
Salman tersenyum. Gertakannya berhasil membuat Anna langsung tidak berkutik apa-apa.
"Lagian siapa juga yang bakalan cium kamu, Zea ... aku tidak berani," batin Salman sambil masuk ke mobil.
"Ini untuk yang terakhir kalinya kamu maksa aku seperti ini," ketus Anna seraya memasang seat belt.
"Aku akan mengingatnya," sahut Salman santai.
Salman yang hari ini merasa lega telah mengungkapkan perasaannya pada Anna, dia begitu lepas ketika bernyanyi mengikuti lagu yang sedang dia putar.
Anna yang baru tahu sisi lain dari Salman, dia hanya mengerutkan keningnya karena saat ini Salman yang sedang bersamanya sangat berbeda jauh dengan Salman gurunya yang kemarin.
"Aku pikir dia gak kayak gini," batin Anna.
"Zea," panggil Salman dengan mata tetap fokus ke jalan dan sesekali melirik ke arah Anna.
Anna tidak merespon, hatinya masih kesal dengan apa yang dilakukan oleh Salman padanya.
"Tentang perasaan aku sama kamu, aku benar-benar tulus, tidak ada maksud apa-apa ... aku hanya ingin ngasih tahu jika selama ini aku telah jatuh cinta sama kamu," ucap Salman memulai kembali obrolannya.
"Kamu sudah tidak waras," cibir Anna cepat.
"Kamulah yang membuat aku seperti ini." Salman tersenyum.
Salman menepikan mobilnya di pinggir jalan kemudian melirik ke arah Anna yang tampak bingung, karena Salman tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Aku bahagia bisa jatuh cinta ... aku jatuh cinta padamu dan asal kamu tahu ... kamu cinta pertama untukku," ucap Salman menjelaskan.
"Bullshits," cibir Anna.
"Aku serius, Zea. Terserah kamu mau percaya atau tidak ... tapi bagiku hanya akan ada nama kamu di hati aku. Hanya kamu wanita yang aku cintai," tegas Salman.
__ADS_1
"Berhenti bicara unfaedah seperti itu! Aku tidak cinta ... yang ada aku benci sama kamu!" hardik Anna kesal.
"Laki-laki yang baik hanya Papi aku, Papi aku tidak pernah menggoda wanita lain selain Mami. Kamu ... kamu yang notabene sebagai seorang guru tapi kelakuanmu seperti orang yang tidak pernah sekolah," tegas Anna mencibir.
"Kamu sengaja ingin menjadikan aku seorang pelakor tanpa sepengetahuan aku, untung saja aku datang ke sini dan aku bisa tahu jika laki-laki seperti kamu adalah sampah masyarakat," ketus Anna mencibir.
"Jaga bicara kamu, Zea!" bentak Salman tidak terima dengan cibiran Anna.
"Kenapa aku harus menjaga ucapan aku sendiri sedangkan kamu tidak bisa menjaga kelakuan kamu. Terlalu menjijikkan karena aku pernah kagum sama kamu," tegas Anna lagi.
"Kamu bisa bicara apa pun tentang aku, tapi satu hal yang kamu tahu ... aku tidak pernah berniat menjadikan kamu sebagai pelakor, aku tidak pernah berniat untuk menjadi sampah masyarakat, semua ini karena hati aku ... hati aku tidak bisa mencegah rasa yang tiba-tiba muncul karena mencintai kamu," tegas Salman.
"Apa aku salah mencintaimu?" tanya Salman.
"Salah! Bahkan sangat salah," sahut Anna tegas.
"Apa ada undang-undangnya yang mengatakan jatuh cinta pada muridnya sendiri salah?" tantang Salman.
"Urusan cinta tidak perlu menggunakan undang-undang, yang diperlukan hanya pantas dan tidak pantas," sahut Anna ketus.
"Ya karena itu, karena kamu sudah menikah," jawab Anna tegas.
"Oke, kalau aku sudah bercerai ... apa aku masih belum pantas untukmu?" lanjut Salman mencerca Anna dengan pertanyaan yang membuat Anna kelimpungan.
"Dasar laki-laki egois, udah punya istri masih nyari wanita lain," cibir Anna.
"Bukan itu jawaban yang aku inginkan, Zea," sahut Salman sambil tersenyum, karena Anna tidak bisa menjawab pertanyaannya.
"Kamu tuh jadi orang pernah mikir gak gimana rasanya berada di posisi istri kamu? Bagaimana jika istrimu mencintai laki-laki lain, apa yang kamu rasakan. Jadi orang tuh jangan serakah," ketus Anna.
"Jika dia mencintai laki-laki lain, aku akan sangat bersyukur karena aku bisa melepaskannya pada orang yang tepat," jawab Salman tegas.
__ADS_1
"Dasar gila, otakmu sudah tidak bisa berpikir jernih," cibir Anna lagi.
"Aku suka sama kamu, Zea. Semua yang udah kamu lakukan, semua yang kamu ucapkan ... aku menyukainya. Aku menyukai semua hal tentang kamu, dan asal kamu tahu ... hampir setiap malam aku tidak bisa tidur gara-gara memikirkan kamu."
Salman tersenyum dan dengan begitu berani meraih tangan Anna.
Anna berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Salman tapi tenaga Salman jauh lebih kuat.
"Kamu ingat ketika aku memberikan kamu peringatan untuk tidak bertanya kenapa ketika aku menggenggam tanganmu? Itu karena aku belum siap jika kamu tahu perasaan aku ... aku takut kamu akan menjauhiku," jelas Salman.
"Saat bertemu kamu di bioskop, aku mulai menyukaimu ... benih-benih cinta ini begitu cepat tumbuh karena pesonamu makin menarik aku dalam lembah cinta yang tidak mungkin bisa aku gapai," sambung Salman.
"Aku cukup tahu diri jika aku tidak akan pernah pantas untukmu. Kamu yang begitu istimewa tidak akan pernah mungkin bisa aku miliki. Cinta aku yang kian menggunung tidak bisa aku kalahkan karena aku tahu siapa aku, laki-laki yang sudah beristri," lanjut Salman.
"Namun, sisi keegoisan aku meronta dan berontak ... aku ingin seperti Papi dan Mamimu, saling melengkapi satu sama lain, saling menyayangi dan tentunya saling mencintai." Salman menjeda ucapannya.
"Atas alasan itulah ... aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan aku yang awalnya hanya aku pendam sendiri. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, aku ingin punya pasangan yang bisa saling melengkapi." Salman terlihat sendu, hatinya benar-benar tercekat, karena dia yakin setelah ini Anna tidak akan pernah mau bicara lagi dengannya.
"Jadi laki-laki buaya seperti kamu pasti akan banyak alasan yang mendukung untuk membenarkan apa yang kamu lakukan," sahut Anna mencibir.
"Laki-laki seperti kamu pasti akan mencari pembenaran diri untuk melindungi dirimu sendiri," lanjut Anna.
"Kamu laki-laki yang tidak punya perasaan yang pernah aku kenal. Aku menyesal telah menjadi bagian dari hatimu, aku menyesal karena aku bertemu dengan kamu, dan aku lebih menyesal karena ...." Anna menggantungkan ucapannya.
Salman menatap lekat Anna, dia melihat mata Anna mulai berkabut dan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Karena?" ulang Salman menunggu kelanjutan ucapan Anna.
"Aku menyesal karena aku pernah mencintai laki-laki brengsek seperti kamu," tegas Anna dengan air mata yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
Salman tersenyum mendengar pengakuan dari Anna, tapi senyum itu hilang ketika Anna kembali angkat bicara.
__ADS_1
"Maka dari itu, aku akan melupakan kamu ... aku akan menghapus semua kenangan denganmu, dan aku tidak akan pernah ingin lagi ketemu dengan kamu," tegas Anna.
"Hubungan kita hanya akan menjadi guru dan murid, Pak Salman Al Kahfi ... jadi jangan pernah berharap apa pun dari aku," tegas Anna.