Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Jangan Bertanya Kenapa


__ADS_3

Pulang dari bioskop, Anna dan kedua temannya melanjutkan kembali hang out-nya. Mereka seakan tidak main berabad-abad, karena saat ini masih saja ada topik yang mereka bahas.


"Na, sebenarnya kamu sama si Adit itu kenapa? Aku jadi gak tega loh lihat si Adit yang terus-terusan berusaha untuk mengejar kamu. Apa kamu gak bisa memaafkannya?" ucap Anita penasaran.


Anna memilih memainkan sedotannya dan otaknya benar-benar tidak bisa terlepas dari Salman. Pesan terakhir Salman sungguh membuat Anna kecewa, karena sejatinya Anna masih ingin bertukar pesan dengan Salman.


"Na, kamu mikirin apa sih? Orang ngomong gak di sahutin," ucap Amara.


"Hah? Apa? Sorry ... kamu ngomong apa?" sahut Anna yang baru sadar ketika Amara menepuk bahunya.


"Kamu melamun? Gak biasanya kamu kayak gini?" sambung Amara.


"Ini efek UAS ... otak aku masih belum kembali ke habitatnya," jelas Anna sekenanya.


"Gila ... gara-gara UAS otak kamu jadi korslet," cibir Anita sambil tertawa puas.


"Balik, yuk!" ajak Anna kemudian.


Entah kenapa Anna ingin sekali segera pulang ke rumah. Rebahan sambil bermain ponsel dan bertukar pesan dengan Salman sungguh membuat hatinya bahagia.


"Gak asyik," keluh Anita.


"Mami tadi udah me-warning aku untuk tidak pulang telat. Lagian aku harus sudah siap-siap untuk liburan," jelas Anna.


"Masih ada waktu seminggu lagi, Na," protes Amara.


"Tenang, kita masih punya banyak waktu untuk hang out. Kali ini sampai sini, ya ... aku benar-benar takut Mami aku murka."


Anna sengaja menjadikan sang Mami sebagai alasan supaya Anita dam Amara percaya. Padahal sesungguhnya dia merasa bosan, karena pikirannya sudah dipenuhi oleh Salman.


Mereka bertiga pun akhirnya menyudahi acara petualangannya kali ini. Saat ini jam menunjukkan tepat pukul 6 sore dan Anna langsung melesat membelah ramainya jalanan, karena bertepatan dengan banyaknya para karyawan yang baru pada pulang dari rutinitasnya.


Sampai di rumah, Anna langsung masuk ke kamar dan Raina tersenyum senang, karena melihat putrinya yang sebelum jam 7 malam pun sudah tiba di rumah.


"Tumben itu anak pulang cepat, takut kali, ya ... takut gak dibelikan tiket pesawat," batin Raina yang melihat putrinya pulang lebih cepat dari batas waktu yang dia beri.

__ADS_1


Sampai di kamar, Anna langsung membersihkan dirinya dan segera naik ke atas tempat tidur setelah semua ritualnya selesai, Anna membuka ponselnya dan matanya membelalak ketika melihat ada pesan masuk dari Salman.


Melihat nama Salman, senyum Anna merekah dan entah kenapa hatinya jadi deg-degan, gugup ketika akan membuka pesan yang Salman kirim.


"Aduh, Anna ... ada apa dengan hatimu," gumam Anna seraya menarik napasnya panjang dan perlahan membuka pesan yang Salman kirim.


[Sudah pulang atau masih di luar?]


Sebaris pesan singkat yang Salman kirim mampu membuat Anna senang, karena perhatian Salman.


[Aku udah pulang, ini juga baru selesai mandi.]


Entah kenapa Anna seolah ingin mengumumkan jika dia saat ini tengah santai dan siap untuk berbalas pesan dengan Salman.


[Syukurlah ... saya cuma ingin memastikan jika kamu baik-baik saja. Anak gadis jangan sering pulang malam-malam ... nanti di gondol kalong wewe.] Tulis salman lagi.


[Kalau cuma kalong wewe gak masalah, aku gak takut.] Tulis Anna sambil cekikikan.


[Hahaha ... saya baru tahu kalau kamu pemberani, rasanya pengin saya buktikan langsung.] Salman menantang Anna yang dia sendiri entah kenapa merasa sangat ingin menggoda Anna.


[Jika saatnya tiba dan semuanya mendukung, pasti akan saya buktikan, begitu juga saya menunggu pembuktian dari ucapan kamu.]


Anna yang membaca pesan terakhir Salman, rasanya begitu ambigu. Dia tidak paham dengan apa maksud Salaman yang tersirat itu.


Lama Anna tidak menjawab pesan dari Salman hingga akhirnya Salman menghubungi Anna lewat panggilan telepon.


"Kenapa gak dibalas lagi?" tanya Salman ketika panggilannya sudah dijawab oleh Anna.


"Ini lagi ngetik, tapi keburu Bapak nelepon," jawab Anna bohong padahal Anna bingung.


"Jangan bertanya kenapa karena saya tidak bisa menjawabnya. Tunggulah sampai waktunya tiba pasti akan saya jelaskan," sambung Salman yang lagi-lagi menyuruh Anna untuk tidak bertanya.


"Bapak curang," keluh Anna.


Salman yang sedang menelepon pun membayangkan wajah Anna yang saat ini mungkin sedang merajuk. Dan yang lebih parahnya lagi Salman membayangkan jika saat ini dia tengah menggoda Anna dan membujuk Anna sambil membelai rambut hitamnya.

__ADS_1


"Hehe ... maafkan saya, Zea," ucap Salman yang diakhiri dengan kekehan kecil di bibirnya.


"Nontonnya gimana seru? Matanya ditutup lagi gak?" tanya Salman mengalihkan topik pembicaraan.


"Boro-boro seru yang ada si Adit ngerecokin mulu. Kesel jadinya," sahut Anna yang entah kenapa dia malah menceritakan hal yang seharusnya tidak dia ceritakan.


"Oh tadi kamu nonton bareng Adit? Hati-hati loh kalau nonton sama mantan pacar bisa-bisa adegan yang di film minta dipraktekkan," sahut Salman kesal, karena ternyata Anna pergi nonton dengan Adit.


Cemburu. Ya, Salman cemburu melihat wanita yang dia cintai dekat dengan laki-laki lain. Dia tidak ingin jika ada laki-laki lain yang menyentuh Anna, padahal dia sendiri pun belum tentu bisa mendapatkan Anna, karena statusnya sebagai pria beristri.


"Aku awalnya bertiga, eh pas lagi makan dia tiba-tiba aja muncul di hadapan aku, kayak jelangkung. Makanya aku sebel. Nonton kali ini benar-benar gak dapat apa-apa, cuma kesel doang," lanjut Anna.


"Kalau nonton sama saya gimana?" sahut Salman yang malah membuat Anna gelagapan, karena harus menjawab pertanyaan gurunya itu.


"Gimana, ya? Hayo tebak," goda Anna yang tidak mungkin dia berterus terang jika dia sangat menikmati acara nontonnya dengan Salman.


"Pasti kamu senang. Tebakan aku benar, kan?" tebak Salman yang langsung kena sasaran.


Namun, bukan juga Anna jika dia tidak bisa mengelaknya.


"Kalau Bapak?" tanya Anna dengan begitu berani.


"Saya senang bahkan ingin mengajak kamu nonton lagi. Bagaimana? Bisa?" jujur Salman yang justru malah balik bertanya pada Anna.


"Aku pikir-pikir dulu, ya," jawab Anna gengsi.


Anna tidak mungkin langsung mengatakan iya sebagai persetujuannya menonton dengan Salman lagi. Dia masih merasa gengsi jika harus to the point menerima ajakan dari Salman itu.


"Kalau ada waktu bagaimana kalau besok pagi?" tawar Salman yang spontan membuat Anna bahagia dan tersenyum di balik teleponnya.


"Aku gak janji, ya. Tapi akan aku usahakan kalau Bapak maksa terus," jawab Anna sok jaim padahal dalam hati dia sudah sangat setuju untuk keluar nonton dengan Salman.


"Oke ... aku tunggu di halte jam 9 pagi. Jika sampai jam 10 kamu gak datang, itu artinya saya harus nonton sendiri."


Salman tertawa, karena dia niat banget ingin nonton lagi dengan Anna.

__ADS_1


__ADS_2