Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Hujan Membawa Berkah


__ADS_3

"Baiklah … saya akan ganti semuanya,” sahut Salman.


"Oke … besok bonnya saya bawa, ya, Pak. Permisi saya pulang dulu.” Anna menstarter sepeda motornya dan hendak berlalu meninggalkan Salman, tetapi tangannya di tahan oleh Salman.


"Kenapa, Pak?" tanya Anna saat tangannya ditarik oleh Salman.


"Ini gara-gara kemarin, kan?" selidik Salman sambil menunjuk sikut lengan Anna yang dipasang perban.


"Iya," Anna mengangguk.


"Maaf, ya. Sungguh kemarin saya tidak sengaja," ucap Salman tidak enak.


"Gak apa-apa, Pak. Bukan masalah yang besar, Kok. Aku duluan, ya," pungkas Anna sambil menganggukkan kepalanya pertanda dia akan pamit.


Salman tersenyum melihat Anna yang berani meminta maaf, karena telah salah menilai dirinya, Salman senang karena menurutnya selain cerdas Anna juga orangnya bisa menyelesaikan masalah.


Ke esokan harinya hujan mengguyur kota kelahiran Anna dengan begitu deras. Alex yang sedang mengikuti pelatihan di luar kota, tidak bisa mengantarkan sang putri ke sekolah.


Anna rencananya tidak akan menggunakan sepedanya motornya, dia berencana untuk naik angkot ke sekolahnya.


"Mi ... aku sarapan di angkot saja, ya?" ucap Anna sambil memasang jas hujannya.


"Jangan sarapan di angkot, di sini saja. Ini masih jam pagi, apalagi kalau hujan orang-orang pasti bakalan datang terlambat ke sekolah," sahut Raina sambil membuatkan roti isi untuk Anna.


"Aku ada ulangan, Mi. Jadi aku gak mau kesiangan." Anna kekeh dengan keinginannya, dan Raina hanya menghela napasnya saja sambil menyiapkan sarapan untuk Anna.


Anna pergi ke depan dengan menggunakan jas hujan. Dia berjalan ke arah halte di mana dia menunggu angkutan umum yang biasa lewat ke arah sekolahnya.


Anna duduk di halte menunggu angkot yang lewat sambil memainkan kakinya. Pandangannya terfokus pada kendaraan yang berlalu-lalang. Dia kembali mengalihkan pandangannya untuk memperhatikan sepatunya.


Sementara itu, Salman yang akan mengajar kembali di SMA tempat Anna menimba ilmu, dia pun segera berangkat karena meskipun hujan, dia masih tetap ingin memberikan contoh yang baik pada semua siswanya untuk tidak datang kesiangan.


Dari kejauhan, Salman melihat wajah yang tak asing yang sudah untuk ketiga kalinya dia melihat wajah siswanya yang tidak sengaja dia tabrak 2 hari yang lalu.


Tid …tid …tid … suara klakson mobil mengagetkan Anna yang tengah memainkan kakinya.


“Zea ... ayo naik! Kita bareng.” Salman membuka jendela kaca mobilnya dan mengajak Anna untuk berangkat bareng.

__ADS_1


"Pak Salman," gumam Anna. Bukannya menjawab, Anna malah terpana melihat wajah Salman yang tampan.


"Zeanna," panggil Salman lagi.


“Ti-tidak usah Pak, terima kasih,” tolak Anna halus.


“Kalau tidak naik sekarang nanti kamu kesiangan. Ayo cepetan.” Salmam turun dari mobilnya supaya Anna mau berangkat bareng dengan dirinya.


"Pak ... kenapa mesti turun, jadi basah, kan," seru Anna sambil melihat Salman yang mencoba menutupi kepalanya dengan tangan.


"Habis kamunya gak kunjung masuk ke mobil. Ayo, anggap saja ini sebagai ucapan maaf saya karena sudah menabrak kamu tempo hari," ajak Salman dengan memberikan alasan logis supaya Anna mau ikut berbakat bareng.


“Maaf ya jadi ngerepotin, padahal aku bisa loh nunggu sampai angkotnya datang," ucap Anna sesaat setelah masuk ke dalam mobil Salman.


“Tidak perlu sungkan seperti itu, saya senang bisa ketemu dengan kamu lagi, Zea.” Entah apa yang ada di pikiran Salman saat itu. Dia dengan beraninya mengatakan hal itu yang langsung membuat Anna tidak paham akan maksud dari ucapan gurunya tersebut.


Sampai di sekolah, suasana masih terlihat sepi, karena hujan kebanyakan siswa datang agak terlambat dengan alasan cuaca yang tidak mendukung mereka untuk tiba dengan tepat waktu.


"Terima kasih, ya, Pak," ucap Anna ketika mereka baru saja sampai di sekolah.


Sementara itu, Adit yang memang sudah datang lebih awal, dia menunggu Anna di lorong depan kelas Anna. Senyumnya merekah ketika melihat kekasih hatinya datang lengkap dengan jas hujan yang masih menempel di tubuhnya.


"Kamu naik motor?" tanya Adit dengan senyum manisnya.


"Enggak, tadi aku bareng sama Pak Salman," sahut Anna jujur sambil melepas jas hujannya.


"Pak Salman? Guru baru itu?" sambung Adit sambil mengerucutkan keningnya.


"Iya, emang yang namanya Salman ada berapa," sambung Anna.


"Kok kamu bisa bareng dia, emang kamu dekat dengannya atau dia saudara kamu?" Adit lagi-lagi memberikan banyak pertanyaan pada Anna.


"Pak Salman cuma kebetulan lewat aja, dan aku lagi nunggu angkot di halte, jadi dia ngajakin aku bareng, daripada kesiangan ... ya udah, aku ikut aja," jelas Anna lagi.


"Kirain dia saudara kamu." Adit tersenyum atas praduganya sendiri.


Interaksi Anna dan Adit sekilas terlihat oleh Salman dan juga Ferdy, Salman hanya menatap biasa sedangkan Ferdy menatap tidak suka dengan kedekatan Anna dan juga Adit.

__ADS_1


Waktu terus bergulir dengan cepat, hampir setiap hari Adit menyempatkan diri untuk menemui Anna di sela-sela waktu istirahat ataupun saat jamnya pulang.


Kedekatan Adit dan Anna semakin hari terlihat semakin akrab, hingga membuat Ferdy makin tidak menyukai Adit. Sedangkan Salman, dia tetap cool karena memang statusnya dia sudah beristri.


Status Salman yang sudah beristri tidak ada yang tahu, sebab Salman tinggal di kota ini hanya seorang diri, sedangkan istri dan keluarganya tinggal di kota lain.


Salman menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya. Merasa harus balas budi, maka Salman rela mengorbankan masa mudanya untuk berbakti pada kedua orang tuanya dengan menikahi wanita yang usianya jauh lebih tua dengannya, dan menikah dengan wanita yang tidak pernah dia cintai.


Bagi Salman ibu adalah segalanya, maka ketika ibunya meminta dia untuk menikahi gadis yang terpaut 5 tahun dengannya pun, Salman tidak bisa menolak karena kesehatan sang bunda yang takut terkena serangan jantung.


Sekarang Salman berusia 25 tahun dan istrinya 30 tahun. Salman merantau ke kota ini karena untuk melanjutkan cita-cita ayahnya, yaitu salah satu pemilik yayasan tempat Zeanna menimba ilmu.


Hampir setiap hari Salman melihat Anna yang makin dekat dengan Adit, selintingan kabar sampai juga di telinganya, jika Adit adalah pacarnya Anna.


"Kenapa aku mesti merhatiin dia? Ingat kamu sudah beristri," gumam Salman mengingatkan akan statusnya.


"Zeanna ... oh, Ya, Tuhan ... kenapa wajah gadis ini selalu menghampiri mataku," gerutu Salman ketika melihat Anna yang berjalan ke arahnya.


"Pak ... saya mau minta ijin pulang," ucap Anna saat Salman bertugas sebagai piket harian di sekolah.


"Kenapa pulang?" tanya Salman.


"Aduh, gak enak nih, Pak mengatakannya," sambung Anna yang seketika membuat Salman menaikkan satu alisnya.


"Kamu kenapa Zea?" selidik Salman.


"Aku lagi datang bulan, dan perut aku sakit, Pak. Kalau di UKS ... aku takut, gak ada yang nemenin," jelas Anna jujur.


"Lalu siapa yang akan menjemput kamu, Zea?" tanya Salman sambil mengambil surat pengantar pulang.


"Gak ada, aku pulang naik angkot saja, Pak," sambung Anna.


"Zea ... kalau minta ijin pulang artinya kamu mesti dijemput sama orang tuamu, kalau pulang sendiri, saya tidak bisa memberikan kamu ijin," tegas Salman.


"Aduh, Pak ... ponsel akunya ketinggalan saat tadi sarapan, jadi gak bisa menghubungi orang rumah," jelas Anna lagi.


"Nih pakai punya saya," Salman menyodorkan ponselnya pada Anna.

__ADS_1


__ADS_2