Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Hadiah Istimewa dari Salman


__ADS_3

Hari demi hari terus bergulir dengan begitu cepat. Seminggu sudah dari acara nonton terakhir kali Anna dengan Salman.


Setelah ungkapan Anna yang seolah-olah memberikan harapan dan motivasi untuk Salman, dia tidak pernah absen untuk hanya sekedar mengucapkan selamat malam pada wanita yang saat ini sudah benar-benar mengobrak-abrik hatinya itu.


Sesuai dengan janji yang pernah Salman ucapkan waktu itu, dia akan memberi hadiah jika Anna mendapatkan nilai terbaik di kelasnya. Hari ini terbukti sudah jika Anna memang yang terbaik dan kali ini dia menjadi juara umum dari tingkatan kelasnya.


Ya, Hari ini adalah acara pembagian raport akhir semester. Setelah ini Anna akan libur selama dua minggu lamanya dan selama itu Anna sudah membuat rencana untuk menghabiskan liburannya kali ini di tempat nenek dan kakeknya yang secara otomatis ada kakaknya juga.


[Selamat, Zea ... selepas pulang sekolah saya tunggu di taman biasa, ya]


Sebaris pesan yang Salman kirim membuat Anna tersenyum dan dengan begitu semangat menulis balasan pesan untuk Salman.


[Oke.]


Balasan pesan Anna singkat dan begitu jelas sekali.


Salman tersenyum dan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia berangkat lebih awal, karena tidak ingin membuat Anna menunggu.


Begitu juga dengan Anna. Dia pun langsung berangkat ke taman setelah menerima raport.


Sepanjang perjalanan, Anna terus-terusan senyum sendiri, karena tantangan yang diberikan oleh Salman bisa dia tuntaskan dengan sempurna.


Salman sudah seperti anak ABG yang akan janjian dengan pacarnya. Kali ini dia benar-benar gugup akan bertemu dengan Anna, entah kenapa dia jadi seperti ini.


"Wah, kirain Bapak belum datang," ucap Anna ketika melihat Salman yang sudah duduk menunggu dirinya.


"Saya tidak mungkin membuatmu menunggu karena saya yakin setelah ini kamu pasti bakalan packing untuk keberangkatan besok," sahut Salman yang seolah-olah ingin mengucapkan dulu selamat jalan sebelum Anna pergi berlibur.


"Bapak udah kayak paranormal aja," goda Anna yang memilih untuk duduk di samping Salman.

__ADS_1


Salman mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh dirinya.


"Ini hadiah karena kamu sudah jadi yang terbaik," ucap Salman seraya meraih tangan Anna dan meletakkan kotak yang dia pegang ke tangan Anna.


"Seriusan Bapak ngasih hadiah untuk aku? Jangan bikin aku senang dong, Pak," sahut Anna dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya.


"Ish, kirain apa ... dasar kamu tuh emang paling jago kalau bicara," sahut Salman dengan tersenyum.


"Tapi ... gak bakalan apa-apa kalau aku nerima hadiah Bapak? Maksud aku ...." Belum juga Anna menyelesaikan ucapannya, Salman sudah lebih dulu menyelanya.


"Gak akan ada yang marah. Jadi, kamu tenang saja," tegas Salman.


Anna tersenyum seraya menutup mulutnya dengan tangan yang sebelahnya lagi.


"Ini boleh aku buka sekarang, gak?" tanya Anna yang penasaran dengan isi kado Salman.


"Tentu, buka aja," jawab Salman santai.


"Bapak ... apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Anna yang dia tahu harga jam tangan yang diberikan Salman padanya tidak murah.


"Itu sebanding dengan prestasi yang sudah kamu dapat, Zea. Saya harap kamu memakainya dan jangan pernah lupa waktu," sahut Salman sambil tersenyum.


Salman awalnya ingin membelikan Anna perhiasan, tapi dia masih ragu takut Anna bertanya kenapa harus memberi cincin atau kalung, jika saja Salman berani mengatakan yang sebenarnya sudah sangat pasti dia tinggal bilang jika dia cinta sama Anna, tapi untuk saat ini dia tidak ingin gegabah dulu, dia masih ingin menikmati proses pendekatan yang alamiah pada Anna sampai akhirnya nanti tiba pada waktunya apakah Salman maju atau mundur.


"Daebak ... ini kok bisa langsung pas gini, Pak?" tanya Anna ketika mencoba jam tangannya.


"Lingkar tanganmu segini, kan?" Salman melingkarkan jari-jari tangannya ke pergelangan tangan Anna dan menunjukkannya.


"Oh ... jadi ini alasannya kenapa Bapak selalu bilang jangan pernah tanya kenapa ketika Bapak pegang tangan aku," tebak Anna yang justru bukan itu yang Salman maksud.

__ADS_1


"Bukan Zea." Ingin sekali Salman mengatakannya seperti itu, tapi dia tidak mungkin gegabah.


"Menurutmu?" Salman malah balik bertanya dan Anna hanya mengerucutkan bibirnya saja.


"Ya, udah ... sekarang kamu boleh pulang. Hati-hati di jalannya dan selamat berlibur," pungkas Salman seraya berdiri.


"Terima kasih hadiahnya, Pak. Bapak juga selamat berlibur ... have fun," sahut Anna seraya meraih tangan Salman dan mencium punggung tangannya.


Salman menatap punggung Anna yang perlahan mulai menjauh. Dia masih bingung dengan liburannya kali ini. Tidak mungkin Salman tidak pulang ke rumah ibunya, karena istrinya dan juga ibunya sudah sangat tahu jika saat ini Salman tengah libur panjang.


"Huh ... setelah pulang nanti apakah aku masih punya kesempatan untuk tetap seperti ini, Zea. Aku bingung karena takut istriku meminta aku untuk melakukan kewajibanku sebagai seorang suami. Aku tidak mungkin menyentuhnya selagi hati aku hanya milik kamu," batin Salman.


Salman tidak pernah bertanya kemana Anna akan pergi berlibur. Dia melupakan hal itu yang dia ingat jika Anna akan berlibur ke tempat Kakaknya dan itu Salman tidak tahu alamat jelasnya di mana.


Sementara itu, Anna yang sekarang sudah tiba di rumah, dia begitu antusias menunjukkan hadiah yang sudah dia dapatkan dari gurunya itu.


"Anna ... guru kamu itu perempuan atau laki-laki?" selidik Raina yang merasa jika perlakuan guru Anna tersebut berlebihan.


"Laki-laki, Mi ... Pak Salman, guru Matematika aku," jelas Anna.


"Apa setiap murid yang berprestasi selalu dia kasih hadiah?" sambung Raina.


"Gak tahu, cuma waktu itu dia pernah nantangin aku ... dan aku bisa membuktikan jika aku pasti bisa dapetin nilai matematika dengan sempurna," jelas Anna bangga sambil mengambil jam tangan dari tangan maminya.


Anna segera naik ke atas untuk packing pakaiannya. Anna anak yang jujur sehingga Anna tidak mungkin menyembunyikan hadiah yang jelas-jelas harganya mahal dari kedua orang tuanya. Kalau disembunyikan bisa-bisa nanti maminya curiga Anna dapat jam tangan mahal dari mana.


"Kenapa, Mi?" tanya Alex ketika melihat istrinya yang tampak bingung.


"Mami merasa ada yang aneh, Pi. Masa guru matematika gara-gara Anna bisa dapat nilai bagus pakai ngasih hadiah mahal segala," jelas Raina.

__ADS_1


"Ya bisa aja, Mi. Gurunya Anna mungkin merasa puas karena cara penyampaiannya berhasil dengan dibuktikan oleh Anna yang dapat nilai sempurna," sahut Alex yang masih berpositif thinking.


"Apa mungkin guru laki-laki akan sebaik ini? Atau apa mungkin guru matematika Anna menyukai Anna? Ah masa iya si Anna, kan anaknya iseng ... gak mungkin gurunya bakalan suka," batin Raina.


__ADS_2