Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Menuju Halal


__ADS_3

Pagi hari Anna mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia menyipitkan matanya dan melihat ke arah sekitar tempat tidur tidak ada Salman di sisinya.


"Semalam aku ingat betul jika dia tidur di sini sama aku, sekarang ke mana? Apa udah pindah atau mungkin semalam pindah?" gumam Anna pelan.


Anna bangun dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi untuk mandi. Selesai dengan ritual mandi, dia keluar dari kamar dan melihat kamar Salman yang sudah terbuka.


Anna tersenyum saat melihat ibunya Salman sedang menyiapkan sarapan.


"Selamat pagi, Bu?" sapa Anna hangat.


"Udah bangun? Gimana tidurnya? Betah gak tinggal di sini?" rentetan pertanyaan dari ibunya Salman ketika menyahuti sapaan Anna.


"Semalam aku susah tidur, Bu. Mungkin karena ini tempat baru jadi aku mesti perlu adaptasi dulu," jawab Anna sambil tersenyum.


"Itu sudah biasa, Ibu pun sama seperti itu," sahut Ibunya Salman.


"Kamu, kan kerja di rumah sakit, nah suka ke bagian dinas malam dong?" sambung ibunya Salman.


"Iya, sebulan aku kebagian satu minggu untuk dinas malam, jadi sedang tidur aku dengar suara bel udah pasti aku bakalan langsung bangun karena mengira ada pasien darurat," jawab Anna yang sekarang malah terlihat santai sudah mengganti saya dengan aku.


"Pasti berat, tapi setiap pekerjaan akan ada resikonya. Nikmati saja," ujar ibunya Salman diplomatis.


"Udah bangun, Zea."


Suara Salman dari arah luar terdengar dan napas Salman terlihat sedikit memburu dan keringat pun terlihat bercucuran.


"Kamu dari mana?" tanya Anna yang spontan mengambil air minum untuk Salman.


Ibunya Salman melihat apa yang Anna lakukan itu bukan mengada-ada, melainkan karena kebiasaan.


"Aku udah jogging ... lumayan cari udara seger," jawab Salman seraya meminum air yang Anna berikan.


"Hari ini kita berangkat jam 1 siang, jadi siapkan apa aja yang akan Ibu bawa ke rumah Zeanna," ucap Salman pada ibunya seraya menarik kursi meja makan.


"Kamu mau sarapan langsung? Gak mandi dulu?" tanya Anna dan Salman langsung mengangguk.


Ibunya Salman hanya tersenyum ketika melihat Anna yang tampak sudah biasa menghadapi Salman dan juga sebaliknya.

__ADS_1


"Ternyata mereka sudah saling paham satu sama lainnya. mudah-mudahan saja ini adalah pernikahan terakhir untuk Salman," batin ibunya Salman.


***


Di kediaman orang tua Anna sekarang sedang sibuk untuk mempersiapkan menyambut kedatangan orang tua Salaman di rumahnya.


Raina menyiapkan semuanya dengan sangat sempurna sehingga ketika Anna, Salman dan Ibunya Salman tiba semuanya sudah siap.


"Mami, ini Ibunya Mas Salman," ucap Anna ketika mereka baru tiba.


"Wah Ibunya Zeanna masih muda, cantik seperti Zeanna," ucap ibunya Salman sambil bersalaman.


"Ibu juga cantik," sahut Raina.


Semuanya berkenalan satu sama lain. Kehangatan keluarga Salman dan Anna terlihat begitu kental. Sesekali Salman mencuri-curi pandang pada Anna yang berubah 180 derajat dari anak manja jadi anak yang bisa diandalkan.


"Bagaiman kalau kita adakan acara pernikahan putra putri kita sekitar 2 minggu lagi?" ucap Ibunya Salman yang sontak membuat Raina dan Alex terkejut karena rencana awal mereka minta waktu satu bulan.


"Apa itu tidak terlalu cepat, Bu. Kita perlu menyusun dan menyiapkan segala sesuatunya dengan matang," sahut Raina kurang setuju


"Kita bisa bagi-bagi tugas, Bu. Ada percetakan undangan yang bisa selesai satu hari, untuk catering, make up dan lain-lain mari kita cari sama-sama. Kebetulan saya tidak akan kembali dulu sebelum akhirnya semua persiapan pernikahan ini selesai," jelas ibunya Salman.


"Kita ikut saja, Mi. Lagian benar apa yang dikatakan ibu besan, kita bisa membagi tugas hingga besok kita bisa menemukan semua solusi untuk acara ini," jawab Alex tegas karena dia pun sudah punya chanel untuk membantu kelancaran acara pernikahan Anna.


"Untuk fitting baju bisa dilakukan besok sebelum Anna kembali ke kota Y," lanjut Ibunya Salman.


Salman hanya tersenyum, ternyata ibunya benar-benar paham jika Salman udah ngebet pengin nikah.


Usulan ibunya Salman disetujui, dan Anna hanya geleng-geleng kepala karena tidak bisa memberikan masukan apa-apa.


"Anna, tadi Mami udah nelepon pihak butik, besok kamu dan Salman ditunggu jam 8 pagi katanya," ucap Raina yang sudah langsung mulai bekerja.


"Iya, Mi," sahut Anna lemas.


Bahkan ibunya Salman dan Raina langsung pergi bersama Alex untuk melihat gedung yang akan dijadikan tempat acara resepsi pernikahan Anna dan Salman.


"Kayaknya yang semangat pengin nikah mereka deh," ucap Anna ketika melihat orang tuanya begitu antusias.

__ADS_1


"Aku bahkan gak nyangka jika Ibu akan seantusias ini," sahut Salman sambil tersenyum.


"Zea," panggil Salman yang baru kali ini dia dapat kesempatan untuk bicara lagi.


"Apa?" sahut Anna seraya menoleh ke arah Salman.


"Kamu manggil aku Mas, itu hanya di depan Ibu atau ...." Salman menggantungkan ucapannya.


"Kenapa? Gak suka?" sahut Anna cepat.


"Katanya terserah aku mau manggil apa, eh sekarang malah protes," keluh Anna.


"Bukan protes, Sayang," kilah Salman.


"Aku cuma kaget aja, ternyata kamu sangat manis kalau manggil aku kayak gitu," jelas Salman dengan tersenyum.


"Aku tuh gini-gini dokter, masa aku tidak tahu tatakrama dalam berbahasa. Manggil nama sama orang lebih tua itu gak sopan, apalagi kamu akan jadi suami aku, jadi aku putusin untuk manggil kamu Mas Salman," jelas Anna sambil memainkan bibirnya hingga membuat Salman gemas melihatnya.


"Tuh, kan kamu sengaja menggoda aku," ujar Salman.


"Udah ah kita puasa dulu. Pokoknya sampai kita nikah nanti, kamu gak boleh nyari-nyari kesempatan dalam kesempitan," bisik Anna yang takut terdengar oleh orang lain.


"Baiklah ... aku akan menunggu 2 minggu," sahut Salman setuju.


***


Hari ini Anna dan Salman harus kembali ke kota Y. Setelah fitting baju mereka langsung terbang ke kota Y, untuk mengurus segala sesuatunya.


Anna mengajukan cuti ketika H-3 pernikahannya dan H+3. Dia sengaja mengambil waktu yang berimbang agar tidak terlalu lama cutinya.


Hari yang di nantikan oleh Salman pun semakin hari semakin dekat. Dia saat ini tengah mengambil pesanan satu set perhiasan untuk Anna dan juga untuk cincin kawin mereka.


Salman memutuskan untuk tinggal di rumah dan bukan apartemen. Dia ingin Anna merasa nyaman seperti di rumahnya dan dia pun ingin menunjukkan pada tetangganya yang sering bergosip jika sekarang Salman sudah menikah.


Selama dua minggu ini pun baik Salman ataupun Anna tidak ada yang bertemu, bahkan untuk kepulangannya pun Anna sudah diatur oleh keluarganya dan di jemput oleh Fais.


Sementara itu, Salman memilih untuk pulang sendiri dan langsung menuju kota kelahiran Anna, karena semua keluarganya sudah berkumpul di sana.

__ADS_1


"Lusa aku dan Zea akan mengikrarkan janji suci. Semoga semuanya lancar," batin Salman.


__ADS_2