Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Pegangan Tangan


__ADS_3

Anna memandang ke arah gurunya yang tengah menatapnya juga. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba Anna rasakan ketika bisa dekat dengan Salman seperti ini.


"Coba aja," sahut Anna enteng.


Salman tidak pernah mengira jika jawaban Anna seperti itu.


Salman dan Anna sudah berada di dalam mobil. Mereka memecah keramaian kota untuk menuju sebuah Mall tempat mereka akan menonton.


"Kalau hari libur emang kamu gak punya acara sama teman-teman kamu? Biasanya, kan anak ABG kayak kamu sukanya main ke tempat-tempat kekinian." Salman memulai kembali obrolannya setelah beberapa saat mereka sibuk dengan pemikiran mereka sendiri.


"Hari sabtu biasanya ada Nenek yang datang, dan kali ini Nenek gak bisa datang karena masih di luar kota. Aku jarang main sama temen-temen ... Mami aku galak," sahut Anna sambil nyengir.


"Itu artinya kamu anak yang penurut dong," sambung Salman.


"Dengan terpaksa," jawab Anna sambil terkekeh.


Sedikit demi sedikit Salman mengorek informasi tentang Anna secara langsung. Dia senang karena ternyata Anna memang gadis yang baik.


"Jika saja ada kesempatan, aku sungguh ingin mengenal kami lebih jauh, Zea. Namun, aku harus tahu diri jika keluargamu pasti tidak akan pernah menyetujui aku untuk dekat dengan kamu. Aku sadar diri dengan posisi aku yang sekarang," batin Salman.


Untuk pertama kalinya Salman merasakan hatinya sangat berdegup kencang ketika berdekatan dengan Anna. Hatinya yang tidak pernah membuka cinta untuk istrinya, sekarang justru malah terbuka lebar untuk Anna. Celah hati Salman sekarang terisi oleh nama indah yang selalu dia ukir, yaitu Zeanna.


"Bapak, mau nonton apa? Mau yang romantis?" tanya Anna sambil menggoda Salman.


"Terserah kamu saja, horor juga gak apa-apa," tantang Salman.


"Aku gak berani nonton horor. Takut gak bisa tidur," bisik Anna yang justru membangkitkan sesuatu yang baru pada diri Salman.


Anna tersenyum kemudian berjalan melihat-lihat poster film yang sedang tayang hari ini. Anna tersenyum sambil menunjuk ke arah poster film.


"Yang ini?"


"Oke." Salman menyatukan ibu jari dan telunjuknya sehingga membentuk simbol oke.

__ADS_1


Salman membeli tiket untuk dirinya dan juga Anna. Anna yang berniat akan mentraktir Salman nonton langsung terkejut ketika Salman sudah membelikannya tiket.


"Loh kenapa malah Bapak yang bayar? Kan aku yang ngajak Bapak nonton," keluh Anna sambil mengerucutkan bibirnya.


"Gak apa-apa. Kamu mau nemenin saya nonton aja itu udah lebih dari nelaktir. Jangan marah, ya." Salman berusaha untuk tidak menyinggung Anna.


Sebenarnya bisa saja Anna yang bayar, tetapi Salman merasa gengsi jika harus dibayarin oleh Anna. Dalam kamus Salman gak ada yang namanya cowok di bayarin cewek.


"Ya, udah ... lagian udah Bapak bayar, masa iya aku harus beli lagi."


Anna menerima dengan senang hati. Dia duduk di kursi tunggu sambil menunggu gedung bioskopnya dibuka.


"Zea," panggil Salman.


"Iya," sahut Anna.


"Tadi kamu bilang kamu jarang keluar. Alasan yang kamu berikan sama orang tua kamu tadi apa?" tanya Salman penasaran.


"Kok bisa Mami kamu gak fokus," selidik Salman penasaran.


"Mami aku lagi teleponan sama temen-temennya. Biasa emak-emak kalau udah nelepon pasti heboh dan pastinya lama." Anna cekikikan sendiri.


"Papi kamu gimana?" sambung Salman.


"Bapak, ih udah kayak reporter aja," cibir Anna sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. Salman hanya melongo sambil geleng-geleng kepala.


"Papi aku santuy, Pak. Papi aku orangnya pengertian. Aku punya pacar aja, Papi gak marah. Malahan bantuin aku jaga rahasia dari Mami," sambung Anna dengan wajah berbinar.


"Syukurlah. Itu artinya orang tua kamu saling melengkapi." Salman tersenyum.


Anna langsung terkesiap ketika melihat Salman yang tersenyum dari jarak yang dekat. Entah kenapa bicara dengan Salman sangat membuat Anna senang. Entah karena Salman yang supel dan entah karena ada hal lain yang sekarang tengah melanda hati Anna. Entahlah, hanya Anna yang tahu.


Bioskop sudah mulai dibuka. Anna masuk lebih dulu kemudian disusul Salman. Anna dan Salman duduk saling bersampingan tepat di barisan tengah.

__ADS_1


Film dengan genre romance perlahan mulai diputar. Alur cerita yang disuguhkan dari film tersebut sungguh membuat hati para penonton ikut merasakan apa yang sedang mereka lihat.


Berbeda dengan Salman, dia tidak fokus dengan layar yang ada di depannya tetapi dia lebih fokus menatap Anna yang sedang tampak serius menonton.


Anna yang merasa jika Salman sedang menatapnya, dia pun perlahan melirik ke arah Salman dengan ekor matanya. Namun, bukan Salman namanya jika ketahuan oleh Anna sedang menatapnya dengan intens.


Ketika Anna melirik ke arah Salman, Anna melihat Salman sedang fokus ke layar depan. Dia tersenyum sendiri, karena dia merasa jika dirinya berhalusinasi sedang ditatap oleh Salman.


"Anna ... apaan sih yang ada di otak kamu. Gak mungkin lah Pak Salman lihatin kamu," batin Anna mengingatkan.


Anna kembali menatap ke layar depan. Matanya langsung membulat dan buru-buru dia meletakkan tangannya di mata untuk menutup matanya agar tidak melihat adegan ciuman yang sedang berlangsung di dalam layar.


Salman yang melihat Anna menutup matanya pun dengan beraninya malah meraih tangan kiri Anna dan digenggamnya dengan begitu erat.


Deg ... deg ... deg ... deg.


Jantung keduanya berdegup begitu kencang. Anna menatap ke arah Salman yang sekarang sedang menggenggam tangannya, tetapi Salman tetap fokus pada layar yang ada di depan.


Entah apa yang sekarang sedang Salman pikirkan, satu hal yang membuatnya berani adalah ketika dalam film mengingatkan dia untuk mengejar apa yang dia inginkan. "Apapun resikonya, aku akan berusaha untuk memulainya," batin Salman.


Anna dibuat gemetar oleh sikap Salman yang menggenggam tangannya secara tiba-tiba. Jika saja lampu di ruangan menyala, maka Salman akan melihat wajah Anna yang sekarang sudah sangat merah, karena merasa shock sekaligus malu.


Begitu juga dengan Salman, dia begitu gugup dan tangannya sekarang menjadi sedikit dingin, karena gugup ketika menggenggam tangan Anna, gadis yang mampu menggetarkan hatinya.


Anna berusaha untuk melepaskan tangannya, tetapi Salman makin mengeratkannya seakan memberi tahu jika dirinya sangat menginginkan Anna.


"Biarkan seperti ini dulu," bisik Salman ketika Anna menatapnya.


Salman menyunggingkan senyumnya ketika melihat Anna yang penurut. Dia pun kembali menatap ke arah layar depan sambil memikirkan jawaban apa yang harus dia sampaikan jika nanti Anna bertanya kenapa dia melakukan hal ini.


"Pak Salman kenapa, ya? Kok tiba-tiba aku merasa kalau dia ...." Anna menggantungkan pikirannya karena tidak terlihat geer oleh sikap manis Salman.


"Jika boleh jujur, kenapa aku malah suka dengan sikapnya yang seperti ini," batin Anna menyadari perasaannya pada Salman tidak biasa.

__ADS_1


__ADS_2