
Anna tersenyum. "Ya bisa lah, kayak kamu," jawab Anna seraya mengapit tangan suaminya untuk keluar dari kamar.
Melihat Anna dan Salman saling menggoda satu sama lain pun Alex tersenyum bahagia melihatnya. Putri bungsunya bisa tertawa dengan lepas seperti itu membuat Alex tenang jika rumah tangga anaknya itu baik-baik saja.
***
Pagi ini setelah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, Anna menarik selimut kembali. Rasanya matanya masih sepet dan malas untuk beraktivitas.
"Sayang ... bukannya kamu mau bantuin Mami bikin sarapan?" ucap Salman sambil mengusap-usap rambut Anna.
"Aku malas, Mas. Rasanya aku lagi gak kepengin ngapa-ngapain," sahut Anna cepat.
"Kok tumben ... biasanya kamu semangat. Padahal semalam kita gak kerja tapi kenapa pagi ini kamu terlihat lemas," sambung Salman.
"Malam sih enggak, tapi siang-siang," cibir Anna.
"Hahaha ... habisnya tiap aku lihat kamu, rasanya pengin lagi dan lagi," goda Salman.
"Udah deh jangan merayu aku kayak gitu, aku bener-bener lemes, Mas," jawab Anna cepat.
"Mas, perut aku kok gak enak gini, ya."
Anna terlihat seperti ingin muntah dan dia segera turun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Salman sambil memijat-mijat tengkuk Anna.
"Aku mual, Mas. Kayaknya aku masuk angin," sahut Anna sambil mengeluarkan isi perutnya yang hanya berupa cairan saja.
"Masih mual? Aku bakalan ke bawah ngambil teh hangat sama minyak gosok," sahut Salman.
Salman memapah Anna untuk kembali ke atas tempat tidur. Dia segera keluar dari kamarnya dan berlari ke bawah untuk menemui mertuanya.
"Mi, ada minyak gosok?" tanya Salman seraya mengambil gelas dan juga mengambil teh.
"Ada, bentar," sahut Raina sambil berjalan ke arah tempat penyimpanan kotak obat-obatan.
"Kamu lagi bikin apa," ucap Alex seraya menarik kursi meja makan.
"Bikin teh hangat, Pi. Zea mual-mual kayaknya masuk angin," jawab Salman.
"Apa? Mual-mual?" sahut Raina dari kejauhan.
"Iya, Mi. Makanya mau aku balur pakai minyak gosok," jelas Salman.
"Kayaknya bukan masuk angin deh. Biar Mami lihat," pungkas Raina seraya membawa minyak gosok.
__ADS_1
Salman yang sudah selesai membuat teh pun ikut ke atas yang disusul juga oleh Alex.
Pintu kamar Anna terbuka, dan Anna terlihat menahan mualnya sambil duduk di tepi kasur.
"Anna ... apa yang kamu rasakan, Sayang?" tanya Raina dan Salman membantu Anna untuk minum teh hangat dulu.
"Aku mual, masuk angin," jawab Anna.
"Kapan kamu haid terakhir?" sambung Raina yang spontan membuat Salman menatap Anna.
"Terakhir ...." Anna terlihat berpikir dan Salman pun ikut berpikir juga.
"Kayaknya bulan ini kamu belum, Sayang," ucap Salman.
"Kita periksa aja, mungkin kamu hamil," ucap Raina yang langsung digelengkan oleh Anna.
"Gak mungkin, Mi. Aku minum pil KB," jawab Anna keceplosan.
"Apa? Pil KB?" teriak Raina menggelegar.
"Kamu sengaja menunda punya anak, hah?" hardik Raina.
"Itu hanya sampai Zea menyelesaikan koasnya, Mi," jawab Salman membela.
"Kamu tuh ngapain nikah kalau gak pengin punya anak, bikin malu saja," cibir Raina.
"Kami sudah sepakat untuk menundanya, Mi. Lagian kita nikah baru 6 bulan, jadi masih baru juga, Mi," jawab Salman.
Anna tidak bisa bicara, dan Salman terus membela Anna. Anna jadi tahu, Salman membelanya bukan hanya di depan mertuanya saja, tapi pada orang tuanya pun dia tetap membela Anna.
Hoek ... hoek ... hoek ....
Anna lagi-lagi muntah, dan Alex langsung menghampiri putri bungsunya itu.
"Kita periksa, ya ... takutnya serius," ajak Alex.
Anna menoleh ke arah Salman dan Salman mengangguk.
"Mas, kamu jangan pakai parfum dong, baunya nyengat gini," ucap Anna sambil menutup hidungnya.
"Bukannya ini parfum kesukaan kamu?" sahut Salman seraya mengganti pakaiannya.
"Baunya gak enak," jawab Anna santai.
Anna pun bergelayut manja pada Salman sambil berjalan ke bawah. Perutnya lagi-lagi mual ketika mencium aroma masakan karena saat ini asisten rumah tangganya masih masak.
__ADS_1
"Kok baunya kayak gini?" ucap Anna sambil menutup hidung.
Raina dan Alex yang sudah siap untuk mengantar Anna ke dokter pun langsung bertukar pandang dan tersenyum.
"Tapi dia begitu yakin jika minum pil KB," ucap Raina.
"Kita periksa dulu aja, biar tidak menduga-duga," sahut Alex dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
Mereka berempat pergi ke sebuah klinik yang tidak jauh dari tempat tinggal orang tua Anna. Hanya perlu antre 15 menit akhirnya Anna sudah di panggil untuk pemeriksaan.
"Sepertinya istri Anda harus melakukan tes kehamilan dulu, saya ragu karena sepertinya sakitnya istri Anda karena hamil," ucap dokter yang seketika membuat Salman terkejut karena selama ini dia yakin jika Anna mengkonsumsi pil KB.
Salman pun mengantar Anna untuk masuk ke toilet. Dia tersenyum seraya mengusap kepala istrinya dengan hangat.
"Jangan tegang, ya ... semuanya akan baik-baik saja," ucap Salman.
"Tapi aku gak mungkin hamil, Mas," bisik Anna.
"Udah gak usah diperdebatkan, Sayang ... cek aja dulu, gak ada ruginya, kan?" sambung Salman.
"Aku hanya takut mengecewakan semua orang," lirih Anna.
"Gak akan, toh sebelumnya kita udah mengatakan yang sebenarnya." Salman terus meyakinkan Anna.
Meskipun di hati kecilnya dia sangat berharap jika ucapan dokter tadi adalah sebuah kenyataan, tapi dia pun tidak boleh langsung berharap banyak karena dia yakin istrinya sedang mengkonsumsi obat penunda kehamilan.
Tangan Anna bergetar ketika melihat dua garis yang muncul di alat tes kehamilannya. Lututnya terasa lemas ketika dia tahu arti dari dua garis tersebut.
Lama, cukup lama Anna berada di dalam kamar mandi sampai pada akhirnya Salman mengetuk pintu kamar mandinya.
"Sayang ... apa udah selesai?" tanya Salman sambil mengetuk.
Anna yang lemas karena belum percaya pun dia membuka pintu kamar mandi dan tiba-tiba saja tubuhnya hampir tumbang karena tidak bertenaga.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa semuanya baik-baik sa ...." Belum tuntas Salman bertanya, Anna sudah menunjukkan alat tes kehamilannya.
"Sayang ... kamu ... kita ... akan jadi orang tua?" ucap Salman dengan perasaan campur aduk, antara bahagia dan juga sedih karena melihat Anna yang sepertinya tidak mengharapkan kehamilannya.
"Maafkan aku ... maafkan aku," lirih Salman seraya memeluk Anna.
Air mata Anna lolos begitu saja ketika mendengar ucapan maaf tulus dari Salman. Dia tidak mengerti kenapa dia bisa hamil sedangkan dia sedang mengkonsumsi pil KB.
"Bagaimana?" Raina yang ikut masuk pun begitu antusias.
Senyumnya merekah ketika melihat dua garis di alat tes kehamilan yang digunakan oleh Anna.
__ADS_1
"Ternyata benar, Pi. Anna hamil sesuai dugaan aku," ucap Raina girang.
"Benarkah? Selamat, Sayang?" ucap Alex tersenyum tapi senyum itu perlahan memudar ketika melihat ekspresi sang putri seperti tidak bahagia dengan kabar kehamilannya.