
Sesuai dengan rencana awal, hari ini Salman dan Anna pergi untuk berkunjung ke rumah orang tua Salman.
Salman terus meyakinkan Anna agar bersikap seperti biasa dan tidak perlu menjadi orang lain.
"Apa pun penilaian ibuku nantinya, kita akan tetap nikah. Ada ataupun tanpa restu dari Ibu, aku akan tetap mempersunting kamu, Zea," ucap Salman sesaat setelah mereka keluar dari bandara dan sedang menunggu taksi untuk menuju rumah Salman.
"Aku jadi gugup gini," sahut Anna seraya meraih tangan Salman dan Salman langsung tersenyum ketika mendapati tangan Anna yang dingin karena gugup.
"Tarik napas dulu. Anggap saja kamu akan ketemu dosen killer," goda Salman.
"Gak bisa gitu dong. Ini tuh beda kasusnya," kilah Anna seraya memilih untuk menggenggam tangan Salman dengan erat.
Sepanjang perjalanan, Salman terus meyakinkan Anna. Salman bukan menakut-nakuti Anna tentang sikap ibunya, tapi dia hanya tidak ingin jika Anna akan membayangkan hal yang manis tentang ibunya, sedangkan kenyataan mungkin tidak sesuai dengan keinginan Anna.
"Assalamualaikum," ucap Salman yang langsung disahuti oleh ibunya dari dalam.
"Akhirnya kamu sampai juga. Ibu sempat khawatir karena kamu belum tiba," ucap Ibunya Salman ketika Salman mencium punggung tangan ibunya.
"Tadi pesawatnya sempat delay satu jam, Bu," jelas Salman yang kemudian menarik tangan Anna.
"Ini Zeanna, gadis yang aku ceritakan sama Ibu," lanjut Salman dan Anna dengan mengikuti apa yang Salman lakukan dia pun mencium punggung tangan ibunya Salman
"Cantik." Satu kata yang keluar dari bibir ibunya Salman yang langsung di sambut gembira oleh Salman.
"Ayo, masuk," ajak ibunya Salman seraya mengapit Anna.
Salman yang melihat sikap ibunya langsung memberikan kesan yang baik pada Anna, dia pun terhenyak karena sudah berprasangka buruk akan penerimaan ibunya pada Anna.
"Apa ini artinya Ibu menyukai Zeanna?" batin Salman.
"Kamu istirahat dulu, Ibu buatin dulu minum," ucap ibunya Salman seraya mengajak Anna untuk duduk di ruang keluarga.
"Tidak perlu, Bu. Jangan repot-repot," sahut Anna yang merasa masih kagok ketika harus bertindak.
"Gak apa-apa ... Ibu tahu kamu pasti capek, sebentar, ya," sahut ibunya Salman lagi.
"Terima kasih, Bu." Anna tersenyum dan matanya melirik ke arah Salman yang baru menyusulnya ke ruang keluarga.
__ADS_1
"Kamu dari mana dulu?" tanya Anna dengan pelan.
"Hahaha ... di sini taring kamu ke mana?" goda Salman dan Anna langsung melotot.
"Awas aja kalau kamu berani meledek aku," keluh Anna seraya merajuk.
"Hahaha ... enggak dong, Sayang," Salman tersenyum seraya mengusap-ngusap kepala Anna.
Ibunya Salman melihat interaksi antara Salman dan Anna. Ibunya Salman menyesal ketika memaksa Salman untuk menikah dengan wanita yang tidak pernah Salman inginkan. Bahkan ibunya Salman tidak pernah lagi melihat wajah Salman seperti hari ini, terlihat sangat bahagia.
"Jika memang dia adalah sumber kebahagiaannya, maka Ibu rela melepaskan kamu," batin ibunya Salman.
Tidak lama asisten rumah tangganya dan juga ibunya Salman datang ke ruang keluarga.
"Ayo minum dulu," ucap Ibunya Salman ramah.
"Terima kasih," sahut Anna.
Kebiasaan Anna yang selalu membatu mengambilkan air minum untuk Salman, kali ini dia pun melakukan hal yang sama. Dia mengambil gelas dan diberikan pada Salman, tentu saja Salman menerimanya dengan senyum yang selalu terlukis dalam wajahnya.
Mereka berbincang-bincang hangat tentang kebiasaan mereka, hingga pada akhirnya Salman mengungkap apa yang ingin dia lakukan.
"Memangnya Zeanna udah siap untuk nikah dengan Salman? Zeanna udah tahu belum status Salman?" sahut Ibunya Salman yang malah melemparkan pertanyaan pada Anna.
Anna tersenyum. "Saya tidak mungkin menolak ajakan seorang laki-laki yang berniat baik sama saya, Bu. Tentang status Mas Salman ... saya sudah tahu dan bagi saya itu tidak masalah," jawab Anna lugas dan Salman yang merasa telinganya masih berdengung akibat naik pesawat, dia mencoba mengorek-ngorek telinganya karena mendengar sebutan Anna untuk dirinya.
"Apa aku tidak salah dengar? Kok terasa merdu jika dia manggil aku Mas Salman," batin Salman.
"Lalu keluargamu bagaimana?" lanjut ibunya Salman.
"Mami dan Papi udah setuju, Mami dan Papi tidak mempermasalahkan tentang status Mas Salman," sahut Anna.
Lagi-lagi Salman tersenyum. Dia yakin jika Anna sangat pandai menempatkan dirinya dan menghormati dirinya ketika berhadapan dengan orang tua.
Jika di depan orang tuanya, dia akan terlihat manja dan keras kepala, tapi bertemu dengan ibunya Salman justru malah sebaliknya.
"Jika Ibu merestui kami ... aku akan ajak Ibu bertemu dengan keluarga Zeanna di kotanya." Salman ikut menimpali.
__ADS_1
"Kalau ibu terserah kalian, yang akan menjalankan rumah tangga itu kalian, ibu hanya memberikan doa saja semoga kalian berjodoh," jawab ibunya Salman tegas.
Salman tersenyum dan melirik ke arah Anna yang tampak sedang tersenyum pula.
"Kalau begitu besok aku akan beli tiket untuk menemui keluarga Zeanna. Aku akan mengabari orang tua Zeanna dulu," jawab Salman dengan rasa bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Huh ... ternyata ibunya tidak seperti Mami yang super cerewet," batin Anna.
***
Malam hari Anna yang merasa asing dengan tempat barunya, dia tidak bisa tidur. Dia terus-terusan berguling ke kiri dan ke kanan hingga pada akhirnya dia keluar dari kamar.
"Zea, kamu mau ke mana?" tanya Salman yang kebetulan masih menonton acara televisi.
"Aku gak bisa tidur," jawab Anna malas.
"Kenapa? Belum adaptasi?" sahut Salman seraya menarik tangan Anna untuk duduk di sampingnya.
"Iya, kayaknya. Padahal ini mata udah 5 watt," jelas Anna.
"Mau aku kelonin?" bisik Salman.
"Ish ... nanti ada Ibu," sahut Anna sambil celingukan.
"Kamar Ibu di bawah, jadi gak bakalan naik. Ayo!" ajak Salman yang tidak tega jika Anna tersiksa karena tidak bisa tidur.
Anna pun menyetujui usulan Salman. Dengan pengalaman yang sudah dia atas rata-rata, Salman mengunci pintu kamarnya dulu, kemudian mengunci pintu kamar Anna.
"Kenapa dikunci?" tanya Anna.
"Biar gak ketahuan," jawab Salman santai dan naik ke atas tempat tidur.
Anna hanya tersenyum dan langsung memeluk Salman.
Entah sejak kapan, tangan dan pelukan Salman menjadi tempat ternyaman untuk Anna. Dia mengendus aroma tubuh Salman yang selalu membuat dia ketagihan untuk selalu berdekatan dengan Salman terus.
"Tidurlah ... aku akan menemanimu di sini," ucap Salman seraya mencium puncak kepala Anna.
__ADS_1
Bagaikan terhipnotis, Anna benar-benar tidur. Aroma tubuh Salman bak obat tidur yang langsung membuat Anna jalan-jalan ke alam mimpi.
"Tinggal sebulan lagi, aku harus menahannya sampai pada akhirnya semua yang ada padanya halal bagiku," batin Salman yang selalu saja miliknya berontak ketika tidur dengan Anna.