Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Kita Tidak Sedekat Itu


__ADS_3

Anna tidak berani menatap ke arah Salman, sedangkan Salman, dia menelisik setiap jengkal yang ada pada tubuh Anna.


"Malam ini kamu seperti bintangnya, Zea. Kamu yang paling cantik di sini," batin Salman.


"Mari kita duduk," ajak Fais pada Vania dan juga Salman.


Mereka berempat duduk di meja bundar yang terdiri dari 4 kursi. Salman persis berada di depan Anna dan Fais berada di depan Vania.


Hati Anna bergemuruh ketika melihat Salman yang tidak pernah mengalihkan pandangannya dari dirinya. Anna mencoba untuk menatap Salman, tapi buru-buru dia membuang muka karena takut hatinya makin sakit hati.


Fais berbincang-bincang dengan Vania dan sekarang tiba waktunya untuk Fais dan juga Vania memberikan sambutan pada acara yang mereka susun.


Ketika Fais dan Vania maju ke depan. Ini dijadikan kesempatan oleh Salman untuk bicara dengan Anna.


"Zea," panggil Salman dan Anna menoleh dengan tatapan yang tidak seperti biasanya. Kali ini Salman merasakan tatapan Anna begitu dingin dan juga ketus.


"Malam ini kamu cantik," ucap Salman.


"Jangan memuji seperti itu. Aku tidak suka!" ketus Anna.


"Besok tunggu saya di taman, saya akan menjelaskan semuanya," sambung Salman.


"Menjelaskan apa? Di sini tidak ada yang perlu dijelaskan," sahut Anna dingin.


"Saya tahu apa yang kamu rasakan," lanjut Salman.


"Jadi orang tuh jangan sotoy," cibir Anna dengan ketus.


"Pokoknya saya tunggu kamu besok jam 7 pagi. Jika kamu tidak datang berarti saya yang akan datang ke rumah nenekmu," tegas Salman mengakhiri ucapannya, karena Vania dan Fais sudah kembali.


Selama acara berlangsung, baik Salman maupun Anna tidak ada lagi yang bicara. Mereka berdua menutup mulut mereka rapat-rapat.


Vania dan Fais masih terlibat dalam obrolan bisnis mereka. Anna yang kesal karena harus menunggu kakaknya ngobrol akhirnya Anna beranjak dari duduknya untuk mencari udara segar.


"Bang, aku di luar, ya," bisik Anna yang langsung diangguki oleh Fais.

__ADS_1


Anna berjalan keluar. Salman yang melihat Anna keluar rasanya ingin sekali mengekor Anna, tapi dia tidak bisa melakukannya, karena takut orang lain curiga.


Anna menghirup udara untuk mengisi pasokan oksigen pada paru-parunya. Rasa sesak karena menghadapi kenyataan Salman sudah beristri pun membuat Anna sesak napas.


"Apa yang aku lakukan selama ini? Kenapa aku begitu terbuai oleh perhatian suami orang. Aku yakin dia memang memberikan perhatian yang sama seperti pada yang lainnya, tapi aku ... aku yang kelewat baper hingga menyalah artikan perhatiannya," batin Anna bergemuruh.


"Tapi kalau misalkan dia tidak menyukai aku ... lalu untuk apa kita nonton bareng, bahkan dia berani untuk pegangan tangan dengan aku dan tadi pagi ... dia masih sempat meminta aku untuk memeluknya sambil berboncengan. Apa itu wajar?" batin Anna makin tidak karuan.


Emosi Anna memuncak, dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sesak di dadanya. Dia pun mengepalkan tangannya, karena hati kecilnya tiba-tiba merasakan jika Salman sengaja mengerjainya.


"Dia mungkin sengaja ingin mempermainkan aku," gerutu Anna dalam hati.


Cukup lama Anna berada di luar, hingga suara yang begitu terdengar lembut tapi menusuk ke hatinya terdengar di telinganya.


"Zea ... angin malam gak baik untuk tubuh. Ayo masuk!" ajak Salman yang entah punya keberanian dari mana mengajak Anna untuk masuk.


Anna hanya mendelik. Rasanya sangat sulit untuk bisa bersikap seperti biasa setelah dia tahu jika Salman beristri.


"Jangan lupa besok aku tunggu," bisik Salman ketika Anna melewatinya.


"Apa mereka satu angkatan? Tapi kok wajahnya ...." Anna menggantungkan gumamannya.


"Bang, masih lama gak? Aku pengin pulang," bisik Anna.


"Bentar lagi ... sabar, ya?" sahut Fais.


Anna mengerucutkan bibirnya. Salman yang melihat Anna seperti itu dia makin jatuh cinta, karena wajah Anna menggemaskan.


Sekitar pukul 10 malam acara selesai. Fais dan Anna pulang. Sebelum dia benar-benar naik ke dalam mobil Salman tersenyum ke arah Anna yang tidak Anna respon sama sekali.


***


Keesokan paginya, Fais ternyata harus ke luar kota untuk survey lapangan. Dia berangkat dengan Vania dan tentu itu memudahkan Salman untuk menghindar dari Vania.


Sesuai janji, Salman menunggu Anna jam 7 di taman. Salman terus celingukan, karena Anna tidak menunjukkan batang hidungnya.

__ADS_1


"Zea ... please ... datang," gumam Salman yang sudah sangat tidak sabar untuk segera menjelaskan apa yang terjadi pada Anna.


Salman terus menunggu hingga akhirnya sampai siang, Anna benar-benar tidak datang.


"Oke, Zea ... ini artinya kamu menantang aku untuk datang ke rumah nenekmu," batin Salman yang saat hendak berdiri dia melihat ada wanita yang sedang berjalan ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Anna.


"Zea, akhirnya kamu datang juga," ucap Salman dengan tersenyum.


"Maaf aku terlambat ... aku baru bangun," jelas Anna dengan ekspresi biasa.


Ya, Anna memang terlambat bangun karena semalam dia terus memikirkan apa yang akan dia katakan pada Salman. Dia terus memutar otaknya untuk mencari cara bagaimana harus bersikap pada Salman hingga subuh menjelang.


"Gak apa-apa, aku akan sabar menunggu," sahut Salman lembut.


"Bapak ngajakin aku ketemu ada apa, ya?" sambung Anna yang terasa ada jarak yang menjulang tinggi dengan Salman.


"Kenapa dia jadi kaku kayak gitu? Apa sebenarnya dia memang tidak punya perasaan apa-apa sama aku? Atau mungkin dia sedang mencoba untuk tidak marah.


"Saya mau menjelaskan perihal semalam," sahut Salman.


"Kenapa harus dijelaskan? Apa kepentingannya untuk aku?" sahut Anna enteng.


"Saya hanya tidak ingin kamu salah paham, Zea," tegas Salman.


"Untuk apa aku harus salah paham? Bapak ini kalau bicara suka muter-muter," cibir Anna.


"Oh jadi kamu tidak salah paham? Syukurlah," jawab Salman yang mulai terpancing emosinya.


"Hanya saja saya ingin mengatakan satu hal sama Bapak." Anna menghela napasnya panjang.


"Jangan pernah meminta aku untuk menemui Bapak lagi seperti sekarang, aku takut orang lain akan salah paham. Bapak sudah beristri dan saya tidak ingin orang lain beranggapan salah pada kita. Kita ketemu karena aku adalah murid Bapak, dan karena hal itu juga, kayaknya kita tidak perlu bertemu lagi," ucap Anna diplomatis.


"Tapi saya tidak bisa," tegas Salman.


Anna tersenyum miring. "Kenapa tidak bisa? toh kita tidak sedekat itu, Pak," cibir Anna.

__ADS_1


"Terserah kamu mau bilang apa pun juga, yang penting aku tidak bisa menghindar dan menjauhimu," tegas Salman.


__ADS_2