Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Aku Makin Mencintaimu


__ADS_3

Anna terhenyak mendengar ucapan Salman yang seakan tahu isi kepalanya. Dia menunduk merasa malu karena apa yang sebenarnya dia rasakan sudah Salman ketahui tanpa harus dia bicara.


Anna memeluk Salman. Membenamkan wajahnya di dada suaminya itu seraya menarik napasnya panjang.


"Kamu kenapa bisa tahu jika aku sedang galau?" ucap Anna tanpa menunjukkan wajahnya. Dia terus memeluk suaminya seakan takut kehilangan.


"Aku mengenalmu sejak dulu, Zea. Meskipun lama kita tidak bertemu ... tapi aku masih mengenal baik sifatmu. Apalagi sekarang kamu sudah menjadi istriku ... setiap hari kita berinteraksi ... setiap hari kita saling mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan, sehingga aku tahu jika saat ini kami sedang tidak baik-baik saja," jelas Salman.


"Apa karena masalah anak?" tebak Salman langsung.


Anna melonggarkan pelukannya dan menatap ke arah suaminya.


"Aku merasa tertekan dengan keinginan ibu kamu, Mas. Aku takut jika ibumu kecewa karena aku tidak bisa memberikannya cucu dalam waktu yang cepat," ucap Anna lirih.


"Kenapa kamu harus memikirkan itu? Bahkan aku sudah menegaskan sama Ibu jika aku masih menginginkan masa-masa pacaran aku sama kamu dulu," jelas Salman.


"Tapi tetap saja, Ibumu pasti tidak akan suka jika aku terus-terusan menunda kehamilan aku," lanjut Anna.


"Kamu harus sabar dalam menghadapi orang tua, Zea. Orang tua kita kadang suka memaksakan kehendaknya pada anak-anak mereka karena pada siapa lagi mereka bergantung, kita sebagai anak jangan selalu menyikapi sikap atau tindakan orang tua kita itu dengan hati yang ruwet. Dinginkan kepala kita biar kita bisa berpikir dengan jernih," sahut Salman selalu mampu membuat Anna terenyuh.


"Aku tidak akan menuntut apa pun dari kamu, Zea. Bagiku ... dengan kamu mau menerima aku saja sudah sangat bersyukur ... aku tidak munafik jika aku ingin punya keturunan, tapi selama kita masih bisa melakukannya kapanpun kita mau ... ya aku cuma harus bersabar sampai pada akhirnya semua itu aku capai dan kamu ikhlas untuk menjadi ibu dari anak-anakku," sambung Salman.


"Jarak rumah kita jauh dengan Ibu, Sayang. Jadi, kamu tidak perlu khawatir karena pastinya ibu gak akan sering ke rumah kita," tegas Salman.


"Kamu tidak marah sama aku?" ucap Anna.


"Marah? Emang kamu punya salah apa?" sahut Salman sambil mencubit pipi Anna.


"Aku makin mencintaimu, Mas." Anna kembali memeluk suaminya.


"Kalau meluk-meluk kayak gini, aku jadinya suka kepengin lanjut," ucap Salman menggoda Anna.


Anna lagi-lagi melonggarkan pelukannya dan memicingkan matanya pada Salman.

__ADS_1


"Kan waktu itu kita gak jadi. Nah meskipun ini bukan malam pengantin kita, tapi ini malam pertama untuk kita, Sayang," bisik Salman.


"Ih ... ini masih siang," sahut Anna dengan senyum malu-malu.


"Kalau siang emang kenapa? Kan malam pertama itu gak selalu harus malam ... siang pertama juga boleh," lanjut Salman.


"Mas ... ih kamu tuh kalau untuk urusan yang begitu selalu saja banyak idenya," ucap Anna seraya tersenyum.


"Iyalah ... punya istri masih muda itu membuat stamina aku makin bugar karena service-nya benar-benar sempurna," bisik Salman lagi.


"Ih kamu tuh siang-siang gini udah ngegombal," keluh Anna seraya beranjak tapi ditahan oleh Salman.


"Udah deh jangan aneh-aneh ... mendingan istirahat," ucap Anna.


"Istirahatnya setelah dapat jatah aja. Please ... biar tidurnya nyenyak ... kan kalau udah kerja keras aku suka langsung tidur pulas," sahut Salman yang sudah mulai menggerayangi tubuh Anna.


Salman dengan begitu lincahnya membuat Anna bergelinjang. Dia sudah tidak canggung atau apapun juga karena mereka sudah sering melakukannya.


Salman memberikan sentuhan-sentuhan yang memabukkan hingga Anna dibuat melayang dan membalas setiap sentuhan Salman.


Salman menarik tubuh polos Anna ke dekapannya. Benar seperti apa yang dikatakan oleh Salman, setelah hasratnya tersalurkan sempurna dia pun langsung tidur dengan tubuh polos yang memeluk Anna dengan begitu erat.


***


Sore hari Salman mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia melihat Anna pun masih tidur dengan pulas dengan berbantalkan lengan dirinya.


"Rasanya masih seperti mimpi aku bisa meniduri anak dibawah umur ini," batin Salman tersenyum ketika membayangkan Anna ketika masih SMA.


"Aku jatuh cinta pada gadis labil yang ngatain aku dapat sim karena nembak, dan ternyata pesona gadis ini lah yang mengikat aku dengan rantai cintanya, aku terjerat dan terikat oleh rantai cinta kamu, Zeanna," batin Salman.


"Seandainya waktu bisa aku ulang ... rasanya waktu yang aku lewati tanpa kamu ingin aku pangkas hingga waktu 5 tahun itu ingin aku isi dengan melihat senyumanmu, rasanya baru kemarin aku mengenal kamu dan bertemu lagi ketika kamu menjelma jadi sosok gadis dewasa yang justru malah makin membuat aku jatuh cinta lagi, aku selalu jatuh cinta padamu, Zeanna." Salman mencium puncak kepala Anna.


Merasakan adanya pergerakan, Anna pun mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia melihat ke arah suaminya yang tengah tersenyum dan menatapnya.

__ADS_1


"Selamat sore, istriku tercinta," ucap Salman dengan senyum manisnya.


"Ish ... bangun tidur udah gombal," sahut Anna sambil mengumpulkan kesadarannya.


"Ayo, mandi!" ajak Salman sambil menyibakkan selimutnya dan langsung mengangkat tubuh Anna.


Anna yang sudah terbiasa pun dia hanya pasrah toh seluruh tubuhnya sudah terekspose sempurna ketika Salman menyempurnakan pernikahan mereka.


Salman dan Anna mandi secara normal, karena mengingat waktu sudah sore dan mereka merasa tidak enak karena tidurnya kelamaan.


"Mas, ini nanti kita turun Mami dan Papi gak bakalan curiga apa?" tanya Anna ketika memakai pakaiannya.


"Curiga kenapa?" sahut Salman santai.


"Kita turun dan rambut kita basah," bisik Anna.


"Haha ... gak apa-apa palingan Mami dan Papi tahu kalau anak dan menantunya udah ...." Salman menggantungkan ucapannya karena dia yakin jika Anna mengerti.


"Ish ... kamu tuh kalau aku ngomong selalu aja gak pernah ngasih solusi," keluh Anna.


"Meskipun mereka tahu, toh mereka gak akan protes karena kita melakukan sesuatu yang wajar, Sayang," lanjut Salman.


"Kamu tahu ... aku tuh masih serasa bermimpi," ucap Salman seraya memeluk Anna dari belakang.


"Kenapa?" sahut Anna.


"Jika berada di kota ini, aku masih merasa jika kamu itu anak SMA. Hahaha ... ternyata anak SMA-nya udah bisa aku tiduri," bisik Salman.


"Ish ... kirain apaan." Anna tersipu malu.


"Seandainya dulu aku berani mengajak kamu nikah ... mungkin saat itu aku benar-benar meniduri anak SMA," bisik Salman lagi.


"Hahaha ... kalau seperti itu artinya kita sama kayak Mami dan Papi, dulu Papi nikah sama Mami saat SMA kelas XII," jawab Anna.

__ADS_1


"Oh, ya ... kok bisa?" Salman mengerutkan keningnya karena baru tahu jika ibunya Anna nikah muda.


__ADS_2