
Anna mendorong kursi roda untuk membantu Salman masuk ke apartemen.
"Aku tinggal di lantai 9," ucap Salman ketika mereka sudah berada di depan lift.
Anna memencet tombol naik dan tidak lama pintu lift terbuka.
"Ingat-ingat, ya ... aku tinggal di lantai 9. Jangan sampai lupa kalau ke sini lagi," goda Salman.
"IQ aku di atas rata-rata, kalau cuma untuk mengingat hal kayak gini mah gampang," sahut Anna sambil terkekeh.
Tring!
Pintu lift terbuka dan mereka sampai di lantai di mana Salman tinggal.
"Kode akses pintunya tanggal lahir kamu," ucap Salman ketika Anna yang mencoba bertanya tentang kode akses untuk masuk ke apartemen Salman.
"Kamu tuh gak kartu debit gak pintu pasti pakai tanggal lahir aku, jangan-jangan password ponsel juga sama," sahut Anna seraya memencet tombol sesuai angka kelahirannya.
Tululit!
Pintu apartemen pun bisa dibuka. Anna membawa Salman masuk.
"Mau istirahat di mana?" tanya Anna.
"Di ruang tengah aja," sahut Salman sambil menunjuk ke arah ruang di mana ada televisi.
Anna membantu Salman untuk duduk di sofa dan melipat kursi rodanya.
"Di sini ada persediaan makanan gak?" tanya Anna seraya berjalan ke arah dapur.
"Aku lupa lagi, entah apa yang masih ada," jawab Salman setengah berteriak, karena Anna sudah berjalan ke dapur.
Anna membuka lemari pendingin, ada cukup stok bahan makanan yang bisa dia masak hari ini.
"Sepertinya dia suka masak," gumam Anna seraya menutup pintu lemari pendingin kembali.
"Mau beli atau aku yang masak?" tanya Anna lagi.
"Istirahat dulu aja, kamu masih capek, Zea. Untuk hari ini kita beli dari luar aja," sahut Salman seraya menarik Anna yang tengah berdiri untuk duduk di sampingnya.
"Ya, udah aku pesan dulu aja ... aku lapar," sahut Anna yang memang dia belum sempat makan siang.
"Mana ponselnya, biar aku yang pesan. Kamu istirahat dulu aja di kamar sambil nunggu pesanan datang," pinta Salman dan menyuruh Anna untuk istirahat.
Anna menyerahkan ponselnya dan memilih bersandar di sofa.
"Tidurannya di kamar aja, biar nyaman," ulang Salman.
__ADS_1
"Enggak, ah ... di sini aja," sahut Anna enggan.
"Mau aku temenin?" goda Salman.
"Apaan sih." Anna mengerucutkan bibirnya.
"Ayo bantu aku untuk berdiri," ucap Salman.
"Mau ke mana?" Anna langsung mengubah posisi duduknya.
"Nganterin kamu ke kamar. Gak usah sungkan ... aku gak suka," jelas Salman sambil menarik tangan Anna.
"Aku masih belum terbiasa aja," jawab Anna.
"Makanya biasakan."
Salman tersenyum dan segera mencoba berdiri yang kemudian dibantu oleh Anna.
Untuk pertama kalinya Anna masuk ke kamar Salman. Saat pintu kamar terbuka mata Anna langsung terbelalak ketika melihat begitu banyak foto dirinya di kamar Salman.
"Kenapa banyak foto aku di sini?" tanya Anna seraya menoleh ke arah Salman.
"Karena aku tidak pernah melupakan kamu," jawab Salman tegas.
Anna mengerucutkan bibirnya dan mengingat jika di dompet Salman pun ada foto dirinya.
"Kamu tuh udah kayak fans berat aku aja," goda Anna seraya membantu Salman untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu tiduran dulu aja. Aku akan pesan makanan dan juga aku pinjam ponsel kamu untuk menghubungi teman aku."
Salman mulai mengetikkan nomor ponsel temannya dan ketika seseorang yang dia hubungi menjawab panggilannya dia langsung memberikan perintah.
"Gan, ini aku Salman. Tolong belikan ponsel baru untukku hari ini. Kirimkan ke tempat biasa, ya. Kirim lewat kurir," ucap Salman.
Setelah memberikan perintah dia langsung mengakhiri panggilannya kemudian beralih mencari menu makanan yang akan dia makan hari ini.
"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Udah cepetan istirahat dulu," ucap Salman lagi.
"Katanya aku orang pertama yang ke sini itu tadi buktinya." Anna protes.
"Aku menyuruh teman untuk beli ponsel, tapi aku gak nyuruh dia yang nganterin. Kurir yang akan mengantarkannya ke sini," jelas Salman.
Anna hanya mencebikkan bibirnya. Kemudian memilih untuk melepaskan ikat rambut, karena saat ini dia ingin rebahan.
"Nanti bangunin aku kalau makanannya udah datang," pungkas Anna seraya naik ke atas tempat tidur dan memilih untuk beristirahat.
Salman tersenyum. Situasi saat ini adalah situasi paling nyaman yang dia rasakan berada di kamar dengan wanita yang dia cintai, dan melihat wajah wanita yang selama 5 tahun dia rindukan tidur hanya dalam beberapa hitungan menit saja.
__ADS_1
Anna yang memang begitu lelah, dia pasti akan langsung tidur ketika menemukan bantal, bahkan ketika di rumah sakit, Anna bisa tidur sambil duduk tanpa harus menggunakan bantal.
Salman tersenyum melihat wajah damai Anna. Dia menyimpan ponsel Anna kemudian dengan berpegangan pada nakas, Salman bisa berdiri dan berjalan perlahan dengan sebelah kakinya.
Salman keluar dari kamar kemudian mengambil tongkat untuk membantunya berjalan.
Setelah 45 menit pesanan Salman datang. Anna yang terbiasa akan terbangun ketika mendengar suara bel, saat ini pun dia langsung siaga karena beranggapan sedang istirahat di rumah sakit.
"Ah ternyata itu bel rumah," gumam Anna yang memilih untuk bangun dan keluar dari kamar ketika tidak mendapati Salman.
"Kok udah bangun?" tanya Salman.
"Suara belnya berisik," sahut Anna yang kembali mengikat rambutnya.
Salman tersenyum dan menyimpan makanan yang dia pesan.
Anna dan Salman pun memilih untuk makan siang. Keduanya makan sambil berbincang-bincang hangat hingga makanan tandas.
"Kamu kalau di sini beneran sendiri?" tanya Anna yang masih penasaran.
"Emang siapa yang aku ajak ke sini?" sahut Salman.
"Ya kali aja ada cewek yang pernah kamu ajak ke sini," cibir Anna.
Salman hanya tersenyum sambil menarik Anna agar duduk lebih dekat lagi.
"Bahkan Ibu aku aja tidak tahu kalau aku tinggal di sini," jelas Salman yang berbarengan dengan suara bel kembali berdering.
"Tolong dibuka, itu mungkin kurir yang nganterin ponsel aku," sambung Salman ketika melihat Anna yang bingung.
Anna pun beranjak dan segera membuka pintu. Benar saja kurir yang mengantarkan ponsel Salman sudah tiba.
"Kamu kok bisa nyuruh orang lain beli ponsel, emang gak pengin milih dulu," ucap Anna sambil menyerahkan paper bag berisi ponsel.
"Yang penting bisa dipakai berkomunikasi," sahut Salman seraya membuka kemasan ponselnya.
Anna yang selalu antusias dengan barang baru, dia membelalak ketika Salman menyerahkan ponsel baru padanya.
"Kamu pakai yang ini," ucap Salman sambil menyerahkan ponsel baru pada Anna.
"Aku sengaja beli dua, biar ponsel kita couple-an," jelas Salman.
"Ish ... penghamburan uang," cibir Anna.
"Anggap saja ini hadiah ulang tahun kamu, kan baru terlewat beberapa hari. Gak apa-apa, kan?" ucap Salman seraya menatap lekat gadis yang saat ini tengah duduk berdampingan dengannya.
"Happy birthday Zeanna. Aku bahagia punya kesempatan untuk mengucapkan secara langsung seperti ini," ucap Salman seraya mengusap pipi Anna.
__ADS_1
"Terima kasih," sahut Anna seraya meraih tangan Salman yang saat ini tengah mengusap pipinya.
Salman tersenyum dan entah punya keberanian dari mana, Salman perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah Anna.