
Anna begitu bersyukur saat dalam posisi yang sulit, Salman datang bak pahlawan berkuda putih. Salman bahkan melepaskan tangan Adit dari tangan Anna secara paksa dan menarik Anna ke belakang punggungnya.
"Saya sudah pernah bilang jika kamu tidak ingin berurusan dengan pihak sekolah atau pihak keluarga Zeanna, maka jangan mengulangi hal yang serupa," tegas Salman dengan wajah yang dipenuhi kilatan amarah.
"Saya cuma tidak ingin putus dari dia, Pak. Apa salah aku mempertahankannya?"
Adit berusaha untuk membela dirinya sendiri, supaya Anna bisa mau kembali lagi padanya.
"Tidak dengan cara kasar seperti tadi, semua masalah masih bisa diselesaikan dengan baik-baik," sambung Salman.
"Aku udah gak mau lagi sama dia, Pak." Anna yang bersembunyi di belakang punggung Salman pun angkat bicara.
Salman refleks melihat ke arah samping ketika Anna berlindung padanya, tangan Anna justru malah memegang bagian lengan kemeja, sehingga Salman bisa merasakan jika lengan kemejanya tertarik.
"Aku tidak ingin putus," tegas Adit seraya akan menarik Anna lagi.
Suara Adit yang setengah berteriak mampu membuat banyak mata melihat adegan mereka bertiga. Orang yang tidak tahu akan beranggapan jika Adit dan Salman sedang memperebutkan Anna.
Salman melihat ke arah sekitar jika sudah banyak orang yang menyaksikan hal ini, tidak ingin menambah masalah, Salman langsung menarik Adit ke ruang BK.
"Kamu ikuti kami ke ruang BK," ucap Salman mengeluarkan perintah pada Anna.
Anna langsung menurut dan mengikuti langkah Salman untuk ke ruang BK.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Pak Heru, guru BK.
"Biasa urusan cinta," sahut Salman sambil menyuruh Adit dan Anna duduk.
"Kenapa mesti jadi ke BK, Pak. Ini urusan pribadi saya." Adit merasa tidak terima jika masalah pribadinya di publikasi.
"Ini memang urusan pribadi, tapi kamu mesti ingat kejadian ini berada di lingkungan sekolah, artinya secara tidak langsung kamu sudah mencoreng nama baik sekolah dengan kelakuan kamu," tegas Salman.
"Anna ... kenapa kamu diam? Katakan kalau ini masih bisa kita selesaikan secara pribadi," ucap Adit menatap Anna dengan tajam.
"Semuanya sudah selesai, Dit. Jika kamu bersikukuh dengan keinginan kamu, maka dengan terpaksa aku akan melaporkan kejadian tadi pagi sama orang tua aku. Tidak ada lagi urusan pribadi antara aku dan kamu," jawab Anna tegas.
__ADS_1
Salman merasa senang ketika mendengar penjelasan Anna yang sudah ingin mengakhiri hubungannya dengan Adit, itu artinya kesempatan untuknya jadi terbuka lebar.
Satu hal yang Salman lupakan, yaitu dia lupa jika dia sudah punya istri dan sudah tidak berhak untuk masuk ke kehidupan Anna. Rasa senangnya sungguh membuat dia lupa akan statusnya.
"Oke ... jika itu yang kamu inginkan, aku terima," tegas Adit.
Dia tidak mungkin ngotot untuk bisa terus berhubungan dengan Anna, sebab dia takut jika Anna benar-benar akan melaporkannya pada kedua orang tuanya, dan dia langsung teringat pada ucapan Salman, jika dia sudah berusia 18 tahun, artinya proses hukum bisa berjalan jika kedua orang tua Anna melaporkannya.
"Lebih baik aku mengalah dulu, nanti aku akan meyakinkan dia lagi agar mau kembali sama aku," batin Adit.
"Sudah selesai, kan, Pak?" tanya Adit pada Salman.
"Sudah. Ingat jika sampai kamu melakukannya, maka siap-siaplah," ucap Salman menggantung karena dia yakin Adit paham dengan ancamannya.
"Iya, Pak," jawab Adit sambil pamit keluar.
Setelah Adit keluar, tinggallah Anna dan Salman. Hati Salman sungguh bahagia dengan keputusan Anna pada Adit, tetapi sekarang dia bingung harus bicara apa pada Anna.
Setelah berpikir matang, akhirnya Salaman menemukan ide untuk mengajaknya bicara.
"Aku hanya sedikit takut, Pak," lirih Anna.
"Takut kenapa? Adit?" tanya Salman penuh selidik dan Anna langsung mengangguk.
"Bersikaplah seperti biasanya, jangan menunjukkan rasa takut ataupun menghindarinya. Dia tipe orang yang tidak pernah menyerah, jadi kamu mesti bersikap seperti biasa agar dia tidak merasa jika kamu menghindarinya," jelas Salman.
"Tapi, kamu mesti bisa jaga diri. Jika sekiranya kamu merasa berada di posisi bahaya, maka segera lari ... bukan hanya diam. Apalagi jika kamu sedang seorang diri," sambung Salman.
"Akan aku coba," sahut Anna.
Anna pun berpamitan untuk kembali ke kelas. Dalam langkahnya dia berpikir keras kenapa Salman selalu ada ketika dia mengalami kesulitan. "Apa ini hanya kebetulan?" batin Anna.
Anna menghentikan langkahnya dan memutar kembali tubuhnya melihat pintu ruangan BK yang saat itu berbarengan dengan Salman yang sedang melangkahkan kakinya untuk keluar.
Salman terkesiap ketika melihat Anna yang berdiri tidak jauh dari ruangan BK yang sambil menatap ke arahnya. "Kenapa?" tanya Salman ketika jaraknya sudah dekat dengan Anna.
__ADS_1
"Aku lupa sesuatu. Terima kasih atas bantuan Bapak." Anna menyunggingkan senyumnya.
"Kirain mau traktir saya makan," goda Salman sambil terkekeh.
"Boleh, nanti sore aku tunggu di taman, ya. Aku traktir makan jagung," sahut Anna dengan antusias.
"Saya pengin ditraktir makan dan nonton juga," sambung Salman dengan beraninya malah mengajak Anna untuk nonton lagi.
"Oke ... hari sabtu jam 10, ya. Biar bisa makan siang sekalian, dan ingat bukan makan sore," sahut Anna menyetujui keinginan Salman.
"Oke ... nanti tunggu kabar dari saya aja, ya," pungkas Salman yang langsung diangguki oleh Anna.
Mereka berdua berjalan ke arah yang berbeda dengan perasaan keduanya yang sama-sama senang, secara tidak langsung Anna memang menginginkan bertemu lagi dengan Salman di luar. Begitu juga dengan Salman, berdekatan dengan Anna membuat dirinya lupa jika seharusnya dia tidak boleh memupuk rasa yang sekarang sudah mulai tumbuh lagi di hatinya.
Waktu terus bergulir dengan cepat. Setelah ditegur oleh Salman, Adit tidak lagi berani menunjukkan sikap kurang ajarnya pada Anna.
Hari yang dinantikan pun akhirnya tiba, Salman menyuruh Anna untuk tidak membawa kendaraan saat bertemu dengan dirinya. Salman sengaja, karena dia ingin menikmati waktu secara full dengan Anna.
Anna menunggu Salman di halte, dan beberapa menit kemudian, Salman datang dengan senyum yang terlukis indah di wajahnya.
"Ayo, masuk!" seru Salman menyuruh Anna untuk masuk ke mobilnya.
"Wah, aku jadi ngerepotin Bapak, harusnya aku bawa motor aja," sahut Anna merasa tidak enak, karena Salman harus jauh-jauh datang menjemputnya.
"Gak masalah," sahut Salman sambil kembali mengemudikan mobilnya.
"Kenapa gak boleh di jemput ke rumah?" tanya Salman penuh selidik ketika Anna menolak untuk di jemput.
"Takut sama Mami," jelas Anna ambigu.
"Kenapa?" selidik Salman.
"Biasalah ... Mami aku takut jika aku pacaran nanti nilai aku bakalan turun, makanya Adit marah gara-gara aku melarang dia untuk menjemput aku lagi ke rumah. Eh dia malah ngeyel." Satu pertanyaan Salman dijawab secara kompleks oleh Anna.
"Kalau nanti saya yang minta ijin sama orang tua kamu gimana?"
__ADS_1