
Salman mencoba menekan hasrat yang tiba-tiba terpancing oleh hembusan napas Anna. Dia segera mengubah posisi duduknya dan beranjak untuk bertukar kursi.
"Kamu tuh mikirnya kejauhan, Zea," ucap Salman dengan ikut-ikutan berbisik.
"Aku hanya jaga diri, Pak. Kan kita mesti jaga-jaga ... daripada nanti aku kena damprat pacarnya, kan repot," sahut Anna sambil cekikikan.
"Kamu tuh selalu saja ada jawabannya," sahut Salman yang refleks malah mengacak poni Anna.
Untuk sesaat Anna dan Salman saling bersitatap, netra mereka bertemu dan sepersekian detik berikutnya tangan Salman langsung ke posisi semula. Serta jangan ditanya lagi, hal itu membuat keduanya jadi sedikit canggung, karena Salman yakin jika tindakan yang barusan dia lakukan bisa ditebak oleh Anna.
"Apa mungkin Zea tahu perasaan aku padanya? Apa mungkin Zea juga punya perasaan yang sama seperti aku? Ingin sekali aku mengatakan yang sebenarnya tentang rasa ini, tapi aku begitu pengecut karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mengatakan yang sebenarnya," batin Salman.
Setelah adegan Salman mengacak poni Anna. Mereka langsung memfokuskan mata mereka untuk menatap layar yang ada di depan mereka. untunglah filmnya sudah dimulai sehingga rasa canggung yang menimpa mereka berdua pun bagaikan menguap ke udara.
Kali ini film yang mereka tonton berkisah tentang percintaan yang rumit. Salman yang menonton film itu pun hanyut terbawa suasana dan Salman seakan ikut pada adegan yang dia tonton.
Hatinya tercekat ketika melihat si pemeran laki-laki yang tidak bisa menerima jika tidak bisa hidup bersama dengan pujaan hatinya.
"Apa kisah aku akan seperti itu? Apa tidak akan ada celah untuk aku bisa mendapatkan kamu, Zea," batin Salman yang langsung melirik ke arah Anna yang tampak berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanya Salman lembut seraya meraih tangan Anna.
"Sedih lihat filmnya, aku bikin malu, ya," sahut Anna yang ketika menatap Salman air mata yang tadi hanya berkumpul di pelupuk mata pun sekarang jatuh membasahi pipinya.
Entah punya keberanian dari mana, Salman menyeka air mata Anna dengan tersenyum dan tangan yang sebelahnya lagi tetap menggenggam erat tangan Anna.
"Pembuat film berhasil membuat para penonton ikut terbawa suasana ... hebat, kan," sahut Salman yang mendapatkan anggukan kepala dari Anna.
__ADS_1
Mereka kembali memfokuskan kembali pandangan mereka ke arah depan, dan jangan dilupakan jika Salman saat ini masih tetap menggenggam tangan Anna.
"Rasanya begitu nyaman bisa memegang tangannya seperti ini. Andaikan bisa selamanya aku memegang tangan ini ... tidak akan pernah aku lepaskan," batin Salman.
"Pak Salman lagi-lagi seperti ini, apa maksud dari semua ini? Gak mungkin, kan aku bertanya kenapa secara langsung ... nanti dikiranya aku geer," batin Anna.
Berakhir sudah film yang tayang hari ini. Anna dan Salman keluar dari gedung bioskop dengan tangan yang tidak pernah Salman lepaskan.
"Jangan bertanya kenapa, oke," ucap Salman ketika merasakan jika Anna pasti akan bertanya kenapa Salman menggenggam tangannya lagi.
"Kenapa?" sahut Anna.
"Kan saya bilang gak boleh bertanya," jawab Salman sambil tersenyum.
"Curang," sahut Anna dengan mengerucutkan bibirnya.
"Zea ... filmnya gimana? Oke, gak?" tanya Salman memulai kembali obrolannya.
"Oke banget, Pak. Aku sampai terbawa suasana ... Malu-maluin aku, ya sampai nangis segala," sahut Anna tersenyum mengingat dia menangis, karena gara-gara nonton film.
"Apa yang membuatmu ikut hanyut dalam cerita film tadi?" sambung Salman.
"Aku kasihan sama pemeran ceweknya dan kecewa sama si cowoknya." Anna menjeda ucapannya dan mengingat kembali apa yang dia rasakan.
"Menurutmu apa yang dilakukan oleh si cowok itu udah benar atau gimana?" lanjut Salman mencari tahu.
"Bagi aku ... gak ada yang namanya ungkapan jika cinta itu tidak selamanya harus memiliki. Selama mereka berusaha dan berjuang untuk cinta mereka maka tidak menutup kemungkinan cinta mereka akan bersatu. Ibaratnya kita itu sedang berusaha ... pasang surut udah biasa, kan ... tapi jika si cowoknya benar-benar cinta, harusnya dia berjuang dengan cara apa pun bukan malah nyerah kayak gitu," sambung Anna begitu antusias.
__ADS_1
Deg, mendengar sudut pandang Anna pada film yang mereka tonton sungguh membuat nyali Salman tertantang. Dia jadi ingin membuktikan pada Anna, jika dia tidak seperti cowok yang ada di film yang menyerah tanpa berjuang untuk mempertahankan.
"Kalau misalkan keadaannya sudah terikat pernikahan gimana?" lanjut Salman.
"Di mana-mana kalau udah nikah, ya udah sama istrinya aja, lagian ngapain juga nyari selingkuhan. Kan menikah pastinya karena saling cinta ... gak mungkin kalau tidak. Papi aku aja cinta mati sama Mami, padahal dulunya Papi aku gurunya Mami," jelas Anna yang secara tidak tersurat jika mereka pun bisa seperti orang tua Anna.
"Tidak setiap pernikahan didasari cinta, Zea. Beruntung Mami dan Papi kamu menikah atas dasar cinta, tapi banyak juga loh mereka yang harus menikah karena dijodohkan dan tanpa saling cinta," jelas Salman secara tidak langsung menginformasikan jika dirinya salah satu dari orang yang menikah tanpa cinta.
"Kayak novel-novel aja, Pak. Terpaksa menikah," sahut Anna sambil tersenyum.
"Tapi beneran loh ada yang nikah tanpa cinta. Nah, kalau seperti itu gimana?" selidik Salman ingin tahu lagi.
"Kalau menurut aku pribadi ... jika cinta maka kejar," tegas Anna yang langsung membuat Salman tersenyum, karena itu sudah mewakili apa yang sedang dia rasakan.
"Meskipun si cowoknya sudah beristri," sahut Salman lagi.
"Ya pilih lah ... pilih aku atau dia? Gitu, kan?" sahut Anna yang membuat Salman spontan menjawab. "Kamu."
Anna mengerutkan keningnya ketika mendengar sahutan Salman.
"Iya, kan jika misalnya di kasih pertanyaan seperti itu pasti jawabnya gitu," jelas Salman dengan perasaan senang, karena secara tidak langsung dia sudah memilih wanita yang dia sukai yaitu Zeanna.
"Lagian Bapak ngapain sih nanyain hal begini sama aku. Kayak guru bahasa Indonesia saja yang nyuruh bikin resume," lanjut Anna sambil tersenyum.
"Ya, saya pengin tahu saja sejauh mana kamu menangkap alur cerita dari film yang kamu tonton, dan saya juga pengin tahu bagaimana cara pandang kamu menyikapi pasangan yang tadi, dan saya baru tahu kalau ternyata yang namanya pelakor tidak selamanya salah," jelas Salman.
"Benar sekali. Aku gak setuju jika seseorang yang selingkuh mereka langsung menyalahkan pihak ketiga, entah itu pelakor atau pebinor ... karena setiap pasangan kita berkhianat pasti akan ada alasan di balik semua itu. Kecuali jika rumah tangganya baik-baik saja dan salah satunya selingkuh ... baru itu namanya tidak tahu diri," jelas Anna yang disambut senyum hangat oleh Salman.
__ADS_1
"Jika sudut pandangmu seperti ini ... aku berjanji apa pun yang terjadi nantinya, aku akan berusaha dulu untuk berjuang mendapatkan kamu, Zea. Aku akan mengejar kamu dan mudah-mudahan saja kita berjodoh," batin Salman.