
Pagi ini Anna buru-buru pulang untuk bersiap-siap karena rencananya orang tuanya akan tiba sekitar pukul 11 siang ini. Seperti biasa Anna diantarkan oleh Salman ke kosan dan setelah itu Salman memilih untuk pergi ke tempat kerjanya.
Perasaannya jadi gugup ketika akan bertemu dengan orang tua Anna malam ini. Ya, Anna meminta untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di saat Salman setelah selesai dengan urusan pekerjaannya.
Sementara itu Anna justru malah memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia masih merasa kantuk dan akhirnya terlelap hingga suara ketukan pintu kamarnya terdengar.
"Iya, tunggu," sahut Anna sambil menguap.
Raina dan Alex langsung geleng-geleng kepala ketika melihat Anna yang masih saja sama, kebiasaan tidurnya yang lama sudah menjadi ciri khas Anna sejak dia masih remaja.
"Kamu tuh udah mau dilamar masih aja tidurnya gak tahu waktu," cibir Raina yang langsung ngomel-ngomel.
"Kerja di rumah sakit itu gak gampang, Mi," sahut Anna seraya mengikat rambutnya.
"Lagian siapa suruh ngambil kedokteran?" lanjut Raina.
"Udah, Mami tuh sekalinya ketemu Anna pasti ngomelnya di rapel," cibir Alex yang malah memilih membaringkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur.
"Anna ... Mami tanya serius sama kamu ... pacar kamu itu guru kamu yang waktu itu ngasih jam sama kamu, bener?" selidik Raina yang justru orang baru datang bukan istirahat ini malah menginterogasi anaknya.
"Iya, dan juga ini," jawab Anna santai.
"Pantas aja Mami gak pernah belikan kalung itu, tapi ...." Raina menggantungkan ucapannya dan mengingat-ingat kapan Anna memakai kalung itu.
"Papi udah cerita, kan sama Mami?" tanya Anna pada ayahnya.
"Udah, Mami kamu gak percaya," sahut Alex.
"Mami ... aku tuh beneran gak tahu kalau ternyata dia suka sama aku, aku sih dulu nganggapnya cuma guru aja, tapi lama-lama aku suka juga," jawab Anna sambil terkekeh.
"Apa kamu tahu kalau Fais marah sama Mami gara-gara tahu mantan suami rekan bisnisnya cinta sama kamu?" hardik Raina.
"Itu masa lalu, Mi. Lagian mereka bercerai bukan karena aku, karena saat mereka bercerai aku dan dia sudah lose contacts, dan ketemu lagi ketika aku udah magang di rumah sakit, itu pun karena dia jadi korban kecelakaan." Anna menjeda ucapannya.
"Aku juga baru tahu dia tinggal di sini ketika ingin mengabari keluarganya dan melihat KTP-nya, dari sana aku baru tahu ternyata kita tinggal di kota yang sama tapi kita gak pernah ketemu," jelas Anna lagi.
__ADS_1
"Aku cinta sama dia, Mi. Aku sengaja pergi jauh dari kota itu agar aku bisa melupakannya, tapi aku tidak bisa dan Tuhan malah mempertemukan kami kembali," sambung Anna.
"Kalau kita gak setuju?" selidik Raina.
"Itu terserah Mami, aku hanya berusaha untuk mengenalkan seseorang yang berniat baik sama aku," sahut Anna diplomatis.
"Jam berapa kita ketemuannya?" ucap Alex menyahuti.
"Kalau emang gak setuju gak usah ketemuan aja, kasihan dianya ... nanti dikiranya aku mainin dia," tegas Anna dengan wajah datar.
"Ya, udah gak usah ketemu aja, Pi," sahut Raina cepat.
"Ya udah, gak rugi aku mah," sahut Anna seraya keluar dari kamarnya karena kesal.
"Kamu mau kemana?" teriak Raina.
"Aku nongkrong di depan, sumpek," sahut Anna yang entah kenapa dia merasa sensitif ketika berkaitan dengan Salman.
"Jika aku tidak berjodoh dengannya, lalu siapa jodoh aku?" batin Anna seraya duduk santai.
Sementara itu, Alex menegur Raina yang dianggap terlalu memprovokasi Anna. Dia sangat paham dengan apa yang sudah Anna dan Salman rasakan selama ini, hidup tanpa kabar selama 5 tahun dan ketika bertemu lagi dengan status yang masih sama-sama saling berpeluang satu sama lain maka Alex yakin jika pilihan Anna sudah tepat.
"Mami masih belum bisa menerima jika anak kita akan lepas dari kita, masih masih merasa jika Anna baru Mami lahirkan kemarin," jelas Raina.
"Udah, kamu mesti ikhlas, toh orang tua kita juga dulu sama seperti ini," pungkas Alex.
Anna yang sudah bosan nunggu di depan, dia pun akhirnya masuk ke kamar, dan saat masuk kedua orang tuanya malah asyik tidur di tempat tidurnya.
"Ke sini cuma numpang tidur," cibir Anna.
***
Sore hari Salman sudah menghubungi Anna lewat telepon. Anna dengan begitu lantang mengatakan jika malam ini tidak ada acara pertemuan apa-apa dan acaranya dibatalkan.
"Zea ... serius? Jangan bikin aku bingung," ucap Salman setelah mendengar ucapan Anna.
__ADS_1
"Anna, kamu tuh apa-apa sih." Alex langsung mengambil ponsel Anna dan melanjutkan komunikasi antara Anna dan Salman.
"Hallo ... ini pasti Salman, ya? Saya Papinya Anna. Malam ini jemput kami selepas magrib saja biar gak terlalu malam," ucap Alex.
Entah apa yang Alex dan Salman bicarakan karena Alex membawa ponsel Anna ke luar hingga Anna tidak bisa mendengar percakapan antara Salman dan Papinya.
Salman segera bergegas untuk menjemput keluarga Anna malam malam. Dia memakai pakaian casual dan Anna masih saja kesal karena ibunya itu.
Salman datang dengan menghubungi penjaga kos, kemudian penjaga kos memberikan kabar ada tamu untuk Anna.
"Itu di udah datang," ucap Anna seraya menyambar tasnya.
Mereka pun keluar dari kamar Anna menuju ke halaman depan. Senyum Salman langsung merekah dan memberikan salam pada kedua orang tua Anna, tapi ketika melirik Anna, Salman jadi menautkan kedua alisnya.
"Kenapa lagi?" tanya Salman lembut.
"Tahu, ah ... kesel," sahut Anna dan memilih naik ke mobil lebih dulu. Anna memilih duduk di kursi belakang karena pasti Papinya akan duduk di samping Salman.
Alex memerhatikan sikap Salman yang sabar menghadapi Anna yang kadang mudah moody, dia tersenyum karena ingat masa mudanya di mana dia yang harus banyak bersabar menghadapi Raina.
Salman dan Alex terlibat obrolan ringan sepanjang perjalanannya. Anna dan Raina seperti sedang gencatan senjata, tidak ada yang berani bicara duluan.
"Zea, kamu kenapa?" tanya Salman ketika mereka sudah sampai.
"Kita gak jadi nikah, ngapain juga ketemuan sekarang," sahut Anna yang seketika membuat Salman terkejut.
"Artinya malam ini aku akan ditolak?" batin Salman seraya menatap Anna yang lesu.
"Jangan salah paham dulu," ucap Alex yang tidak sengaja mendengar ucapan Anna
"Kita bicarakan dulu baik-baik, ya. Nanti tolong dimengerti jika Maminya Anna terkesan over protective," jelas Alex seraya merengkuh bahu calon menantunya untuk masuk.
Anna mengikuti Salman dan orang tuanya dengan malas. Dia bahkan duduk dengan memasang aura permusuhan dengan ibunya.
Sementara itu Alex dan Salman terlibat dalam obrolan ringan hingga setelah lama berbincang, akhirnya Salman mengungkap keinginan.
__ADS_1
"Saya ingin minta ijin sama Ibu serta Bapak untuk bisa menjadikan Zeanna sebagai makmun saya. Saya tidak bisa memberikan apa pun, hanya saya akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Zeanna," ucap Salman dengan wajah serius.
Salman menceritakan semua kisahnya dan perjalanan cintanya dengan Anna. Raina yang mendengarnya pun jadi mengerti dengan apa yang diucapkan Anna sebenarnya.