Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Sah


__ADS_3

Hari yang di nanti-nantikan oleh Salman akhirnya tiba. Hari ini jika tidak ada aral melintang, Salman akan mengikrarkan ijab kabul untuk wanita yang dia cintai sejak hampir 6 tahun lamanya.


Salman yang setelah kembali ke kota Y, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Anna, karena mereka harus melalui tradisi pingitan. Meskipun demikian, baik Anna ataupun Salman mengikuti adat itu dengan sukarela hingga sampau hari ini tepat 14 hari mereka tidak bertemu dan menahan diri untuk saling berkomunikasi.


Salman telah datang dengan didampingi oleh keluarga besarnya. Bahkan pihak sekolah tempat Salman dulu mengajar pun turut jadi bagian dari keluarga besar Salman.


Tidak pernah ada yang mengira jika Salman akan berjodoh dengan siswi pintar yang selalu jadi juara umum di sekolah. Mereka kaget karena ternyata pernikahan yang dianggap kilat tapi persiapannya begitu sempurna.


Sementara itu acara penerimaan dan pengantar pernikahan sudah digelar. Anna masih duduk di ruangan tempat dirinya di rias oleh tim penata rias. Sesekali Anna menarik napasnya panjang karena gugup dengan pernikahannya ini.


"Silahkan pengantin wanitanya dibawa keluar," ucap MC yang menjadi pembawa acara di pernikahan Anna.


Anna dengan dibantu oleh Anita dan Amara, sahabat mereka ketika SMA berjalan dengan begitu anggun menuju tempat di mana akan diadakannya proses ijab kabul.


Salman yang melihat calon istrinya berbalut kebaya modern putih dengan riasan pengantin yang begitu indah di mata Salman.


"Zeanna ... sungguh kamu wanita yang paling cantik yang pernah aku lihat," batin Salman ketika memindai semua yang ada pada tubuh Anna.


Anna melirik ke arah Salman yang saat ini sudah duduk di salah satu kursi yang akan berdampingan dengannya. Anna tersenyum yang disambut senyum hangat juga oleh Salman.


"Dua minggu gak ketemu, kamu makin cantik," bisik Salman ketika Anna duduk di sampingnya.


Anna hanya tersenyum, rasanya sungguh sangat gugup untuk hanya sekedar menjawab gombalan calon suaminya itu.


Acara ijab kabul pun dimulai, dengan satu tarikan napas, Salman dengan begitu lantang mengucapkan ijab kabul pada ayahnya Anna yang saat ini tengah menikahkannya.


"Bagaimana saksi?"


"Sah," serempak semua orang mengucapkan satu kata yang mengubah status Anna dan Salman menjadi pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan juga agama.


Anna tersenyum kemudian mencium punggung tangan suaminya. Dia bahagia bahkan saat ini rasanya dunia hanya miliknya dengan Salman.


Salman pun tersenyum bahagia dan bahkan saking rindunya pada Anna, dia bukan hanya sekedar mencium kening Anna, tapi dia memeluk Anna dengan begitu hangat hingga mendapatkan teriakan dari orang-orang.


"Maaf, aku lupa," ucap Salman seraya tersenyum dan Anna pun tersenyum.


"Hari ini kadar kecantikanmu berlipat-lipat ganda," bisik Salman ketika mereka sedang mengambil fose foto pernikahan.


"Dua minggu gak ketemu aku lihat kamu sama aja," sahut Anna sambil menahan senyumnya.


"Gak ada yang berubah?" sahut Salman.

__ADS_1


"Ada," jawab Anna pendek.


"Apa?" Salman penasaran.


"Kamu jadi suami aku," jawab Anna sambil tersenyum dan Salman langsung tersenyum juga.


"Wah, Pak Salman kok gak bilang-bilang sama kita kalau pacaran sama Anna. Waktu di sekolah dulu kita gak lihat kalian jalan bareng," ucap Anita dan Amara ketika mereka memberikan ucapan selamat.


"Kita baru ketemu satu tahun kebelakang," sahut Salman menutupi apa yang terjadi takutnya orang lain salah paham pada Anna.


Acara resepsi pernikahan selesai pada pukul 3 sore. Saat ini Anna sudah berada di ruang ganti gedung pernikahan dan sedang memijat-mijat kakinya yang pegal akibat berdiri terus-terusan.


"Pegal?" tanya Salman sambil ikut memijat kaki Anna.


"Iya, aku mau langsung pulang aja ... pengin rebahan ... capek," sahut Anna mengeluh.


"Ayo, aku bantu berdiri." Salman membantu Anna untuk berdiri dan membereskan barang-barang Anna.


"Anna ... barang-barangnya biar nanti Bibi aja yang beresin," ucap Raina ketika melihat Anna yang sudah keluar dari ruang ganti.


"Iya, Mi. Aku mau pulang ... kaki aku udah pegel," jawab Anna.


"Iya," pungkas Anna seraya berjalan beriringan dengan Salman.


"Ibu udah pulang atau masih di hotel?" tanya Anna.


"Sepertinya masih di hotel. Mereka ngambil penerbangan malam," jawab Salman.


"Kalian udah mau balik?" tanya Fais.


"Iya, Bang. Tadi Mami bilang kita ikut pulang sama Abang," jawab Anna.


"Ayo!" ajak Fais yang masih belum bersikap ramah pada Salman tapi tidak juga membenci.


Sepanjang perjalanan Anna hanya banyak mengeluh dengan kakinya yang pegal dan kepalanya yang pusing akibat sanggulnya.


"Sabar, ya ... semuanya udah lewat," ucap Salman menyahuti keluhan Anna.


Anna yang sudah terbiasa bermesraan dengan Salman. Tanpa rasa canggung dia pun melingkarkan tangannya di pinggang Salman sambil menyandarkan kepalanya di bahu Salman.


"Ada Bang Fais," bisik Salman yang masih merasa canggung untuk bermesraan di depan orang lain.

__ADS_1


Anna yang baru sadar akan adanya sosok Fais, dia buru-buru mengubah posisi duduknya dan lebih memilih menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi jok mobil.


Sampai di rumah, Anna langsung mengajak Salman ke kamarnya.


Ini adalah untuk pertama kalinya Salman menginjakkan kakinya di kamar Anna. Salman tersenyum karena semua ini masih terasa mimpi untuknya.


"Mas, bantuin lepasin sanggul aku," ucap Anna seraya mencoba melepaskan pengait jepit rambut yang menempel di kepalanya.


Dengan senang hati, Salaman membantu Anna hingga akhirnya semua yang ada di rambut Anna terlepas.


"Ah ... leganya," ucap Anna ketika Salman berhasil melepas sanggul rambutnya.


"Sini aku bersihkan sekalian makeup-nya," ucap Salman seraya mengambil pembersih makeup Anna.


Anna dan Salman berkolaborasi membersihkan semua makeup yang menempel di wajah Anna. Dan bersamaan dengan itu pintu kamar Anna diketuk dari luar.


"Masuk," teriak Anna.


"Mami," ucap Anna sambil menyapa ibunya yang datang ke kamar.


"Kirain belum dilepas, ternyata udah beres," ucap Raina yang awalnya ingin membantu Anna melepaskan sanggul.


"Udah, Mi. Aku udah gak kuat pusing," jawab Anna.


"Kalian mandi aja dulu, setelah itu kita makan malam bersama," pungkas Raina seraya menutup pintu kamar Anna.


"Rasanya aku gak kuat kalau harus turun ke bawah lagi," keluh Anna.


"Gak boleh gitu, kita nanti turun aja," jawan Salman.


Anna mengangguk dan kembali melanjutkan acara membersihkan semua makeup-nya.


"Kayak gini makin cantik lagi," ucap Salman ketika semua makeup sudah berhasil dia bersihkan.


"Ish gombal," sahut Anna malu-malu.


"Malam ini langsung, ya? Gak usah kayak novel-novel yang harus nunggu berbulan-bulan," bisik Salman menggoda.


"Ih kamu tuh terlalu to the point, untung aja aku udah dewasa," sahut Anna tertawa.


"Kalau belum dewasa gak mungkin aku ajak nikah," goda Salman.

__ADS_1


__ADS_2