
Salman yang saat ini tengah senyum-senyum sendiri, karena Anna meneleponnya secara tidak sengaja. Salman meyakini jika nomornya terpanggil begitu saja ketika mereka bertukar pesan dan secara tidak langsung malah terhubung untuk telepon.
"Kenapa malah makin tidak bisa melupakannya," gumam Salman ketika melihat layar ponselnya mati setelah sambungan telepon dimatikan Anna.
"Jatuh cinta sungguh membuat aku jadi orang yang kelimpungan kayak gini," lanjut Salman sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kalau saja aku punya keberanian untuk mengatakan perasaan aku, sudah sangat pasti aku tidak akan seperti ini," keluh Salman yang merasakan rindunya membuncah, karena tidak bisa bertemu langsung dengan Anna.
Namun, saat pikirannya terfokus pada Anna, dia pun kembali menatap layar ponselnya. Rasa yang begitu sulit untuk dia tekan membuat Salman memberanikan diri untuk menghubungi Anna balik.
"Kayaknya ada yang sedang berbohong," ucap Salman setelah Anna menyahuti panggilan teleponnya.
"Bapak mendengar percakapan aku sama kakak aku?" sahut Anna yang justru merasa malu.
"Iya, Abang ... Itu, kan panggilan sayang kamu," jawab Salman seraya tersenyum.
"Maafkan Abang aku, ya, Pak. Dia tuh kadang rese, dan juga kadang ngomong yang unfaedah juga," jelas Anna.
"Tapi saya suka loh. Sepertinya kamu dekat dengan kakakmu itu," sambung Salman.
"Seratus untuk Bapak," jawab Anna dengan tersenyum.
Obrolan mereka terus berlanjut. Telinga panas dan juga ponsel panas, karena saking lamanya mereka berkomunikasi lewat ponsel tidak menyurutkan mereka atau tidak menjadikan mereka bosan dengan obrolan-obrolan ringan dan juga unfaedah. Yang mereka rasakan hanyalah rasa nyaman atas perhatian dari satu sama lainnya.
Selepas menghubungi Anna. Ponsel Salman kembali berdering. Salman langsung menghela napasnya panjang ketika melihat nama yang muncul dalam ponselnya.
"Salman ... bukankah hari ini kamu sudah memasuki liburan sekolah? Kenapa belum ada kabar jika kamu akan pulang," ucap ibunya Salman di sambungan telepon.
"Aku lagi ada urusan dulu, Bu. Nanti juga aku pulang," jawab Salman beralasan, padahal dia benar-benar belum kepikiran untuk pulang, karena takut istrinya akan meminta haknya sebagai pasangan suami istri.
"Kamu tuh harusnya ingat jika sekarang kamu sudah tidak hidup sendiri. Di sini ada istrimu yang sedang menunggu kepulangan suaminya. Kamu itu lupa atau memang pura-pura lupa?" hardik ibunya Salman tegas.
"Mana mungkin aku lupa, Bu. Aku ingat dengan status aku ... nanti setelah semua urusan aku selesai aku akan pulang," jawab Salman mencoba menenangkan ibunya.
__ADS_1
"Baguslah ... kalau kamu tidak pulang, Ibu tidak akan mengijinkan kamu untuk mengajar lagi. Meskipun itu Yayasan keluarga ayahmu ... Ibu tidak akan pernah mengijinkan kamu untuk mengelolanya," pungkas ibunya Salman mengakhiri sambungan teleponnya secara sepihak.
Salman menarik napasnya panjang. Sungguh dia tidak ingin pulang jika saja ibunya itu tidak meneleponnya.
Ada satu hal yang membuat Salman penasaran. Dia tidak pernah bertanya ke mana Anna pergi. Dia tidak ingin dianggap terlalu ingin mencari tahu, padahal sebenarnya dia sangat ingin menyusul ke mana pun wanita yang dia sukai pergi.
***
Dua hari sudah berlalu, Salman yang terus-terusan dihubungi oleh ibunya, dia pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Kakinya begitu berat untuk melangkahkan kakinya ke dalam gerbang rumahnya, di mana di sana ada istrinya juga yang saat ini tengah menunggunya, karena kebetulan hari ini adalah hari minggu.
"Akhirnya kamu sampai," ucap ibunya Salman ketika melihat Salman memasuki pekarangan rumahnya.
"Apa kabar, Bu?" Salman mencium punggung tangan ibunya dan pandangannya beralih pada sang istri yang tengah tersenyum menyambut dirinya.
"Apa kabar?" tanya Vania, istrinya Salman seraya memeluk Salman.
Tubuh Salman kaku menolak sentuhan itu, tapi dia tidak boleh terlalu menunjukkan jika dia tidak menginginkan istrinya itu, karena walau bagaimanapun juga istrinya berhak penuh atas dirinya.
"Aku baik, kamu gimana?" sahut Salman dengan membalas pelukan istrinya malas.
Salman kembali membeku, entah kenapa pikirannya tiba-tiba saja teringat pada Anna, dia membayangkan ketika Anna bersikap manja padanya dan itu terlihat menggemaskan, tapi sekarang ketika dengan Vania, wanita yang sudah dia nikahi 5 bulan lalu rasanya tidak seperti yang Salman rasakan pada Anna.
Salman hanya mampu tersenyum untuk menutupi rasa yang sebenarnya. Dia masuk ke dalam rumah, dan alangkah terkejutnya ketika melihat ke kamarnya, semuanya berubah karena ditata ulang oleh Vania.
"Gimana? kamu suka dengan desain yang aku pilih?" ucap Vania sambil bergelayut manja.
Vania yang seorang pengusaha sudah sangat tentu punya desain sendiri untuk menghias kamarnya dengan Salman.
"Bagus," jawab Salman pendek.
Salman yang masih canggung untuk berinteraksi dengan istrinya yang usianya terpaut 5 tahun di atasnya, dia masih merasa jika obrolan Vania tidak seperti Anna.
"Kenapa aku malah membandingkannya," batin Salman.
__ADS_1
"Aku udah siapin air hangat untuk mandi. Ayo mandi dulu biar bersih," ucap Vania lembut.
Salman hanya mengangguk sambil membawa pakaian ganti. Sampai di kamar mandi, dia mengguyur tubuhnya di bawah shower, bayangan Vania yang akan menuntut haknya malam ini sungguh membuat Salman bingung, dia tidak mungkin menyentuh Vania dan yang lebih parahnya lagi dia tidak mungkin mengabaikan hak Vania darinya.
"Zea ... kamu membuatku gila," batin Salman menjerit.
Sementara itu, di tempat lain hari ini Anna diajak Fais membeli gaun untuk menemani Fais di acara perayaan kerja sama antara perusahaan Fais dengan rekan bisnisnya yang lain.
Senin malam nanti adalah acara yang sudah dipersiapkan Fais untuk keberhasilan usahanya itu, maka Fais pun ingin membawa Anna turut hadir dalam acara tersebut, sedangkan kedua orang tuanya tidak bisa hadir, karena ada acara lain.
"Abang ... gimana?" tanya Anna ketika mencoba gaun yang begitu pas di tubuh Anna.
"Bagus, kamu cantik, Dek. Ambil ini aja, ya?" sahut Fais.
"Oke," jawab Anna sambil menyatukan ibu jarinya dengan telunjuknya sehingga membentuk huruf o.
Anna keluar dari butik dengan senyum-senyum sendiri. Dia membayangkan jika seandainya pergi belanja dengan Salman pasti lebih menyenangkan lagi.
"Kamu kenapa senyam-senyum gitu?" tanya Fais iseng.
"Abang ... aku boleh tanya sesuatu gak?" sahut Anna ragu-ragu.
"Apa?" Fais penasaran.
"Tapi jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita," bisik Anna padahal mereka sedang dalam mobil.
"Iya, ayo katakan," sahut Fais.
"Menurut Abang ... kalau seorang laki-laki punya perasaan lebih pada perempuan itu tanda-tandanya seperti apa?" tanya Anna yang tidak langsung mengerucutkan pertanyaannya.
"Biasanya sih lebih perhatian," jawab Fais.
"Kalau cuma perhatian kan sahabat juga perhatian, Bang," kilah Anna.
__ADS_1
"Beda, Dek ... laki-laki jika sudah suka pada perempuan pasti akan memberikan perhatian yang lebih, meskipun berasal dari sahabat Abang yakin pasti perhatiannya lebih dari sekedar itu. Terus biasanya kebanyakan cowok suka ngajak nonton atau makan kalau si cowok itu suka sama cewek," sambung Fais yang langsung membuat Anna malu sendiri karena ucapan Fais dia alami sendiri.
"Kamu sedang di dekati cowok?" tanya Fais spontan yang membuat Anna tersedak oleh air liurnya sendiri.