Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Diam-diam Membidik Anna


__ADS_3

Mata Salman dan Anna saling beradu. Entah kenapa Anna malah terus ingin memandang Salman yang saat ini tengah menatapnya secara tidak biasa.


"Mata itu kenapa membuat jantung aku berdebar seperti ini," batin Anna sambil memegang dadanya.


Anna menarik napasnya panjang untuk mencoba menetralisir perasaannya yang tidak jelas. Dia mencoba mengembalikan konsentrasi belajarnya, sebab tidak ingin jika nanti dia bakalan kena sasaran Salman untuk maju ke depan lagi.


Salman dengan gaya khasnya menjelaskan semua materi yang diajarkan hari ini. Dia dengan secepat kilat mampu mengembalikan profesionalismenya dalam urusan pekerjaan, meski hatinya masih merasa marah karena kejadian Anna tadi, tetapi dia mampu meredam itu semua dengan mengajar secara profesional.


"Untuk latihan jika ada yang kurang paham boleh bertanya sama temannya, atau langsung sama Bapak juga boleh," pungkas Salman mengakhiri pemaparan materinya.


Anna langsung membuka halaman buku matematika yang disebutkan oleh Salman untuk latihan. Dengan menggigit-gigit ujung pulpen Anna tidak sadar jika dari arah depan Salman tengah membidik dirinya dengan kamera di ponselnya.


Salman yang selesai memberikan latihan pada semua muridnya, dia hendak menggunakan kalkulator pintar di ponselnya untuk memberikan contoh pada murid-muridnya cara menentukan sudut-sudut istimewa di pelajaran matematika. Setelah selesai, Salman melihat Anna yang sedang tidak menatap ke arahnya, dan dengan berani dia mengambil foto Anna secara diam-diam.


"Akhirnya aku punya foto yang bisa aku gunakan jika sedang merindukannya," batin Salman sambil tersenyum, karena hasil bidikannya sempurna.


Dua jam pelajaran pun berakhir. Salman keluar dari kelas Anna dengan mengukir senyum khasnya pada setiap murid kecuali pada Anna.


Anna yang merasa jika gurunya itu agak sedikit berbeda pada dirinya, dia tidak ingin ambil pusing sebab masalah Adit dan Ferdy saja sudah cukup membuatnya pusing.


Pulang sekolah, Anna dan Amara berjalan ke arah luar gerbang sekolah. Dilihatnya mobil Salman melaju melewati dirinya. Entah kenapa melihat Salman yang terkesan cuek padanya, membuat Anna mendengus kesal, karena semua orang mungkin sedang mencoba mencari masalah dengannya.


Sesampainya di rumah, Anna langsung mengganti seragam dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sebelum akhirnya dia dipanggil oleh Mami dan Papinya.


"Anak laki-laki yang datang menjemput kamu itu siapa?" tanya Maminya dengan penuh selidik.


"Adit, Mi ... teman aku," jawab Anna cepat.

__ADS_1


"Kamu berteman dengan kakak kelas?" sambung Maminya dan Anna langsung mengangguk lemah.


"Kalau hanya sebatas teman, gak mungkin sampai rela menjemput kamu segala," cibir Maminya.


"Berteman dengan siapa pun boleh, tetapi ketika berteman dengan seorang laki-laki itu berbeda, Anna." Alex ikut membuka obrolannya.


"Papi bukan melarang atau membatasi kamu untuk bergaul, tetapi pandai-pandailah memilih dan memilah seorang teman, apalagi teman laki-laki. Baik buruknya dia tidak akan nampak ketika kalian dalam proses pendekatan, setelah rasa simpatik dari kamu udah dia dapatkan, baru aslinya bakal ketahuan," sambung Alex.


Anna mencerna ucapan papinya, ada benarnya juga dengan apa yang diucapkan papinya barusan, Adit sekarang semakin menunjukkan sikapnya yang tidak disukai oleh Anna, Arogan dan memaksakan kehendaknya sendiri.


"Aku akan lebih selektif lagi, Mi, Pi," ucap Anna meyakinkan.


"Kalau mau pacaran jangan sama anak yang tadi datang, Papi gak suka," tegas Alex yang seketika membuat Anna bingung kenapa papinya tidak menyukai Adit.


Anna memandang ke arah Maminya yang tampak diam. Setahu Anna, Maminya sungguh tidak pernah menyetujui jika Anna untuk pacaran, tetapi jika melihat ekspresi maminya yang seperti itu, Anna meyakinkan hatinya jika Maminya mungkin tidak akan keberatan jika Anna pacaran.


Anna hanya menghela napasnya panjang, ternyata maminya masih pada prinsipnya untuk tidak menyetujui jika Anna pacaran.


***


Keesokan harinya, Anna sudah siap untuk pergi ke sekolah. Kali ini Anna membawa sepeda motornya lagi agar bisa memberikan alasan untuk menolak jika sewaktu-waktu Adit mengajaknya pulang bareng.


Anna yang dulu mencintai Adit, sekarang perlahan rasa itu memudar ketika sudah tahu sikap Adit yang tidak sesuai dengan ekspektasi-nya atau karena Salman yang selalu membuatnya damai.


Anna mengemudikan sepeda motor tepat di belakang mobil Salman. Anna tidak tahu jika di dalam mobil Salman sudah menyadari jika Anna ada di belakangnya, sedangkan dia tidak sadar jika mobil yang ada di depannya adalah mobil Salman.


Sesekali Salman melirik ke arah belakang melalui kaca spion luar dan dalamnya. Dia tersenyum ketika melihat wajah segar Anna pagi hari yang justru malah membuat Salman selalu ingin melihat wajah Anna seperti ini setiap hari.

__ADS_1


Anna yang sedari tadi hanya fokus pada jalanan, dia baru sadar ketika mobil yang ada di depannya juga memasuki area sekolahnya.


"Aku pikir cuma mobil yang sama aja, ternyata Pak Salman," batin Anna ketika melihat wajah Salman yang baru keluar dari mobil.


Anna memarkirkan sepeda motornya. Namun, lagi-lagi mood-nya untuk belajar pagi ini diganggu lagi oleh Adit yang main narik-narik Anna dari parkiran.


Anna melihat Salman yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Dit, lepas ... malu dilihat orang lain," ucap Anna sambil mencoba melepaskan tangannya.


"Diam, kamu," ketus Adit.


Salman rasanya ingin menghajar laki-laki yang menarik Anna paksa seperti itu, tetapi Salman tidak bisa melakukannya karena dia tidak boleh ikut campur dengan urusan murid-muridnya.


Anna diseret oleh Adit ke belakang gedung sekolah. Entah kenapa Adit tiba-tiba jadi seperti ini. Namun, satu hal yang Anna makin tidak suka pada Adit ketika Adit dengan kasarnya mencengkram tangan Anna.


Adit mendorong Anna ke tembok kelas, hingga Anna tidak bisa lagi bergerak. Tangan Adit mengunci pergerakan sisi kanan dan kiri dari tubuh Anna.


"Gue yakin jika lo pernah melakukan ini sebelumnya, jadi lo jangan kaget jika gue sebagai pacar lo meminta hal yang serupa," ucap Adit sambil mendekatkan wajahnya pada Anna.


"Jangan, Dit. Ini sekolah ... lagian aku belum pernah," ucap Anna mencoba mengingatkan Adit.


Tubuhnya bergetar ketika melihat sikap Adit yang seperti ini. Anna tidak suka jika dia harus melakukannya seperti ini, meskipun dia belum pernah, tetapi kalau sama pacar mungkin tidak ada salahnya jika mencoba berciuman, tetapi tidak dengan paksaan.


Adit tidak mengindahkan ucapan Anna, dia langsung saja akan mengeksekusi bibir Anna. Namun, sayangnya Anna yang tidak bisa bergerak ke sisi kiri dan kanannya malah memilih berjongkok supaya bisa kabur dari Adit.


Tidak terima dengan Anna yang kabur, Adit hendak mengejar Anna, tetapi dihadang oleh Salman.

__ADS_1


"Kamu bisa saja dikeluarkan dari sekolah karena berusaha melecehkan siswi di sekolah ini," tegas Salman sambil menahan tangan Adit dengan cengkeramannya.


__ADS_2