
Hampir setiap hari Salman akan menunggu Anna untuk hanya sekedar melihat Anna berangkat sekolah.
Anna yang memang sudah sehat, dia sudah kembali menggunakan sepeda motornya untuk pergi ke sekolah.
Salman yang tahu jika nomornya di blokir oleh Anna, dia berusaha untuk mencari cara untuk bicara dengan Anna, tapi tetap tidak bisa.
Hingga satu bulan sudah Salman berusaha dan hasilnya tetap sama.
Waktu terus bergulir dengan begitu cepat, tidak terasa sekarang sudah hampir 2 bulan Anna memblokir nomor ponsel Salman, dan selama itu Salman tidak pernah menyerah.
Salman selalu mencoba mencari cara untuk ngobrol dengan Anna, tapi Anna jauh lebih cerdik karena setiap pulang sekolah di akan selalu bersama teman-temannya, hingga menyulitkan Salman untuk berkomunikasi dengan Anna.
Pagi ini Anna yang sudah terbiasa melihat Salman di halte, keningnya berkerut ketika tidak melihat mobil Salman yang terparkir di halte tersebut.
"Kemana dia? Kayaknya dia udah bosan nungguin aku," gumam Anna sambil melirik ke arah halte, berharap ada Salman.
Sampai di sekolah pun Anna tidak melihat mobil Salman. Bisanya mobil Salman akan terparkir di tempat yang biasa tapi sekarang tidak ada.
"Mungkin dia gak ada jadwal," batin Anna.
Waktu istirahat seperti biasa Anna gunakan untuk berkumpul dengan kedua sahabatnya, Anita dan Amara.
Mereka seperti biasa memesan makanan dan ketika Anna yang belum sempat memasukkan makanannya ke mulut, terdengar suara-suara dari adik kelasnya yang sedang bergosip.
"Kalau gak ada Pak Salman rasanya gak semangat," ucap salah satu siswi yang Anna tahu itu adik kelasnya.
Anna yang tidak sengaja mendengar percakapan adik kelasnya itu pun menajamkan pendengarannya.
__ADS_1
"Guru barunya gak asyik, gak kayak Pak Salman yang gaya belajarnya bisa aku pahami," lajut yang satunya lagi.
"Aku gak nyangka kalau Pak Salman bakalan resign dari sekolah kita dan pindah ke luar kota."
Deg, ucapan adik kelasnya yang terakhir membuat Anna hampir tidak bisa menelan makanannya, karena shock mendengar kabar tentang kepindahan Salman.
"Dia pindah? Kenapa aku gak tahu?" batin Anna sambil segera menyambar minumannya untuk menetralisir tenggorokannya yang kering.
"Apa dia sengaja pergi atau kenapa?" batin Anna lagi.
"Ya Tuhan, aku lupa jika aku sudah memblokir nomornya," batin Anna yang langsung beranjak dari duduknya.
"Guys, aku duluan, ya ... mau ke toilet," ucap Anna buru-buru.
Anna langsung merogoh sakunya dan segera mengambil ponselnya. Dia buru-buru membuka blokiran nomor Salman dan ketika nomornya terbuka banyak sekali pesan masuk pada Anna.
Anna membaca satu persatu pesan Salman dan pesan terakhir Salman mampu membuat Anna tercekat.
Air mata Anna langsung lolos begitu saja ketika membaca pesan terakhir Salman yang dikirim tadi pagi. Anna buru-buru berlari ke kelasnya untuk mengambil tas dan meminta ijin untuk pulang.
Anna melajukan sepeda motornya sambil mencoba untuk menghubungi Salman, tapi sekuat apa pun Anna mencoba nomor Salman sekarang sudah tidak aktif.
"Aku mohon ... jangan dulu pergi, aku juga ingin mengatakan sesuatu sama kamu," gumam Anna sambil menangis.
Anna memutuskan untuk ke rumah Salman. Dia tahu Salman tinggal di dekat rumah sakit bekasnya dirawat. Salman pernah cerita jika dia tinggal di rumah kontrakan yang saat ini disinggahi oleh Anna.
"Maaf, mau tanya kontrakan Pak Salman yang mana?" tanya Anna.
__ADS_1
"Oh Pak Salman Al Kahfi?" sahut sang pemilik kontrakan.
"Iya," sahut Anna antusias.
"Sepertinya Pak Salman sudah di pesawat, tadi subuh dia pamit karena akan ke luar kota."
Jawaban pemilik kontrakan langsung membuat Anna lesu.
"Apa Pak Salman pulang ke kotanya?" sambung Anna lagi.
"Bukan ... Pak Salman bilang katanya ingin melanjutkan studinya sambil meneruskan bisnis orang tuanya," jelas pemilik kontrakan lagi.
Anna benar-benar lesu, dia hampir tidak punya tenaga untuk menopang tubuhnya berdiri.
Anna tidak pernah nyangka jika Salman akan pergi secepat ini. Dia menginginkan perpisahan ini tapi tidak dengan cara seperti ini. Tadinya Anna cukup senang ketika tidak bertegur sapa Anna masih bisa melihat dan bertemu Salman meskipun hanya sekedar saling tatap, tapi sekarang bahkan bayangan Salman pun seakan hilang bak ditelan bumi.
Anna melajukan kembali sepeda motornya, dia berhenti di halte tempat di mana Salman menunggunya. Di halte Anna berharap ada bayangan Salman yang tersisa yang bisa dia lihat tapi keinginan Anna itu terlalu berharga, karena sampai kapan pun Anna tidak akan pernah ketemu lagi dengan Salman.
"Ternyata sakit ... beginilah rasanya kehilangan orang yang kita cintai, kenapa aku begitu egois memblokir nomor dia, padahal mungkin selama ini dia berusaha untuk memberitahukan rencana kepergiannya," batin Anna merutuki dirinya sendiri.
"Pak Salman ... aku juga mencintaimu," teriak Anna dalam hati.
Anna buru-buru menyeka air matanya. Dia kembali pulang ke rumah dan untunglah saat itu Maminya sedang tidak ada di rumah sehingga tidak melihat keadaan Anna yang habis menangis dan pulang lebih cepat.
Anna mengunci pintu kamarnya seperti biasa. Dia menyimpan tasnya dia atas meja belajar dan matanya membulat ketika melihat ada paket di kamarnya dengan tujuan untuk dirinya.
"Ini paket dari siapa?" gumam Anna sambil membuka isi paketnya.
__ADS_1
Matanya kembali membulat ketika melihat hadiah kalung dari Salman untuk Anna. Anna pun segera membuka isi surat yang sengaja Salman tulis untuknya.
[ Hai, apa kabar? Aku berharap kamu akan selalu sehat. Aku pamit untuk pergi, Zeanna. Tadinya aku ingin menemuimu di rumah, tapi aku tidak punya keberanian untuk melakukannya, jadinya aku kirim lewat kurir. Jaga selalu kesehatan kamu, dan jika kamu ingin lebih jelas lagi bukan blokiran nomor aku, cantik. Tenang saja aku tidak akan menggunakan nomor itu lagi karena aku tahu kamu tidak ingin aku ganggu. Aku tidak akan mengganggumu lagi, Sayang. Semoga kita bertemu lagi. Dan maaf aku dengan begitu lancang memberi kamu kalung, karena lusa hari ulang tahunmu dan aku sudah tidak ada di kota ini, jadi aku sengaja mengirimkannya sekarang. Selamat ulang tahun kekasihku ... Semoga panjang umur dan tercapai semua cita-citanya.]