Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Istirahat lah


__ADS_3

Anna dan Salman sudah membersihkan badan mereka. Mereka pun keluar dari kamar untuk makan malam bersama.


"Kirain belum pada turun," ucap Raina ketika melihat Anna dan Salman yang hendak menuruni anak tangga.


"Mami tadinya mau manggil kalian," lanjut Raina.


"Maaf, Mi. Ini nih Zea mandinya lama," sahut Salman dengan tersenyum.


"Ya lama lah ... ini rambut susah banget aku bersihin," jelas Anna sambil mendelik.


"Tapi udah bersih, kan?" tanya Raina.


"Udah," jawab Anna cepat.


Ketika masuk ke ruang makan sudah ada Alex, Fais dan juga istri Fais. Anna duduk persis di sebelah Salman dan membantu mengambilkan nasi untuk Salman.


Alex dan Raina menatap ke arah putrinya yang tampak biasa menyiapkan makanan untuk Salman dan seolah sudah tahu apa yang Salman makan dan berapa porsinya.


"Kamu udah banyak belajar mengurus suami, Na," ucap Fais dengan tatapan tajam ke arah Anna.


"Bukan hanya ngurus suami, ngurus pasien pun aku bisa," jawab Anna yang sangat tahu jika kakaknya itu hanya mencibir.


Salaman hanya tersenyum seraya menatap ke arah Fais. "Sepertinya Fais masih tidak menyukaiku," batin Salman.


"Anak manja Papi ternyata benar-benar hebat," goda Alex.


"Iya, dong," jawab Anna bangga dan Salman lagi-lagi tersenyum melihat Anna yang kembali pada sifat aslinya jika sedang berkumpul dengan keluarganya.


Semuanya makan dengan damai, tidak ada obrolan apa-apa selama makan malam berlangsung dan sampai mereka menghabiskan makanannya.


Salman dan Anna ikut duduk berbincang-bincang dengan Alex dan juga Raina. Sedangkan Fais, dia langsung masuk ke kamarnya dengan alasan dia tidak ingin kesiangan bangun karena besok harus sudah kembali pulang.


"Salaman, Mami sama Papi gak bisa ikut mengantarkan kalian pulang, gak apa-apa, kan?" ucap Alex mengawali obrolan serius setelah berbincang-bincang hangat.


"Loh bukannya Papi mau nganterin aku?" sahut Anna yang justru malah menyahut.


"Papi mungkin ada keperluan, Zea," sahut Salman.


"Gak apa-apa, Pi ... tapi lain kali aku berharap Papi dan Mami main ke sana," sahut Salman bijak.

__ADS_1


"Yang Salman ucapkan benar, Na. Papi harus mengurus kerjaan yang tidak bisa diwakilkan, setelah selesai nanti Papi usahakan ke sana untuk menengok kalian," sambung Alex menjelaskan.


Mereka pun terus berlanjut berbincang-bincang hingga Anna sudah merasakan jika suaminya itu memberikan kode padanya.


Anna melihat tatapan Salman yang sudah sangat berbeda. Dia tahu jika Salman sudah sangat ingin menikmati malam pengantinnya, tapi dia tidak berani mendahului istirahat mertuanya.


Alex yang melihat Anna senyum-senyum sendiri, dia pun paham karena sejatinya dia pernah mengalami itu.


"Kalian pergi istirahat saja, sudah malam. Papi juga udah mau istirahat, ayo, Mi!" ucap Alex mengakhiri obrolannya dan mengajak Raina untuk masuk ke kamar juga.


Alex dan Raina masuk ke kamar lebih dulu, sedangkan Anna dan Salman masih duduk di ruang keluarga.


"Aku udah ngantuk," bisik Salman seraya menarik tangan Anna.


Anna hanya tersenyum sambil bergelayut manja di lengan Salman.


Mereka masuk ke kamar dan naik ke atas tempat tidur.


Seperti biasa Salman menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Anna dan Anna akan memeluk Salman.


Namun, malam ini terasa berbeda. Jika setiap kali mereka tidur bersama tidak akan merasakan kecanggungan, malam ini baik Anna maupun Salman sungguh sama-sama merasa canggung.


"Jika malam ini kamu masih lelah, tidur aja. Kita masih bisa melakukannya besok," ucap Salman yang melihat wajah Anna kelelahan.


Anna mengangguk kemudian memeluk suaminya itu. Tapi, Salman langsung tertawa yang membuat Anna mendongakkan kepalanya melihat Salman.


"Kamu beneran lelah atau sedang menghindar?" goda Salman.


"Ish, jahil banget sih kamu," sahut Anna seraya mengerucutkan bibirnya.


"Jika kita melakukannya malam ini, aku takut besok kamu tidak bisa jalan dan gak bisa pulang," goda Salman lagi.


"Gak ngaruh tahu," sahut Anna seraya membenamkan wajahnya di dada Salman.


"Sekarang kita latihan dulu aja, biar nanti pas di rumah kita udah langsung lancar," goda Salman lagi.


"Ih kamu tuh seneng, ya lihat aku malu," keluh Anna.


"Hahaha ... istirahat lah, besok kita pulang dan setelah sampai di rumah kita ... baru aku akan menagihnya," ucap Salman lagi.

__ADS_1


"Oke," jawab Anna sambil kembali membenamkan wajahnya di dada Salman.


Salman dengan begitu susah menahan hasrat yang sudah menggelora. Namun, dia tidak mungkin melakukannya sekarang karena besok mereka harus kembali dan dia tidak ingin jika setelah malam pengantinnya berlalu, Anna sakit yang bisa mengacaukan acara kepulangannya besok.


"Kalau kayak gitu rasanya terlalu malu jika ketahuan oleh keluarga Zeanna aku sudah mengambil keperawanan putrinya dengan beringas," batin Salman yang akhirnya terlelap juga.


Pagi hari Fais dan istrinya sudah pamit lebih dulu karena penerbangan mereka pagi-pagi sekali, sedangkan Anna dan Salman masih packing barang bawaan mereka untuk pulang.


"Pakaiannya gak usah dibawa semua, Zea. Nanti kalau kita pulang ke sini masih ada pakaian untuk ganti," ucap Salman ketika Anna packing miliknya.


"Baiklah," jawab Anna cepat.


"Kita pulang ke mana? Ke apartemen atau kosan aku?" sambung Anna.


"Emangnya kosan kamu boleh bawa laki-laki?" goda Salman.


"Tentu boleh, kitakan udah nikah," jawab Anna.


"Oke, tapi nanti saja ... sekarang kita langsung ke rumah saja biar aku bisa langsung nangih janji kamu," tegas Salman sambil mencium pipi Anna yang memerah.


Anna tersenyum dan menutup koper yang akan mereka bawa pulang.


Anna dan Salman pamit untuk pulang. Raina dan Alex sekarang merasa lega karena untuk saat ini sudah ada yang menjaganya dan bertanggung jawab penuh pada Anna.


Selama perjalanan Salman tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Anna. Dia sudah sangat tidak sabar untuk segera melakukan ritual malam pengantin yang sangat dia nanti-nantikan.


Tiba di rumah, Salman mengajak Anna untuk masuk. Mereka tiba pada sore hari dan kebiasaan Anna yang selalu makan sore dia pun segera memesan makanan untuk mereka makan.


"Sekalian buat sarapan aja, Zea. Beli ayam terigu supaya pagi-pagi tinggal dipanasin," ucap Salman memberi solusi ketika Anna akan memesan makanan.


"Untuk sarapan aku masak aja," sahut Anna.


"Aku gak yakin kamu bakalan bisa buat sarapan," jawab Salman sambil menyeringai.


"Kenapa?" sahut Anna yang masih belum conect dengan maksud Salman.


"Kamu pasti capek bahkan aku gak yakin kalau kamu masih kuat jalan dan berdiri," bisik Salman yang seketika membuat Anna melotot dan memukul lengan suaminya itu.


"Ish aku pikir apaan," sahut Anna dengan wajah malu-malunya.

__ADS_1


__ADS_2