Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Nafkah Batin


__ADS_3

Makanan yang dipesan pun akhirnya datang. Mereka menikmati makanannya hingga tidak bersisa.


"Ini aku simpan di lemari pendingin, ya?" ucap Anna seraya menyimpan makanan yang sengaja dia beli untuk dipanaskan besok pagi.


"Iya," jawab Salman cepat seraya membawa piring-piring kotor ke bak cuci.


"Mas, itu biar aku yang cuci, bentar aku beresin ini dulu," cegah Anna ketika melihat Salman yang hendak mencuci piring-piring bekas merek makan.


"Gak apa-apa, aku udah biasa. Kita bagi-bagi tugas biar cepat kelar," jawab Salman diplomatis.


Anna hanya manggut-manggut dan ketika melihat ke arah Salman, ternyata sudah selesai dengan mencuci piringnya.


Keduanya duduk santai seraya menonton acara televisi. Kehangatan sangat kentara ketika kedua insan ini menonton acara televisi saling memeluk dengan kepala Anna bersandar di bahu Salman.


"Zea," panggil Salman pelan.


"Hemmm," sahut Anna seraya mendongakkan kepalanya.


"Mandi, yuk!" ajak Salman ragu-ragu.


"Baru juga jam 7 malam, nanti ah sebentar lagi," sahut Anna yang masih betah memeluk Salman.


"Mau aku bantu?" goda Salman yang seketika membuat Anna mencubit perut Salman.


"Kamu tuh bikin aku malu," sahut Anna tersipu.


"Kenapa malu? Toh nanti aku juga bakalan tahu semua yang ada di tubuhmu tanpa tertutup apa pun," jelas Salman seraya menatap ke arah Anna.


"Tetap aja, aku belum biasa," sahut Anna pelan.


"Makanya dibiasakan. Yuk!" ajak Salman dengan menaikkan satu alisnya.


Anna melihat mata Salman lebih berkabut oleh gairah seperti tatapan ketika sedang di rumah orang tuanya. Malam ini ataupun nanti sudah pasti Salman akan melihat semua hal yang Anna tutupi. Anna menegakkan kepalanya menatap Salman dan Salman tersenyum seraya menggendong Anna.


"Mas, aku berat loh," ucap Anna ketika Salman mengangkat tubuhnya.


"Tenang, aku masih kuat kalau cuma gendong kamu kayak gini," sahut Salman menggoda.


Salman membawa Anna ke kamar, dia bukan membawa Anna ke kamar mandi melainkan membawa ke atas tempat tidur.


"Katanya mau mandi," ucap Anna dengan jantung bertalu-talu ketika Salman mulai mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"Sepertinya setelah ini saja," sahut Salman yang langsung mencium bibir Anna dengan lembut.


Ciuman lembut Salman begitu memabukkan. Berawal dari ciuman hangat dan lembut berubah jadi panas dan menuntut yang lainnya.


Napas keduanya memburu, mata keduanya pun seakan menggambarkan betapa gelora hasrat sudah menggebu dan membuncah.


Dengan tatapan yang beribu makna, Anna seakan tahu jika suaminya itu menginginkan hal yang lebih dari sekedar kecupan saja


Anna mengalungkan tangannya ke leher Salman yang disambut senyum senang oleh Salman.


Salman makin memberanikan diri untuk melakukan apa yang biasa para pasangan pengantin lakukan pada Anna.


Dia menjelajahi seluruh bagian tubuh Anna. Tidak ada satu pun yang terlewat.


Anna tidak sadar entah kapan Salman melepaskan pakaiannya hingga keduanya sudah sama-sama tidak tertutupi oleh sehelai benang pun.


Anna tersipu malu ketika tubuhnya terekspose sempurna dan bisa dilihat oleh Salman dalam penerangan kamar yang begitu jelas.


"Semua yang ada padamu sudah halal untukku, Zea," bisik Salman parau seakan menegaskan jika dia ingin segera mencoba hal yang baru.


Anna tersenyum dan mengangguk, detik berikutnya dia kaget ketika Salman dengan begitu berani menjadi bayi besar padanya dan tangannya bergerilya pada benda pusaka yang selama ini Anna jaga.


"Maaaassss, aaahhhhhh." Suara seksi Anna keluar dengan begitu indah di telinga Salman.


Salman senyum ketika melihat istrinya sudah mencapai puncaknya sebelum dia melanjutkan pada permainan sesungguhnya.


Salman mencium kening Anna kemudian berbisik membacakan doa sebelum akhirnya dia melakukan penyatuan dengan Anna.


Tubuh Anna bergetar ketika dengan merdunya suara Salman membacakan doa tersebut. Salman mencoba untuk menyempurnakan pernikahan mereka dengan melakukan kewajibannya sebagai seorang suami yang memberikan nafkah batin untuk istrinya.


Salman mencoba untuk menerobos masuk, tapi tubuh Anna terlihat kaku dan Anna terlihat meringis menahan sakit.


"Sayang, kamu tahu, kan jika ini akan sakit?" tanya Salman lembut.


Anna mengangguk dan kembali tersenyum sebagai isyarat jika dia tidak apa-apa.


"Maafkan aku, ya," ucap Salman dan kembali mencoba untuk meruntuhkan tembok kuat yang menghalangi jalannya untuk memiliki Anna seutuhnya.


Anna mencengkram kuat lengan Salman ketika merasakan sesuatu yang menerobos masuk mengoyak dan memporak-porandakan benteng pertahanan yang selama ini dia jaga. Dia meringis menahan sakit ketika benda pusaka Salman berhasil menerobos masuk sebagai pertanda jika pernikahan mereka sudah sempurna.


"Maafkan aku, Sayang," ucap Salman seraya menyeka air mata Anna yang sempat jatuh di ujung matanya.

__ADS_1


"Sakit," sahut Anna lirih.


"Maafkan aku," jawab Salman seraya mendekap tubuh istrinya.


"Ini udah?" tanya Anna ketika merasakan milik Salman masih menegang dan Salman menggeleng.


"Belum?" Anna melotot.


"Aku belum menuntaskannya," bisik Salman.


"Hah? Kenapa?" Anna kaget.


"Gak apa-apa, kamu pasti masih merasa sakit," sahut Salman dengan tersenyum.


"Ini gak adil, aku gak apa-apa kok," jawab Anna yang merasa tidak enak hati ketika melihat kabut gairah Salman masih menggelora.


"Aku gak apa-apa, Mas," ulang Anna meyakinkan.


"Maafkan aku jika aku terlalu memaksakannya, Sayang."


Salman pun kembali pada posisinya untuk menuntaskan apa yang dia sebut belum tuntas.


Anna berusaha untuk menahan rasa sakit yang baru pertama kali dia rasakan. Pertahanannya benar-benar sudah dirobohkan oleh Salman ketika Salman kembali menuntaskan kewajibannya sebagai seorang suami.


Untuk pertama kalinya penyatuan mereka terlaksana dengan penuh drama, rasa sakit yang dialami Anna membuat Salman tidak tega, namun berkat keikhlasan Anna untuk menyerahkan semuanya pada Salman, akhirnya Salman bisa menyempurnakan pernikahan mereka dengan salah satu kewajibannya yaitu memberikan nafkah batin pada Anna.


Penyatuan mereka malam ini adalah bukti di mana Salman dan Anna sudah melewati malam pengantin panas mereka dengan penuh gairah dan cinta.


"Aku mencintaimu, Zeanna. Terima kasih sudah menjadi yang pertama untukku," ucap Salman sesaat setelah mencapai kenikmatannya.


Anna tersenyum dan memeluk suaminya. "Kirain tidak akan sesakit ini," ucap Anna sambil mencium aroma tubuh suaminya itu.


"Maafkan aku," sahut Salman cepat.


"Lebih sakit dari sakit hati ketika kamu pergi meninggalkan aku," lanjut Anna seraya tersenyum ke arah Salman.


"Oh, ya?" goda Salman.


"Mau merasakan sakit hati?" ketus Anna yang langsung disambut gelak tawa oleh Salman.


"Mulai malam ini, aku berjanji tidak akan pernah membuatmu sakit hati, menyakiti pun hanya sampai malam ini, karena untuk malam berikutnya kamu pasti tidak akan merasakan sakit lagi, bahkan kalau mau mencobanya lagi sekarang, aku jamin kamu tidak akan sakit," goda Salman yang kali ini mampu membuat Anna tersipu malu lagi.

__ADS_1


***


Part ini aku revisi beberapa kali karena terus ditolak editor. Maaf jika kurang sesuai ekspektasinya.


__ADS_2