Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Ketemu Lagi


__ADS_3

Anna mengambil ponsel Salman, kemudian dia mengetikkan nomor ibunya, tetapi ponsel ibunya tidak aktif.


"Ponsel Mami akunya gak aktif." Anna menggerutu.


"Ponsel kamu, kan ketinggalan pas lagi makan, artinya kemungkinan ponselnya masih ada di atas meja makan atau disimpan sama ibumu. Coba hubungi nomor kamu saja." Salman memberikan solusi.


Anna langsung mengetikkan nomornya cepat, dan benar saja ketika sambungan telepon baru terhubung, Anna sudah langsung mengadu pada ibunya.


"Mami ... perut aku sakit, aku mau pulang ... tapi harus dijemput Mami," ucap Anna saat sambungan teleponnya dijawab oleh ibunya.


"Tungguin di ruang piket saja, Mami sekarang jemput kamu." Raina langsung memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas untuk menjemput putri kesayangannya.


"Ini, terima kasih, ya, Pak." Anna mengembalikan ponsel Salman.


Salman tersenyum, dan tanpa Anna sadari Salman menyimpan nomor ponsel Anna.


"Aku kenapa jadi begini? Kenapa hati aku merasa senang ketika bisa melihat wajahnya, dan juga tingkah polosnya membuat aku jadi ingin terus menemuinya," batin Salman ketika melihat Anna yang sudah dijemput oleh ibunya.


"Aku tidak mungkin menyukai dia, kan? Ingat kamu sudah beristri."


Lagi-lagi Salman mencoba menepis semua rasa yang baru-baru ini dia rasakan. Meskipun sudah menikah, Salman memang tidak pernah merasakan seperti sekarang, rindu pada orang yang salah. Harusnya dia rindu pada istrinya yang sekarang sedang jauh darinya.


***


Hari sabtu adalah hari yang dinanti-nanti oleh Anna. Pasalnya hari ini Anna akan pergi nonton bareng Adit.


"Mi ... aku boleh nonton sama temen-temen aku, gak?" Anna meminta ijin pada Maminya.


"Boleh, asal jangan terlalu sore pulangnya, dan ingat ... jangan terus keluyuran," sahut Raina sambil membereskan piring yang baru selesai dia cuci.


Anna memeluk sang Mami dengan begitu senang, karena mendapatkan ijin untuk nonton dengan Adit.


Anna segera naik ke atas untuk segera bersiap-siap. Dia sengaja mengambil yang jadwalnya jam 1 siang, supaya tidak terlalu pagi.


Anna mengenakan celana pendek di atas lutut dengan atasan yang agak longgar. Dia melihat dirinya di depan pantulan cermin sambil mengikat rambutnya.

__ADS_1


"Mi ... aku pergi bawa motor, ya." Anna berteriak sambil memasang sepatu.


"Hati-hati di jalannya. Ingat, jangan terlalu sore pulangnya." Raina terus mengingatkan agar putri bungsunya pulang tidak telat.


"Oke." Anna mencium punggung tangan ibunya sambil keluar dari rumahnya.


Sesampainya di Mall. Anna langsung menuju ke tempat bioskop berada. Dia segera memberi memberi kabar pada Adit, jika dia sudah menunggunya. Namun, ponsel Adit tidak aktif dan Anna memutuskan untuk menunggunya.


Anna terus melihat ke arah ponsel, tetapi pesannya masih belum terkirim karena ponsel Adit tidak aktif, hingga akhirnya jam penayangan film sudah mau dimulai, Anna akhirnya memilih untuk masuk duluan.


[Dit, aku udah di dalam. Nanti kamu nyusul aja, ya.]


Anna mengirimkan pesannya lagi pada Adit berharap Adit akan membacanya.


Anna duduk sesuai dengan nomor tiket yang dia beli. Di samping kiri dan kanannya masih kosong, kalau samping kiri itu milik Adit dan samping kanan Anna langsung terkejut ketika ada seseorang yang duduk di sampingnya, dan ternyata itu orang yang dia kenal.


"Pak Salman?" sapa Anna ketika Salman yang baru saja duduk di sisi kanan Anna.


"Zea," sahut Salman dengan mengerutkan keningnya dan melirik ke arah kursi sebelah Anna yang masih kosong.


Pak Salman?" sapa Anna ketika Salman yang baru saja duduk di sisi kanan Anna.


"Zea," sahut Salman dengan mengerutkan keningnya dan melirik ke arah kursi sebelah Anna yang masih kosong.


"Iya, kamu?" tanya Salman balik.


"Saya sama temen, tapi belum datang." Anna tersenyum sambil mencoba melihat ke layar ponselnya, ternyata tidak ada pesan balasan dari Adit.


"Dia kenapa belum datang? Apa mungkin terjebak macet?" tanya Anna pada dirinya sendiri.


Salman melirik ke arah Anna, dia tersenyum sendiri ketika melihat wajah Anna yang cemberut.


"Kenapa cemberut kayak gitu? Kecewa, ya, pacarnya gak datang?" Salman dengan begitu berani langsung bertanya seperti itu.


"Jangan asal nebak deh, Pak," gerutu Anna tidak suka.

__ADS_1


Entah kenapa, Anna tiba-tiba jadi makin kesal, Adit yang tak kunjung datang membuat perasaannya jadi ingin marah-marah.


"Udah, nanti juga bakalan datang. Sekarang nikmati saja, tuh udah mau mulai," pungkas Salman seraya menunjuk ke arah layar yang terpasang di depan mereka.


Anna kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia langsung fokus untuk menonton film yang baru saja diputar.


Salman senyum sendiri melihat Anna duduk di sampingnya. Ini sungguh suatu kebetulan yang tidak pernah disangka-sangka. Dia mengagumi sosok Anna dan sekarang malah duduk saling berdampingan untuk menonton film yang mereka suka juga.


Salman mencuri-curi pandang ketika Anna fokus menonton film, dan entah kenapa juga Anna tiba-tiba ingin melirik ke arah Salman, hingga akhirnya tanpa di sengaja tatapan mereka beradu untuk beberapa detik.


"Kamu cantik." Ingin rasanya Salman mengatakan demikian, tetapi itu hanya mampu dia katakan dalam hati saja.


"Pak Salman kalau dilihat dari dekat, ternyata ganteng juga," batin Anna.


Tanpa mereka sadari mereka sudah saling memuji satu sama lain, tetapi mereka kembali menetralkan pikiran-pikiran yang baru saja singgah karena teringat akan pasangan mereka masing-masing.


Film yang sedang ditonton oleh Anna dan Salman adalah film romantis. Anna langsung menutup matanya dengan spontan ketika melihat ada adegan romantis yang sedang diperankan oleh pemain di film tersebut.


Salman melihat Anna yang menutup matanya dengan tangan terkekeh geli. Rupanya Anna masih belum terbiasa melihat adegan seperti itu, apalagi di sampingnya ada gurunya yang ikut nonton juga.


Melihat Anna seperti itu, rasanya Salman tidak bisa hanya diam saja melihat gadis SMA yang masih polos itu menutup matanya. Salman ingin menggoda muridnya itu.


"Kenapa matanya ditutup? Seru loh," goda Salman sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Anna untuk berbisik.


Anna spontan melirik ke arah Salman dan wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci saja. wajah mereka hampir menempel andai saja Salman tidak segera menarik dirinya, karena dia merasakan sesuatu yang tidak biasa dengan hatinya.


"Bapak jangan iseng kayak gitu. Bapak udah dewasa dan udah ngalaminya, sedangkan aku ... aku belum pernah," ucap Anna sambil menutup mulutnya karena tiba-tiba saja dia malah mengungkapkan yang seharusnya tidak dia ucapkan.


"Kalau cowok kamu ngajakin ke sini untuk nonton, artinya adegan yang tadi kamu lihat ingin dipraktekkan langsung, apa kamu tidak mengerti?" tanya Salman.


"Pasti kamu kecewa karena pacarnya gak datang. Harusnya ini jadi pengalaman kamu, kan," goda Salman.


"Apaan sih," Anna merajuk dan kembali fokus menonton film.


"Zea ... kamu beruntung karena dia tidak datang. Kalau dia datang, tetap saja adegan itu tidak akan bisa kalian lakukan sebab ada saya di sini yang akan menyaksikannya," tegas Salman berharap Anna tidak akan pernah melakukan ciuman dengan laki-laki lain.

__ADS_1


"Kenapa aku berharap jika aku yang akan mencicipi bibir ranumnya?" batin Salman sambil tersenyum ke arah Anna.


"Zea ... sepertinya kamu sudah berhasil masuk ke hati aku. Inikah yang dinamakan cinta?" tanya Salman pada dirinya sendiri.


__ADS_2