
Salman yang saat itu melihat Anna di tarik oleh Adit, dia hanya mampu menatapnya nanar tanpa bisa melakukan apa-apa. Namun, ketika melihat Anna yang ditarik bukan untuk masuk ke kelas, Salman pun langsung mengernyitkan dahinya, tatkala wanita yang sudah berhasil masuk ke hatinya itu malah dibawa ke belakang sekolah.
"Mereka mau kemana?" batin Salman.
Diam-diam Salman mengikuti Adit, dan alangkah terkejutnya ketika mendengar percakapan Adit dan Anna. Salman tidak menyangka jika murid seperti Adit rela melakukan apa pun untuk supaya bisa melakukan adegan yang dianggap tidak seharusnya mereka lakukan di sekolah.
Bagi anak jaman sekarang, pegangan tangan ataupun ciuman sudah seperti hal yang biasa untuk dilakukan ketika pacaran, tetapi ketika salah satu pasangannya tidak menginginkannya maka jangan memaksakan kehendak kita sendiri, sebab itu semua harus dilakukan atas dasar suka sama suka dan bukan atas dasar pemaksaan.
Salman hampir saja akan menghentikan Adit yang kala itu sudah mengunci pergerakan Anna. Namun, sungguh tidak pernah Salman sangka jika ternyata Anna mampu lolos dari Adit. Senyum Salman tiba-tiba merekah ketika gadis pujaan hatinya masih belum tersentuh oleh siapapun, dia berharap hanya dia yang akan bisa menyentuhnya.
Senyum Salman tak lama memudar ketika melihat Adit yang justru balik mengejar Anna, dengan kewenangan dia sebagai seorang guru, Salman berusaha untuk mencegah Adit agar tidak melakukan hal-hal yang tidak senonoh di sekolah.
"Kamu bisa saja dikeluarkan dari sekolah karena berusaha melecehkan siswi di sekolah ini," tegas Salman sambil menahan tangan Adit dengan cengkeramannya.
"Bapak jangan salah paham, saya tidak bermaksud melecehkan dia, saya hanya ingin meminta hak saya sebagai seorang pacar," sahut Adit berusaha untuk lepas dari Salman.
"Mana ada hak pacar yang seperti itu! Dengarkan saya baik-baik ... jika kamu melakukan hal ini sekali lagi, maka saya akan melaporkan kamu ke pihak sekolah atas tuduhan pelecehan terhadap salah satu siswi di sini. Saya punya bukti yang tidak bisa kamu sangkal, bahkan dengan menunjukkan bukti ini pada orang tuanya, maka secara otomatis kamu akan dilaporkan ke pihak berwajib atas tuduhan yang sudah saya ucapkan tadi." Salman terpaksa memberikan Adit ancaman seperti itu berharap Adit tidak mendekati Anna lagi.
"Kamu sudah 18 tahun, artinya proses hukum sudah bisa dijatuhkan padamu. Kamu tinggal pilih saja, mau bebas atau mau terkurung di tempat yang dihindari oleh semua orang," tegas Salman sambil melepaskan cengkeramannya.
Salman meninggalkan Adit yang sekarang tampak bingung. Adit hanya diam mematung, merutuki dirinya sendiri yang malah meminta ciuman secara paksa pada Anna.
"Semua ini gara-gara si Ferdy yang meresahkan hati gue," rutuk Adit dalam hatinya.
__ADS_1
Salman sudah merasa sedikit lega ketika melihat Anna yang sekarang sudah masuk ke kelasnya. Salman tidak tega ketika melihat Anna yang tadi begitu ketakutan saat diperlakukan oleh Adit. Rasanya ingin sekali dia memeluknya untuk bisa menenangkan hatinya.
[Hati-hati ketika berhadapan dengan lawan jenis. Tadi saya melihat kamu di tarik oleh pacarmu, saya harap itu bukan jadi masalah.]
Rasanya Salman ingin sekali mengirimkan pesan tersebut pada Anna, tetapi dia tidak ingin jika Anna mengetahui jika Salman mengetahui aibnya tadi. Salman memilih menghapus kembali pesan yang sudah dia ketik, dan hanya mampu berharap jika Anna akan baik-baik saja.
Sementara itu, Anna yang tadi hampir saja kecolongan akan ciuman pertamanya, dia jadi sedikit takut oleh sikap Adit yang sungguh liar seperti tadi.
Anna takut jika sewaktu-waktu Adit akan melakukan lebih daripada sekedar ciuman.
"Aku harus segera mengakhiri semuanya. Aku tidak ingin jika karena status aku sebagai pacar bisa dijadikan alasan oleh dia untuk melakukan hal-hal yang dia inginkan," batin Anna.
"Pantesan aja, Papi merasa tidak suka dengan Adit, padahal Papi baru pertama kali melihat Adit. Insting orang tua memang tidak perlu diragukan lagi." Anna terus membatin hingga akhirnya dia sadar jika selama empat jam pelajaran dia hanya sibuk melamun dan memikirkan tentang kejadian tadi pagi dengan Adit.
"Adit," gumam Anna saat melihat Adit datang yang disoraki oleh teman-temannya.
"Na ... ikut aku, yuk!" seru Adit. Jangan lupa, sekarang dia manggilnya bukan lo-gue lagi.
"Maaf, aku mau ikut anak-anak yang lainnya ke kantin," tolak Anna cepat, tetapi Adit berhasil meraih tangan Anna dan menahannya.
"Please ... ikut aku," ucap Adit dengan memelas.
"Jangan seperti ini, Dit. Aku bilang enggak, ya, enggak. Aku gak suka dipaksa," teriak Anna dengan kilatan amarah sungguh jelas mengukir di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Aku cuma ingin meng-clear-kan masalah yang tadi pagi, please," sambung Adit tetap memohon.
"Oke ... selagi kamu membahasnya, aku tegasin ini sama kamu." Anna menarik napasnya panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Aku ingin kita putus, aku sudah tidak punya perasaan apa pun sama kamu. Asal kamu tahu, kelakuan kamu tadi pagi membuat semua rasa yang ada di hati aku hilang dalam sekejap. Aku kecewa sama kamu," tegas Anna dengan posisi tangan masih digenggam oleh Adit.
"Aku tidak ingin kita putus," sahut Adit cepat.
"Sorry, aku maunya putus. Aku gak nyangka ternyata kamu berani melecehkan aku kayak tadi. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau lagi kenal sama kamu." Anna menekankan setiap ucapannya berharap Adit akan paham.
Sebenarnya tadi ketika Salman menghadang Adit, Anna mendengarnya dengan jelas. Anna yang merasa ada seseorang yang mengikutinya, dia berbalik memutar tubuhnya dan tidak di sengaja, Anna malah kembali lagi dan melihat apa yang sedang Salman lakukan pada Adit.
Hati Anna sungguh tersentuh oleh kedatangan Salman yang menghalangi Adit. Dia tahu jika tadi Salman melihatnya sedang di tarik oleh Adit, tetapi tidak menyangka jika Salman juga akan mengikutinya.
"Pokoknya aku tidak ingin putus," tegas Adit.
"Terserah kamu saja. Yang penting mulai hari ini aku sudah tidak menganggap kamu lagi," tegas Anna sambil menghempaskan tangan Adit dan berlari keluar kelas, sebab sekarang hanya ada dia dan Adit saja di kelas.
Adit lari mengejar Anna. "Anna aku tidak akan melepaskan kamu, aku tidak ingin kita putus," hardik Adit yang kembali berhasil meraih tangan Anna.
Anna berusaha untuk melepaskan secara paksa tangannya yang kembali digenggam oleh Adit, dia sungguh takut jika kejadian tadi pagi akan terulang lagi.
"Lepaskan tanganmu dari Zeanna," ucap Salman dengan rahang yang kembali mengeras karena melihat Adit yang tidak mengindahkan ucapannya tadi pagi.
__ADS_1