Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Kayak Pacaran


__ADS_3

Anna menangis. Untuk pertama kalinya dia dibentak oleh Salman yang dia kenal lembut dan juga perhatian, tapi hari ini sisi lain Salman baru Anna ketahui.


"Kalau gak ikhlas gau usah nganterin aku, lagian siapa suruh kamu yang nganterin? Masih banyak guru lain yang bisa nganterin aku," sahut Anna dengan isak tangis.


Salman menarik napasnya berat. Dia terlalu khawatir dan Anna malah mencoba untuk melakukan sendiri sehingga Salman kesal dan bicara keras pada Anna.


"Aku tuh pusing kalau lihat kamu makin tambah pusing lagi," keluh Anna lagi.


"Habisnya kamu tuh gak bisa apa nerima pertolongan orang lain. Ada kalanya kita itu hidup membutuhkan orang lain, dan ada juga kita bisa melakukan semuanya sendiri. Nah, sekarang kamu tuh sedang dalam kondisi tidak mungkin menolak orang lain, tapi laganya sok-sokan mandiri," jelas Salman.


"Kalau mau nyeramahin aku lebih baik turunkan aku di depan. Aku bisa ke rumah sakit sendiri," ketus Anna dengan isak tangis.


"Dasar keras kepala," cibir Salman pelan.


"Turunin, gak?" bentak Anna yang tidak suka disebut keras kepala oleh Salman.


Salman pun segera menepikan mobilnya. Dia ingin tahu sampai sejauh mana nyali Anna untuk menentang dan menolak pertolongannya.


Salman menatap tajam ke arah Anna. Yang ditatap hanya melengos kemudian melepas seat bealt sambil keluar dari mobil.


Setelah Anna keluar, Salman kembali menginjak pedal gasnya untuk meninggalkan Anna. Anna yang mendapati Salman pergi dengan begitu saja dia makin menangis karena ternyata Salman tidak peduli sama sekali.


"Dasar tukang PHP, ngomongnya sayang, ngomongnya cinta ... tapi tega ninggalin aku di tengah jalan kayak gini," gumam Anna sambil menangis.


Anna yang tidak membawa apa-apa, dia pun kebingungan untuk ke rumah sakit. Bahkan ponselnya ada pada Salman.


Anna menangis sambil duduk di sisi trotoar jalan. Dia nangis sesenggukan karena tidak bisa melakukan apa-apa.


Anna menundukkan kepalanya dengan bertumpu pada kakinya. tepukan tangan di bahunya mampu membuat kepala Anna mendongak dan Anna langsung menghempaskan tangan Salman.


Ya, Salman sengaja menggertak Anna. Dia tahu Anna tidak mungkin akan bisa melakukan apa-apa karena Anna tidak membawa apapun.


"Ayo, ikut aku," ucap Salman dengan mengganti panggilannya lagi.


"Kenapa balik lagi, pergi sana aku gak mau ikut," ketus Anna.


"Kamu lagi tidak sehat, Zea. Kalau duduk di sini, selain panas juga polusi. Bukankah kulitmu akan hitam kalau terpapar sinar matahari secara langsung, ditambah asap knalpot bisa bikin wajah kamu kusam," sahut Salman dengan mengungkapkan fakta yang sebenarnya.

__ADS_1


"Ayo!" Salman menarik tangan Anna dengan lembut.


"Enggak! Aku mau pulang aja, dan aku bisa sendiri. Mana ponsel aku?" Anna menyeka air matanya kemudian berdiri.


Salman terkekeh melihat Anna yang marah dan juga merajuk seperti itu. Ini sudah seperti pacaran yang sesungguhnya ketika sepasang kekasih bertengkar dan salah satu pasangannya membujuk untuk baikan.


"Zeanna ... kita ke rumah sakit dulu, setelah itu aku antar kamu pulang. Itu pun kalau kamu gak disuruh dirawat inap," jelas Salman seraya mengusap tangan Anna.


"Aku seperti ini karena aku peduli, aku peduli bukan karena aku guru kamu, tapi lebih dari itu. Jika aku tidak sayang mana mungkin aku rela nganterin kamu dan menolak orang lain untuk membantu kamu," jelas Salman.


"Nurut, ya ... apalagi sekarang Mami dan Papi kamu sedang tidak ada di rumah, jadi jangan bikin mereka khawatir dengan keadaan kamu. Kamu tenang saja, aku bisa menjaga kamu sampai nanti orang tuamu kembali," lanjut Salman.


"Please ... nurut, ya ... kamu masih ingat, kan ancaman aku ketika di taman jika kamu tidak mau nurut? Itu masih berlaku sekarang," gertak Salman yang kembali menggunakan gertakan akan mencium Anna jika Anna tidak ikut.


Anna mencebikkan bibirnya, kepalanya yang pusing malah makin pusing karena terpapar sinar matahari langsung. Anna hampir terjatuh karena tidak seimbang, tapi untung ada Salman yang sigap menopangnya.


Anna menatap Salman yang berhasil merengkuhnya ketika akan jatuh. Netranya menyelami dalam netra Salman dan beberapa menit kemudian Anna tersadar jika ini di jalan yang merupakan tempat umum.


Anna masuk lagi ke mobil. Wajahnya makin pucat tapi nyali untuk bertengkar masih full.


"Kamu tadi sarapan dulu, gak?" tanya Salman lembut.


"Kamu punya riwayat sakit atau apa?" lanjut Salman


"Kayak dokter aja sok pengin tahu," ketus Anna.


"Zeanna ... kamu." Salman menggantungkan ucapannya.


"Kenapa? Aku ngeselin? Baru tahu?" cibir Anna.


"Lagi sakit aja kayak gini, gimana kalau lagi sehat," batin Salman.


"Tapi aku tetap suka," sahut Salman cepat.


Anna melengos. Niat hati untuk melupakan Salman, tapi dengan kejadian tak terduga tadi justru malah membuat Anna bergantung pada Salman, dan jika boleh jujur Anna merasa nyaman dan terlindungi oleh Salman.


Sampai di rumah sakit, Anna masuk ke UGD untuk dilakukan serangkaian pemeriksaan.

__ADS_1


Salman melihat Anna yang tampak meringis ketika harus diambil darahnya.


"Sakit?" ucap Salman sambil mengusap kepala Anna.


Anna hanya mengangguk dan sebenarnya sejak di rumah neneknya dia sudah demam karena tidak bisa tidur, tapi keesokan harinya demamnya turun.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?" sambung Salman.


"Kepala aku pusing," jawab Anna.


"Bentar, ya," lanjut Salman sambil menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan Zeanna, Dok?" tanya Salman.


"Kita tunggu hasil lab saja, jika dilihat dari gejalanya sepertinya pasien terkena DBD, karena trombositnya rendah," jawab dokter.


"Kalau seperti itu artinya harus rawat inap?" lanjut Salman.


"Benar sekali," jawab dokter dengan tersenyum.


Salman yang tidak menyangka Anna sakit, dia pun segera menghampiri Anna. Jika dilihat dari penampilan, Anna terlihat seperti orang sehat. Tadi ketika pingsan wajahnya pucat tapi saat ini sudah mulai kembali normal. Selain itu tubuhnya hanya demam biasa tidak terlalu tinggi.


"Kamu sejak kapan demam seperti ini?" tanya Salman.


"Udah seminggu yang lalu," jawab Anna lirih.


"Apa? Dan kamu memilih tidak pergi ke dokter?" lanjut Salman.


Anna mengangguk. "Lagian ini gara-gara kamu," lirih Anna pelan tapi masih terdengar jelas oleh Salman.


Salman menarik napasnya panjang. Dia tahu Anna mulai sakit ketika mengetahui status dirinya seminggu yang lalu. Tapi, Salman tidak berdaya untuk mengembalikan kembali semuanya seperti biasa lagi.


"Hasil lab sudah keluar dan pasien memang positif DBD," ucap dokter sambil menyerahkan hasil lab-nya.


"Aku harus rawat inap?" ucap Anna kaget.


"Silahkan untuk ditangani, Dok," tegas Salman yang tidak mungkin membiarkan Anna tidak mendapatkan perawatan.

__ADS_1


"Tapi ...." Anak menutup mulutnya rapat ketika Salman melotot.


"Aku akan jaga kamu sampai Mami dan Papi kamu pulang," tegas Salman.


__ADS_2