Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Campur Tangan Alex


__ADS_3

Anna menggulung dirinya dengan selimut, dia masih terus memikirkan cara untuk bisa bicara hal yang dia inginkan pada Salman dengan baik-baik, tapi kenyataannya saat dia tengah berpikir, Salman masuk dan itu membuat Anna kaget.


"Aku bawakan makan siang," ucap Salman dengan tetap berusaha untuk bersikap biasa.


"Mas, kamu marah?" sahut Anna ketika melihat Salman yang berekspresi dingin padanya.


"Untuk apa aku marah?" sahut Salman seolah mencibir Anna yang tidak punya malu karena setelah permintaan konyolnya untuk menggugurkan kandungannya Salman masih bisa bersikap biasa.


"Ucapanku yang tadi apa tidak mempengaruhi sama sekali?" selidik Anna.


"Tentu saja mempengaruhi, Zea. Namun, aku masih punya kewajiban untuk melayanimu sebagai istriku," jawab Salman tegas.


Anna memandang wajah yang biasanya selalu menampilkan ekspresi hangat sekarang jauh sangat dingin. Anna menyadari semua keinginannya itu adalah hal mustahil yang akan dia dapatkan.


Keduanya terdiam cukup lama, tidak ada yang berani bicara apa pun. Anna makan sedikit dan ketika hendak melanjutkan makan, dia kembali merasa mual dan segera lari ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya.


"Zea ... kamu gak apa-apa, Sayang?" Salman yang tadi memasang ekspresi dingin sekarang begitu khawatir ketika melihat istrinya yang muntah-muntah.


"Air." Anna yang merasa tenggorokan sakit meminta air pada Haidar.


Haidar lari mengambil air di atas meja, kemudian menyerahkannya pada Anna.

__ADS_1


Melihat istrinya yang seperti itu, sungguh Salman merasa sangat bersalah. Dia memijat tengkuk Zia, dan kemudian memapah Zia untuk kembali ke atas tempat tidur.


"Jika kita menggugurkannya gimana?"


Ucapan itu masih terngiang di telinga Salman. Dia bingung, di satu sisi dia begitu ingin punya anak, tapi di sisi lain dia tidak ingin melihat istrinya tersiksa seperti itu.


"Perut aku gak enak, Mas. Kepala aku juga pusing," keluh Anna merasakan tubuhnya bereaksi tidak biasanya.


Bersamaan dengan itu, Alex datang menemui Anna. Salman yang tadi sudah mendapatkan informasi jika mertuanya itu ingin bicara berdua, dia pun meminta ijin keluar dengan dalih ingin membeli cemilan kesukaan Anna.


"Apa yang kamu rasakan, Sayang?" Alex mengusap kepala putri bungsunya itu. Sudah dewasa tapi baginya Anna akan tetap jadi malaikat kecilnya yang melengkapi kebahagiaan keluarganya.


"Gak enak banget, Pi," sahut Anna.


"Mami pun sama seperti kami. Mami begitu susah makan, bahkan Mami gak mau di deketin Papi. Tapi semua itu hanya sebuah cerita yang tidak akan pernah kita rasakan jika kita tidak hamil, Sayang. Percayalah ... Tuhan sudah memberikan kepercayaan padamu untuk menjadi ibu, bayangkan di luar sana banyak yang ingin punya anak. Mereka melakukan banyak hal itu, ada yang rela pakai bayi tabung, ada yang rela melakukan program kehamilan yang terus-menerus, bahkan ada yang rela mengambil anak dari panti asuhan karena mereka saking punya anak tapi mereka tidak diberi kesempatan untuk memilikinya secara langsung." Alex menatap hangat putrinya.


"Kamu sungguh beruntung, hamil dalam keadaan masih muda. Tenaga masih kuat dan nanti kamu bisa menjaga anak kamu dalam kondisi yang masih segar karena usianya belum tua. Bayangkan mereka yang baru di kasih anak pada usia 50 tahun, apa mereka bis mengurus bayinya dengan sempurna? Tentu saja karena buah hati itu selalu dinantikan oleh setiap pasangan manusia."


Zia menyerap semua ucapan ayahnya. Dia tahu apa yang dia inginkan adalah salah, tapi dia masih belum siap.


"Tapi aku belum menginginkannya," lirih Anna.

__ADS_1


"Bayangkan ... jika dulu saat Mami hamil, Mami menolak untuk hamil sama kamu. Apa yang kamu rasakan?" Alex melemparkan pertanyaan yang tidak bisa Anna tebak.


"Apa yang kamu rasakan? Apa kamu sedih atau senang karena tidak terlahir ke dunia ini? Apa kamu sedih atau senang karena terlahir sebagai anak yang tidak diharapkan oleh ibunya?"


Deg!


Jantung Anna seperti tertusuk ribuan anak panah. Hatinya sakit membayangkan jika dia adalah anak yang tidak diinginkan oleh keluarganya. Air matanya menggenang di pelupuk matanya, dia merasakan dadanya begitu sesak hingga dia sulit untuk bernapas.


"Jika alasanmu tidak siap karena sekolah kedokteranmu, sesungguhnya Papi sudah berdosa karena tidak bisa memberikan kamu ilmu yang bermanfaat, Anna. Papi menyesal karena telah menyekolahkan kamu hingga jauh di kota lain, tapi hasil akhir dari pendidikan kamu hanya seperti ini, menjadi orang yang tidak bersyukur sama apa yang didapatkan." Alex terpancing emosinya.


"Ilmu yang kamu tuntut selama ini hanya menjadikan kamu hanya pintar secara intelektual saja, tapi rasa syukurmu sungguh tidak ada."


Alex berdiri dan pergi meninggalkan Anna yang saat ini sedang menangis.


Anna begitu tersentuh oleh ucapan ayahnya. Sungguh dia tidak pernah berpikir sejauh itu tentang pendidikan yang dia terima. Selama ini Anna hanya sering mementingkan diri sendiri dan mengedepankan egonya saja tanpa berpikir hal hal yang lainnya.


Salman yang hendak masuk ke kamar pun, dicegah oleh Alex.


"Jangan dulu kamu temui, biarkan dia mencerna apa yang barusan Papi katakan padanya."


Salman yang mendengar dengan begitu jelas ucapan mertuanya pada Anna, sungguh merasa jika Alex begitu sempurna menjadi seorang ayah. Dia yang akan segera menjadi seorang ayah pun tidak pernah berpikir sejauh itu ketika nanti dia menyekolahkan anaknya.

__ADS_1


"Terima kasih, Papi." Salman hanya bisa mengatakan hal itu saja. Baginya ikut campur mertuanya itu sungguh sangat membantunya untuk kembali membicarakan hal ini dengan Anna.


__ADS_2