Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Jangan Salah Paham


__ADS_3

Tiba di sekolah, Anna memarkirkan sepeda motornya. Tidak ada gangguan Adit lagi karena Adit sudah lulus.


Anna melihat Salman yang saat itu tengah menatap ke arahnya. Anna pura-pura tidak tahu dan dia hanya melenggang masuk ke kelasnya.


Kelas baru dan suasana baru dengan teman-teman baru juga, karena di kelas XII sudah pasti komposisi anak-anak ada yang berubah.


Untuk pertama kalinya tiga serangkai terpisah kelas, Anita dan Amara pun berpisah.


"Kita gak bisa baris bertiga lagi," keluh Anita ketika hendak berbaris di lapangan upacara.


Anna hanya tersenyum seraya masuk ke barisan kelasnya. Dia memilih untuk berbaris di paling belakang supaya tidak melihat Salman yang nantinya berada di depan berbaris bersama guru-guru yang lainnya.


Namun, keberuntungan selalu berpihak pada Salman. Kali ini dia tidak ikut baris di depan, melainkan baris di belakang untuk mengkondisikan anak-anak yang datang kesiangan.


"Barisannya diluruskan, lihat teman yang di depannya," ucap Salman pada Anna yang saat itu tidak sejajar dengan barisannya.


Anna yang merasa itu bukan padanya. Dia menoleh ke belakang dan untuk sepersekian detik netra Anna dan Salman bertemu, tapi detik berikutnya Salman segera mengkondisikan barisan yang lainnya, takut Anna merasa tidak nyaman.


"Hah ... tadi dia bicara sama aku?" batin Anna yang perlahan menyamakan posisinya dengan teman-teman di depannya.


"Seminggu gak ketemu suaranya terasa asing, apalagi kalau sebulan, setahun bahkan sepuluh tahun ... pokoknya aku pasti bisa melupakannya. Satu tahun tidak lama, Anna ... satu tahun pasti akan kamu lewati dengan cepat," batin Anna menyemangati dirinya sendiri.


Ya, Anna merasa berat untuk menuntaskan belajar di sekolahnya. Satu tahun untuk bisa lulus dari sekolah yang sekarang rasanya terasa begitu lama, karena perasaannya tidak tenang.


Anna yang masih merasa lelah, karena baru sampai tadi malam di rumahnya. Pagi ini kepalanya terasa pusing. penglihatannya mulai buram dan keringat dingin mulai keluar.


Upacara awal masuk sekolah yang biasanya lebih lama dari upacara setiap senin, membuat Anna ingin segera keluar dari barisan. Lutut Anna sudah terasa lemas, bukan karena tidak sarapan tapi karena Anna yang kurang tidur setelah perpisahan dengan Salman membuat kondisi Anna tidak seprima biasanya.


Anna berusaha untuk berjongkok, kemudian berdiri lagi. Anna mengusap keringat dingin yang mulai keluar di wajahnya dan itu tidak terlepas dari pandangan Salman.


"Zea, apa dia sakit?" batin Salman yang melihat Anna terus-terusan mengubah posisi dirinya.

__ADS_1


Anna melirik ke arah belakang dan ketika tatapannya bertemu dengan Salman, Anna terlihat pucat dan dengan sigap Salman mendekat.


Ketika langkah Salman yang hampir mendekat, Anna sudah tumbang pingsan dan untunglah bisa tertahan oleh Salman.


"Zea, kamu kenapa?" ucap Salman dan ternyata Anna sudah pingsan.


Barisan belakang sudah heboh tapi sudah berhasil kondusif lagi ketika Salman mengangkat tubuh lemah Anna ke UKS.


"Zea ... gak biasanya kamu seperti ini, kenapa? Apa kamu sakit?" gumam Salman sambil membawa Anna ke UKS.


Tiba di UKS, Salman meletakkan tubuh Anna di atas kasur. Dokter yang biasa berjaga pun langsung menangani Anna.


"Pak Salman ... sepertinya Zeanna harus dibawa ke rumah sakit. Ini harus dilakukan pengecekan total," ucap dokter jaga.


"Ke rumah sakit? Zeanna sakit apa?" sahut Salman panik.


"Sepertinya tekanan darahnya rendah, dan ini perlu pemeriksaan lanjutan. Hubungi saja keluarganya," sambung dokter jaga.


"Bahkan aku tidak tahu rumah kamu, Zea," batin Salman.


Salman membuka ponsel Anna, dia melihat wallpaper Anna dengan foto Anna yang tengah tertawa lebar kemudian dia segera mencari nomor telepon orang tua Anna.


"Ternyata ponselnya tidak di kunci, dasar ceroboh," gumam Salman.


Salman menggulirkan pencarian pada kontak Anna, ada kontak Mami dan Papi Anna, tapi Salman lebih memilih kontak Mami-nya Anna.


Salman menghubungi Raina, dan ternyata Raina dan Alex tidak bisa dihubungi, karena ponselnya sedang dalam mode pesawat.


Ya, Raina dan Alex harus menghadiri acara keluarga di pulau lain dan sekarang sedang berada di pesawat.


Anna yang dipaksa untuk ikut ke pulau lain bersama orang tuanya pun menolak dengan alasan tidak ingin bolos di hari pertama masuk sekolah.

__ADS_1


"Tidak ada jawaban. Kenapa, ya?" batin Salman bersamaan dengan Anna yang mulai siuman.


"Zea ... kamu sudah sadar?" ucap Salman antusias.


Anna hanya mengedarkan pandangannya. Melihat ada dokter jaga dia meyakini jika dia ada di UKS.


"Aku mau ke kelas," ucap Anna dengan kepala yang seperti berputar-putar.


"Kamu harus diperiksa lebih lanjut, Zeanna. Tapi orang tuamu tidak bisa kami hubungi," ucap dokter jaga.


"Mami dan Papi mungkin lagi di pesawat, aku bisa kok pergi sendiri," sahut Anna.


Salman yang mengetahui orang tua Anna sedang tidak ada di tempat, dia pun menatap Anna dengan tajam. Ucapan Anna tentang dia yang bisa pergi sendiri membuat Salman kesal.


"Sampai segitunya kamu percaya diri dengan keadaan kamu yang lemah seperti ini," cibir Salman.


Anna melirik ke arah Salman, jika tidak ada dokter jaga rasanya Anna ingin membalas ucapan pedas Salman.


"Berikan pengantarnya, dok. Saya yang akan membawa Zeanna ke rumah sakit," tegas Salman yang langsung diangguki oleh dokter jaga tapi tidak oleh Anna.


"Tidak usah, Pak. Aku ...." Belum sempat Anna menuntaskan ucapannya, Salman sudah menyelanya.


"Kamu sedang dalam keadaan tidak bisa menolak dan protes, karena kejadian ini berada di lingkungan sekolah maka kami yang harus bertanggung jawab," tegas Salman dingin.


Anna menatap ke arah Salman. Tidak ada wajah Salman yang hangat yang seminggu ke belakang dia lihat. Sekarang Salman terlihat dingin dan tidak bersahabat.


"Sepertinya dia benar-benar sudah bisa melupakan aku," batin Anna yang justru merasa sesak, karena meskipun dia tidak menginginkan Salman, tapi dia tidak ingin sikap Salman berubah jadi dingin seperti itu.


Salman membawa Anna ke rumah sakit. Anna hanya memandang ke arah luar jendela dan Salman fokus pada jalan raya.


"Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Salman dengan ekspresi dingin. Salman seperti itu karena tidak ingin membuat Anna tidak nyaman.

__ADS_1


"Aku bisa memeriksakan diri aku sendiri tanpa bantuan Bapak. Jadi, cukup antarkan saja aku ke rumah sakit setelah itu Bapak silahkan kembali ke sekolah," jawab Anna yang justru tidak menjawab pertanyaan Salman.


"Berhenti menunjukkan sok kuat padahal kamu membutuhkan pertolongan orang lain! Saya melakukan ini karena kamu pingsan di sekolah, jadi jangan salah paham!" tegas Salman yang seketika membuat air mata Anna lolos begitu saja dari mata indahnya membanjiri pipinya.


__ADS_2