
"Kamu tuh mikirnya kejauhan," ulang Anna seraya mendekat ke arah Salman.
"Ya itu, kan karena aku gak tahu, Zea," sahut Salman.
"Kamu juga, kan pernah tidur bareng sama cewek," sahut Anna sambil memanyun-mayunkan bibirnya dan memainkan ujung kaos yang dia pakai.
Salman tersenyum kemudian menarik Anna untuk duduk di pangkuannya.
"Eh ini kenapa gini? kaki kamu masih belum kuat loh," ucap Anna yang takut jika dia duduk dipangkuan Salman nanti kaki Salman retak lagi.
"Gak akan ... aku udah kok, kok," jawab Salman cepat.
Salman mengaitkan anak rambut Anna sambil mengusap-usap pipi Anna.
"Kamu ingin tahu apa yang udah aku lakukan dengan mantan istriku?" ucap Salman dengan menatap lekat Anna.
"Enggak, ngapain juga kamu cerita ... bukan urusan aku," kilah Anna seraya mendelik karena tidak suka.
"Aku belum pernah tidur satu kasur dengan siapa pun, Zea. Aku bahkan belum pernah tidur sama Vania," jelas Salman.
"Itulah salah satu keputusan yang aku buat untuk mengakhiri pernikahan aku dulu. Aku kasihan sama Vania karena diperlakukan buruk sama aku, bahkan aku karena tidak ingin berdosa tidak bisa menjalankan kewajiban aku sebagai seorang suami makanya aku memutuskan untuk mengakhiri pernikahan aku, aku tidak ingin membuat Vania tersiksa terus-terusan hanya karena keegoisan aku," sambung Salman.
"Sebelum bertemu denganmu, aku memang sudah tidak pernah menginginkannya ... dan setelah bertemu denganmu ... aku baru sadar jika ternyata dia pasti akan kecewa jika sampai tahu aku menyukai wanita lain. Aku memberanikan diri bicara baik-baik dengannya dan meskipun awalnya dia tidak menerima tapi kita bisa berpisah juga," lanjut Salman.
"Lalu ibumu gimana?" tanya Anna penasaran.
"Ibu mungkin masih marah sama aku, tapi saat ini sikap Ibu sudah kembali normal ... namun, aku tidak tahu apakah Ibu sudah memaafkan aku atau belum," jawab Salman.
"Lalu bagaimana jika nanti Ibumu tidak setuju dengan hubungan kita?" selidik Anna.
"Aku gak masalah. Yang aku khawatirkan adalah keluargamu, Zea," jawab Salman.
Anna tersenyum kemudian beranjak dari pangkuan Salman.
"Mami dan Papi orang baik, mereka pasti bisa menerima kamu, tapi ...." Anna menggantungkan ucapannya.
__ADS_1
"Kenapa?" sahut Salman tidak sabar.
"Abang Fais tahu kamu, dia pasti akan curiga jika aku sudah menggodamu hingga kamu bercerai," jelas Anna mengungkapkan kekhawatirannya. Bukan karena orang tuanya tapi kakaknya.
"Mami dan Papi ... aku yakin pasti akan menerima siapapun yang aku suka, tapi Abang ... aku gak yakin," lanjut Anna.
"Baiklah ... aku akan mencari cara agar abangmu bisa menerima hubungan kita," jawab Salman menenangkan Anna.
"Udah malam, mendingan kamu tidur ... kecuali kalau pengin aku ajak malam mingguan," sambung Salman sambil tersenyum.
"Enggak, ah. Besok aku harus masuk kerja jadi mesti istirahat dari sekarang," jawab Anna menolak.
"Iya, makanya aku nyuruh kamu istirahat karena tahu kamu udah lelah," jawab Salman seraya menarik Anna untuk naik ke atas tempat tidur.
Tanpa rasa canggung Anna naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sisi Salman yang hanya terhalang oleh bantal guling.
"Ini batasnya ... awas kalau melewati batas ini," ucap Anna sambil tersenyum.
"Iya," jawab Salman dengan tersenyum jahil.
"Matikan dong lampunya, aku pengin tidur nyenyak," lanjut Anna dan Salman pun mematikan lampu kamarnya, mengganti dengan lampu tidur.
"Zea," panggil Salman.
"Hemmm," sahut Anna tanpa mengubah posisi badannya.
"Ini, kan udah ada bantal guling sebagai pembatas terus sekarang aku cuma bisa lihat punggung kamu doang. lihat sini dong," pinta Salman aneh-aneh.
"Ish, kamu tuh cerewet. Coba tadi kalau tidur di luar kamu gak bakalan lihat aku, jangankan wajah aku punggung aku juga enggak," cibir Anna yang memilih memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Salman.
"Itu mah beda ceritanya," sahut Salman cepat.
Anna hanya tersenyum kemudian memejamkan matanya lagi.
Tidak ada obrolan apa-apa lagi. Anna terpejam dan Salman pun juga. Setelah sudah lewat beberapa menit, baik Salman ataupun Anna ternyata masih belum bisa untuk tidur.
__ADS_1
Salman sudah lebih dulu membuka kembali matanya dan melihat Anna yang tengah memejamkan matanya. Begitu juga dengan Anna, dia kembali membuka matanya dan menatap ke arah Salman yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan.
Salman tersenyum kemudian tangannya terulur untuk mengusap-ngusap kepala Anna.
"Tidurlah," ucap Salman.
"Aku gak bisa tidur," cicit Anna.
Salman kembali tersenyum, kemudian mengambil bantal guling yang dijadikan pembatas oleh Anna dan dia menggeser tubuhnya untuk lebih menempel lagi dengan Anna.
"Aku juga sama," sahut Salman seraya menarik Anna untuk tidur di dekapannya.
"Apa ini tidak akan apa-apa?" tanya Anna sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah Salman.
Salman menatap lekat wajah Anna. Dia membelai wajah sang kekasih yang saat ini tengah menatapnya seolah-olah meyakinkan dirinya jika apa yang akan terjadi tidak akan pernah merugikan mereka.
"Aku mencintaimu, Zeanna," ucap Salman yang kembali mencium bibir Anna dengan lembut.
Anna tersenyum ketika melihat Salman yang kembali berani mencium dirinya.
"Aku hanya berani melakukannya ini, percayalah ... kecuali ...." Salman menggantungkan ucapannya.
"Kecuali apa?" sahut Anna cepat.
"Kecuali kalau kamu terus-terusan menggoda aku," bisik Salman yang kembali mencium bibir Anna.
Kali ini Salman mencium bibir Anna dengan bernapsu. Rasa yang membuncah dalam dirinya membuat dia begitu menikmati ciumannya kali ini. Anna yang terbuai oleh ciuman Salman pun akhirnya dia memberanikan diri untuk mengalungkan tangannya di leher Salman.
Napas keduanya memburu saling berebut oksigen di sela-sela ciumannya.
Salman yang sudah bernapsu tidak mampu menghentikan hasratnya yang menggelora. Namun, Salman ingat jika dia kebablasan maka pada akhirnya Anna dan keluarganya pasti akan membenci dirinya, karena menghancurkan masa depan gadis yang selama ini dia tunggu-tunggu.
"Tidurlah, aku akan memelukmu sampai pagi," ucap Salman seraya memberikan ciuman hangatnya di puncak kepala Anna.
Anna tersenyum dan memejamkan matanya. Bagaikan terhipnotis oleh usapan Salman di kepalanya, Anna perlahan tidur dan begitu juga dengan Salman.
__ADS_1
Malam ini menjadi malam pertama di mana mereka bisa tidur bareng saling berpelukan dan diberi pengantar kecupan-kecupan hangat sebelum akhirnya mereka tertidur.
Beruntung Salman masih ingat batasannya sebagai seorang laki-laki dewasa. Jika, tidak maka sudah barang tentu malam ini sudah akan menjadi malam bersejarah untuk mereka berdua. Namun, Salman tidak ingin jika nanti ketika dia mengikrarkan ijab kabul untuk Anna, itu hanya sebuah keterpaksaan karena tragedi, dia menginginkan ijab kabul yang terhormat dan malam pengantin yang indah.