
"Ish kamu tuh." Anna memanyunkan bibirnya.
Salman tersenyum dan beranjak dari duduknya untuk masuk ke kamar. Anna masih sibuk menata belanjaannya ke dalam lemari pendingin hinga semuanya selesai.
"Ah aku lupa, tadi aku pengin beli syal," gumam Anna seraya menutup lemari pendinginnya.
Anna menyusul Salman ke dalam kamar, dia melihat suaminya yang tengah asyik bermain ponsel dengan dahi yang berkerut.
"Lagi lihatin apa? Serius amat," ucap Anna seraya melepas syalnya.
"Ini ada laporan yang aku pikir rancu," sahut Salman dengan kembali memfokuskan matanya.
__ADS_1
"Oh, diteliti lagi aja," jawab Anna.
Sebenarnya Anna ingin mengajak Salman untuk belanja syal, tapi ketika melihat suaminya yang tidak mungkin diganggu pun dia mengurungkan niatnya.
Anna menoleh ke arah meja rias. Ada paper bag yang baru Anna lihat. Anna melihat isi dari paper bag-nya dan ternyata isinya adalah syal, sesuai dengan apa yang Anna inginkan.
"Mas, kamu juga beli syal? Tadinya aku barusan mau ngajak kamu ke luar lagi ... ternyata semua yang aku inginkan udah kamu beli semuanya." Anna mendekat ke arah Salman.
"Terima kasih, ya." Anna kembali memeluk Salman yang saat ini masih fokus ke layar ponselnya.
Salman tersenyum dan kembali memfokuskan matanya.
"Kok bisa sehati, ya? Tadi tuh aku rencananya pengin beli syal dan belanja kebutuhan ... eh tahunya udah kamu belikan semua," ucap Anna dengan binar bahagia.
"Tentu sehati dong, kamu tuh soulmate aku, Sayang ... kalau untuk syal aku harus membelinya karena aku pasti akan melukis setiap hari hingga akhirnya aku harus menutupinya," sahut Salman seraya menyimpan ponselnya dan membalas pelukan Anna.
Salman merogoh saku celananya, dia mengambil dompetnya dan mengambil kartu debit untuk Anna.
"Ini uang untuk kebutuhan kamu sehari-hari." Salman menyerahkan satu kartu.
"Kenapa mesti dua? Padahal satu juga bisa," sahut Anna.
"Beda dong ... ini uang khusus untuk kamu dan ini untuk memenuhi kebutuhan kita berdua. Jadi, jika kamu ingin beli apa pun untuk kebutuhan rumah ini jangan pakai kartu debit yang khusus untukmu. Pakai yang ini, oke," jelas Salman seraya tersenyum.
"Baiklah ... aku akan menyimpannya dan juga menggunakannya dengan baik," jawab Anna seraya tersenyum.
"Jika masih kurang, kamu jangan sungkan untuk ngasih tahu aku. Dan jangan pernah gunakan uangmu untuk kepentingan kita," lanjut Salman.
"Baik Pak Guru," jawab Anna menggemaskan dan Salman langsung tergoda.
Salman menyambar bibir Anna dengan lembut. Dia tidak tahan melihat Anna yang memasang wajah menggemaskan hingga akhirnya dia langsung menyerang Anna.
__ADS_1
Ciuman lembut tapi menuntut, keduanya berebut oksigen agar pernapasan mereka teratur dan gairah hasratnya pun tersalurkan dengan sempurna.
"Aku belum mandi, masih bau rumah sakit," ucap Anna ketika Salman membuka kancing kemeja Anna.
"Gak apa-apa, mandinya nanti saja setelah urusan kita selesai," sahut Salman dengan kabut gairah yang tidak mungkin bisa dia tunda lagi.
Salman melucuti pakaian Anna dan juga pakaiannya. Mereka berdua sudah sama-sama tidak menggunakan apa-apa hingga akhirnya Salman kembali menuntaskan apa yang selalu dia inginkan.
Peluh membasahi badan keduanya. Salman benar-benar membuat Anna kewalahan karena permainannya masih belum bisa Anna imbangi.
"Mas, aku jadi ingat tadi pagi pas lagi di UGD. Ada pasien yang datang karena gara-gara malam pertama," ucap Anna ketika meraka sudah menyelesaikan kewajibannya dan sekarang mereka sedang rebahan dengan posisi Anna didekap oleh Salman.
"Malam pertama gimana?" Salman mengerutkan keningnya tidak paham.
"Ya malam pertama, malam pengantin. Suaminya bilang kayak gitu dan aku melihat jika area sensitif si ceweknya sampai robek. Aku gak ngebayangin buasnya itu suami sampai melukai istrinya seperti itu," jelas Anna.
"Punya kamu robek juga, kan? Kalau gak robek gak bakalan aku bisa senikmat ini," sahut Salman yang malah menggoda Anna.
"Ish ... kamu tuh ... untung aja aku gak parah kayak yang tadi, kalau enggak ... muka aku mau disimpan di mana coba? Aku masuk UGD gara-gara malam pertama, sumpah malu ...." Anna tersenyum membayangkan jika wanita yang tadi adalah dirinya.
"Yang namanya cowok kalau udah pengin yang begituan ya gak bisa ditahan, itu cowok kan udah pengin dari dulu kayak aku, untung aja aku mainnya pelan ... kalau tidak hari ini pasti aku gak bakalan dapat jatah lagi," sahut Salman.
"Bukan hanya itu, sekampung bisa geger gara-gara masalah ini," sambung Anna sambil terkekeh.
"Jika boleh jujur ... aku sebenarnya sudah sangat ingin dari dulu, Sayang ... ketika aku mengenalmu aku napsu aku itu bangkit, tapi aku berusaha untuk menahannya." Salman menatap tajam ke arah Anna.
"Berpisah lama dan ketemu lagi dengan tiba-tiba ... itu membuat aku makin tidak bisa menahannya, apalagi ketika kita tidur bersama ... dengan susah aku menahan hingga akhirnya semua penantian aku berbuah manis. Aku bisa melakukannya kapan pun yang aku mau karena sekarang kita sudah halal," lanjut Salman.
"Setelah ini ... aku sangat berharap buah cinta kita akan segera hadir di sini, Sayang." Salman mengusap perut Anna yang tidak terhalang oleh apa pun juga.
"Tapi aku masih belum kepikiran untuk punya anak, Mas. Aku masih belum bisa mengurus kamu ... kalau misalkan aku hamil ... gimana coba?" ucap Anna.
__ADS_1
"Aku bisa mengurus aku dan juga kamu, Sayang. Jangan jadikan aku beban untukmu. Aku tidak akan protes jika seandainya kamu tidak melakukan pekerjaan rumah atau menyiapkan makanan untuk aku, yang bakalan aku protes jika kamu menolak atau tidak melayani aku di ranjang," tegas Salman dengan menggoda Anna.
"Kalau urusan ranjang gak aku kasih ... uh ... pasti kamu udah kabur duluan," cibir Anna dan Salman tertawa.