Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Galau


__ADS_3

Ibunya Salman berkunjung sekitar 3 hari. Hari ini Salman dan Anna menyempatkan diri untuk mengantarkan ibunya Salman ke bandara.


"Sempatkan kalian berkunjung ke rumah. Jangan terlalu sibuk hingga akhirnya kalian lama ngasih Ibu cucu," ucap ibunya Salman ketika mereka sedang berada di perjalanan.


"Akan kami usahakan, Bu," jawab Salman cepat.


"Anna ... kamu jangan terlalu capek, kalau terus-terusan capek nanti gak ada waktu untuk memanjakan Salman," sambung ibunya Salman.


Anna hanya tersenyum dan Salman langsung menyahuti ucapan ibunya.


"Ibu ... setiap hari Zea memanjakan aku. Ibu jangan minta yang aneh-aneh lagi deh," sahut Salman yang merasa takut jika Anna akan terus kepikiran tentang ucapan ibunya.


"Aku akan berusaha lebih baik lagi, Bu," sahut Anna dengan tersenyum.


"Dalam keadaan seperti ini aku merasa butuh pelukan Papi, hanya Papi yang ngerti aku," batin Anna merindukan ayahnya.


***


Setelah tiba di rumah, Anna yang harus dinas malam pun dia meminta Salman untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


Jika biasanya Anna akan selalu berceloteh tentang banyak hal, sekarang dia berubah jadi pendiam.


"Kamu lagi mikirin apa, Sayang?" tanya Salman seraya meraih tangan Anna.


"Enggak ... aku cuma lagi capek aja, Mas," jawab Anna cepat.


"Ucapan Ibu jangan kamu ambil hati, ya," sambung Salman.


"Jangan di masukkan ke hati gimana orang omongannya langsung kena di hati," batin Anna.


Anna hanya memilih untuk tersenyum. Bayangan Papinya yang selalu bisa membuatnya tenang pun seakan membuat dia begitu ingin sekali bertemu.


"Mas, kalau aku pulang gak apa-apa?" ucap Anna hati-hati.


"Pulang?" ulang Salman.


"Iya, aku kangen sama Papi," jelas Anna.


"Nanti cari waktu libur kamu yang agak panjang aja, aku bisa menyesuaikan," sahut Salman yang selalu mengikuti semua keinginan Anna.


"Baiklah ... terima kasih, ya," pungkas Anna dengan menutupnya oleh senyum manisnya.

__ADS_1


Salman tidak tahu jika kangennya Anna pada sang ayah adalah untuk berbagi keluh kesah yang tidak bisa Anna bagi pada suaminya.


Salah memang, tapi Anna tidka ingin jika suaminya malah membenci ibunya hanya karena gara-gara dirinya.


Untuk pertama kalinya Anna mengatakan jika dia rindu akan sosok ayahnya. Salman tidak curiga sama sekali karena sejak menikah mereka baru sekali bertemu dan merek belum sempat pulang.


Waktu yang dijanjikan oleh Salman pun akhirnya tiba. Hari ini Anna dan Salman pulang ke kediaman orang tua Anna.


"Ah ... nyamannya," ucap Anna ketika menginjakkan kakinya di gerbang pintu rumahnya.


"Nyaman mana dengan rumah kita?" sahut Salman bertanya.


"Meski Mami cerewet tetap rumah ini yang paling nyaman," jawab Anna dengan tersenyum.


Salman hanya mengerutkan keningnya. Jika untuk kebanyakan orang mereka akan nyaman berada di rumah sendiri, tapi Anna malah sebaliknya.


"Apa bedanya?" lanjut Salman mencari tahu.


"Di sini aku tidak perlu berpura-pura dan tidak banyak tuntutan," jawab Anna keceplosan.


"Pura-pura? Tuntutan?" ulang Salman yang sontak membuat Anna sadar dengan apa yang dia ucapkan.


Anna hanya nyengir kemudian segera memuat tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah.


Salman yang tidak ingin memperkeruh suasana hati Anna. Dia pun memilih untuk mencari waktu yang tepat untuk bertanya pada Anna. Dia mengekor Anna hingga akhirnya mereka disambut oleh orang tua Anna.


"Kok gak bilang kalau mau pulang? Mau bikin kejutan, ya?" ucap Raina seraya mencium pipi sang putri.


"Hehe, Mami tahu aja. Papi mana?" sahut Anna yang langsung mencari keberadaan ayahnya.


"Papi lagi mandi," jawab Raina dan beralih menyapa Salman.


"Tumben orang sibuk bisa pulang?" cibir Raina pada Anna.


"Kenapa? Gak suka lihat kita datang?" sahut Anna dengan menebak isi kepala ibunya.


"Hahaha ... kamu gak berubah, selalu saja negatif thinking sama orang lain," sahut ibunya dengan tersenyum.


"Mami harus mendampingi Papi selama 2 hari. Karena ada kalian jadi Mami tenang ninggalin rumah," jelas Raina.


"Ya ... percuma dong kita balik kalau pemilik rumahnya pergi. Padahal aku ingin sekalu ngobrol sama Papi," jelas Anna.

__ADS_1


"Kita cuma dua hari, lusa juga masih bisa bercerita," sahut Alex yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Papi," sapa Anna seraya berhambur memeluk sang ayah tercinta.


Anna begitu erat memeluk ayahnya. Rasanya dia ingin mengungkapkan apa yang dia rasakan melalui sentuhannya pada sang ayah.


Alex yang memang sangat dekat dengan Anna. Dia membalas pelukan putri bungsunya sambil mencium puncak kepala Anna.


"Pasang surut dalam rumah tangga itu sudah biasa, Sayang," ucap Alex seakan tahu apa yang ingin disampaikan oleh Anna.


"Kok Papi bisa baca pikiran aku? Aneh," batin Anna.


"Kamu bawa istirahat dulu suami kamu-nya, Na. Kasihan Salman kecapekan," ucap Alex mencoba untuk melihat keadaan rumah tangga anaknya.


"Iya, Pi," sahut Anna.


"Mas, ayo kita ke kamar dulu," ajak Anna seraya bergelayut manja pada Salman.


Melihat Anna yang masih manja, Alex merasa lega karena ternyata Anna dan Salman baik-baik saja.


Anna dan Salman masuk ke kamarnya. Kamar yang dulu dijadikan kamar pengantin tapu tidak jadi.


"Sayang ... sini," ucap Salman ketika melihat Anna yang malah duduk di depan meja rias.


Anna menghampiri Salman dan duduk di sisi tempat tidur.


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Salman penuh selidik.


Bukan tanpa sebab, Salman melihat gerak gerik Anna yang mencurigakan. Dia melihat wajah Anna yang sedih ketika tadi memeluk ayahnya.


"Aku tidak ingin jika aku tidak tahu apa-apa tentang perasaan kamu, Sayang," lanjut Salman.


"Aku tidak menyembunyikan apa-apa, Mas. Aku hanya kangen ... itu saja," jawab Anna meyakinkan.


"Syukurlah ... aku hanya khawatir kamu akan membuka selimut kita," ucap Salman.


"Selimut?" ulang Anna.


"Iya. Suami istri itu bagikan selimut, Zea. Kamu selimut untuk aku dan aku selimut untuk kamu." Salman menjeda ucapannya.


"Maksudnya ... selimut itu digunakan oleh kita untuk menutupi tubuh, nah tubuh kita harus ditutupi oleh selimut kita masingmasing, Sayang. Jika ada aib apa pun maka tutupilah karena sejatinya aib suami atau istri hanya boleh dibuka pada diri kita masing-masing, kecuali kalau kita sudah menyerah baru minta bantuan orang tua kita."

__ADS_1


"Kita sebagai selimut untuk menutupi aib kita masing-masing, Sayang. Jika ada masalah pun aku harap keluarga kita tidak perlu tahu, karena itu hanya konsumsi kita saja sebagai pasangan."


Salman menarik tangan Anna dengan lembut. "Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu, Sayang. Jika kamu merasa tidak percaya sama aku untuk berbagi aku tidak akan memaksa ... hanya satu yang perlu kamu tahu, jika hubungan suami istri itu tidak bisa diumbar pada siapapun termasuk orang tua kita."


__ADS_2