
*Enam belas tahun kemudian*
Zeanna Kirania yang biasa akrab disapa Anna tumbuh menjadi sosok remaja yang begitu cantik, perpaduan dari kecantikan Raina dan ketampanan Alex begitu mendominasi wajah Anna. Tak jarang banyak teman-teman Anna yang jatuh cinta, tetapi Anna tidak pernah menanggapinya, karena tidak ingin terjebak dalam cinta monyet yang akan mengganggu konsentrasi belajarnya.
Anna yang sejak SMP sudah bertekad untuk tidak sekolah di tempat papinya mengajar, dia pun ketika lulus dari SMP segera meminta Papinya untuk mendaftarkannya ke sekolah lain, karena takut jika sekolah di Yayasan milik keluarga papinya, dia akan diperlakukan istimewa dan nanti jika mendapatkan peringkat satu, dikiranya itu karena alasan keluarganya, padahal Anna memang tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan juga pintar.
Berbeda dengan Faisal yang pendiam dan kalem, Anna justru sebaliknya, Anna tumbuh menjadi gadis yang super super ceria, centil dan hangat. Tak jarang kedua orang tuanya pun terkena kejahilannya.
"Mami ... aku, kan udah kelas XI ... boleh, ya ke sekolah pakai sepeda motor?" rengek Anna pada maminya yang tak lain adalah Raina.
"Kamu belum 17 tahun, gak boleh pakai sepeda motor sendiri," tegas Raina.
"Teman-teman aku banyak yang bawa motor ke sekolah, Mi. Mereka gak di marahin ... please ... Mami cantik." Anna memasang wajah memelasnya berharap sang Mami akan luluh dengan rengekannya.
"Pi ... lihat nih anak gadismu." Raina berharap Alex akan bisa membantu meyakinkan putri bungsunya.
"Udah, kasih aja ... sebentar lagi dia 17 tahun, anggap saja sebagai latihan keberanian dia sebelum nantinya bikin SIM," sahut Alex dengan santai sambil berjalan ke ruang makan untuk sarapan.
"Papi ... bukannya bantuin Mami, ini malah mendukung Anna," hardik Raina tidak suka, karena suaminya malah mengijinkan putri bungsunya untuk mengendarai sepeda motornya sendiri.
"Papi ... aku sayang Papi." Anna langsung berhambur memeluk sang Papi sambil menciumi wajah papinya saking senangnya Anna mendapatkan ijin untuk menggunakan sepeda motor.
Alex terkekeh melihat kelakuan putri bungsunya yang Alex yakin jika sifat Anna sama persis seperti ibunya, yaitu Raina.
"Udah, Sayang ... kalau kamu terus-terusan mencium Papi, nanti Mamimu cemburu," goda Alex sambil menangkup kedua pipi Anna yang terlihat chubby.
__ADS_1
Raina mendelik dan akhirnya membulatkan matanya ketika Alex menggodanya seperti itu.
Anna berpamitan pada kedua orang tuanya. Dia begitu senang, karena hari ini dia bisa membawa sepeda motor ke sekolah. Biasanya tiap hari Anna selalu berangkat bareng papinya atau bareng Faisal, kakaknya.
Faisal tidak ada di rumah, dia tinggal di rumah neneknya, karena kebetulan dia kuliah dan sedang melakukan penelitian untuk tugas mata kuliahnya.
"Pi ... apa gak bakalan apa-apa jika Anna bawa motor ke sekolah sendiri? Mami masih was-was sama dia," ucap Raina sambil mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat ke sekolah.
Sekarang Alex tidak lagi mengajar, dia sekarang di percaya oleh keluarganya untuk menjadi pimpinan di yayasan sekolah tempatnya bekerja, karena memang yayasan itu milik keluarga ibunya Alex yang saat ini memang sudah dialihkan kepemilikannya menjadi atas nama Alex.
"Mi ... kayak yang gak pernah ngalamin aja, dulu waktu kamu kelas XI kamu udah bawa motor sendiri ke sekolah, bahkan saat itu kamu udah pacaran loh sama aku," goda Alex mengingatkan Raina pada masa-masa mudanya dulu.
"Ish ... kamu malah nyamain aku sama Anna. Mami khawatir, Pi ... udah, ah ... ngomongin anak-anak sama kamu emang gak pernah sejalan." Raina memeluk suaminya dan mencium punggung suaminya.
"Kamu ibu terbaik bagi anak-anak kita, maaf jika Papi kadang suka tidak sejalan dengan pendapat Mami, Maaf, ya, Sayang." Alex kembali memeluk istri tercintanya.
Sementara itu di sekolah, Anna langsung memarkirkan sepeda motornya di tempat parkiran khusus untuk para siswa. Dia selalu tersenyum ramah pada setiap orang hingga ada seseorang yang selalu merindukan senyuman Anna, siapa lagi kalau bukan Adit, siswa beda angkatan yang sekarang sudah kelas XII.
Adit sudah jatuh cinta pada Anna sejak awal Anna masuk jadi siswa di sekolah yang sama dengan dirinya. Saat itu Adit yang menjadi ketua Osis selalu saja mencari-cari cara agar bisa bicara dengan Anna, dan hasilnya hari ini Adit baru memberanikan diri untuk mengajak Anna bicara karena kebetulan Anna parkir tepat di sebelah Adit.
"Anna ... siang ini ada waktu, gak?" tanya Adit ragu-ragu.
"Kayaknya aku gak bakalan ke mana-mana. Emang ada apa, Kak?" sahut Anna dengan sedikit deg-degan, karena sebenarnya Anna juga suka sama Adit, tetapi dia memilih untuk tidak menunjukkan sebab Adit pun tidak pernah menunjukkannya.
"Kita jalan-jalan saja. Nanti aku tunggu di sini, ya," pungkas Adit sambil tersenyum merekah sebab Anna bersedia untuk diajaknya jalan.
__ADS_1
"Kok aku jadi deg-degan, Anna ... jangan geer dulu kamu, bisa aja dia cuma ngajakin jalan doang, pikiran kamu tuh kejauhan," gerutu Anna pada dirinya sendiri.
Anna berjalan menyusuri koridor setiap kelas untuk menuju ke kelasnya. Anna gadis yang ramah dan hangat, sehingga tidak jarang jika dia bisa begitu dikenal oleh hampir seluruh angkatan.
"Anna ... I love you," teriak seorang pria yang beda jurusan dengannya, dia adalah Ferdy, fans beratnya Anna.
Anna kaget ketika melihat Ferdy yang berjalan menghampirinya sambil membawa bunga dan cokelat untuk Anna.
Saat Ferdy mendekat, ternyata Adit sudah lebih dulu menarik tangan Anna dan menutupi Anna dari Ferdy. Jangan ditanya lagi, Anna kaget setengah mati ketika tangannya ditarik oleh Adit, tetapi hatinya senang karena bisa terhindar dari Ferdy.
"Lo ngapain narik-narik dia kayak gitu?" tanya Ferdy tidak suka dengan sikap tiba-tiba Adit.
"Lo yang ngapain, Anna itu pacar gue, ngapain lo sok-sokan bilang I love you segala," sahut Adit yang seketika membuat mata Anna membulat tak percaya dengan pengakuan Adit yang saat itu disaksikan oleh murid-murid yang ada di bagian kelas yang Anna lewati.
Suara riuh menghiasi lorong kelas yang saat ini sedang terjadi perebutan Anna oleh Ferdy dan Adit.
"Apa aku gak salah denger? Adit nyebut aku pacarnya, ayolah Anna ... Adit cuma ngebantuin kamu supaya terhindar dari Ferdy, baiklah ikuti saja permainannya supaya aku juga terhindar dari Ferdy yang hampir tiap hari gencar PDKT," gumam Anna dalam hati.
"Lo jangan ngarang, Dit. Jangan mentang-mentang lo kakak kelas dan bisa bertindak seenak jidat lo, Anna masih free, jadi lo gak bisa ngaku-ngaku seperti itu," hardik Ferdy yang masih tidak percaya. Memang kenyataannya mereka belum pacaran.
"Kalau lo gak percaya, tanya aja sama orangnya langsung," ujar Adit dengan hati sedikit deg-degan takut Anna mengatakan yang sebenarnya jika mereka tidak pacaran. Adit menggenggam tangan Anna dengan begitu erat berharap Anna paham jika maksud dari genggaman Adit adalah supaya Anna mengatakan iya.
"Anna ... apa benar kalian pacaran?" selidik Ferdy.
"Aku ...."
__ADS_1
*****
Jangan lupa like n vote-nya, ya teman-teman... Biar aku semangat up nya.