
Pagi hari Anna sudah menyiapkan sarapan untuk Salman. Jika pada umumnya pasangan pengantin baru akan bangun kesiangan, berbeda dengan Anna, dia bangun lebih awal karena ingat punya kewajiban untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Sayang ... kenapa gak bangunin aku?" ucap Salman ketika melihat istrinya sedang sibuk di dapur.
"Sudah bangun, Mas?" sahut Anna dengan senyum yang selalu terukir indah di wajahnya.
"Udah," jawab Salman seraya mencium pipi Anna dan memeluk Anna dari belakang.
"Bikin apa?" tanya Salman seraya menciumi tengkuk Anna.
"Bikin yang gampang aja, omelette," jawab Anna tersenyum.
"Kamu jago masak juga, ya." Salman kagum pada sosok Anna yang tidak pernah dia kira akan seperti ini.
"Hahaha ... ini cuma omelette, Mas ... semua orang juga bisa bikinnya," ujar Anna sambil memindahkan omelette ke piring.
"I love you, Zeanna," ucap Salman sambil mencium pipi Anna.
"Pagi-pagi udah gombal," sahut Anna tersipu malu.
Entah kenapa Anna masih saja merasa malu mendengar pernyataan cinta Salman.
"Siapa yang gombal. Dari dulu sampai sekarang rasa ini tidak berubah, Sayang ... setelah menikah rasa ini jauh lebih besar lagi, Sayang," ucap Salman yang tidak pernah bosan untuk mengungkapkan perasaannya dan menyatakan cintanya jutaan kali.
Anna tersenyum dan memeluk suaminya. "Terima kasih sudah mencintaiku, Mas."
Sarapan pagi ini terasa lebih nikmat dari biasanya. Anna disuapi oleh Salman dan dia tidak diijinkan oleh Salman untuk makan sendiri.
"Pokoknya kalau di rumah kamu harus makan dari tangan aku," tegas Salman ketika Anna yang meminta untuk makan sendiri.
"Tapi, kan jadinya lama, Mas," keluh Anna.
"Gak apa-apa, makan seperti ini jadinya lebih enak, kan? cucian juga berkurang," sahut Salman dan Anna langsung mengerucutkan bibirnya.
"Kirain benar-benar tulus, ternyata ada alasannya," cibir Anna.
"Hahaha ...." Salman tertawa.
Acara sarapan pagi sudah selesai. Kali ini Salman dan Anna memilih untuk menonton acara televisi dan duduk santai menikmati hari liburnya yang akan berakhir hari ini. Mereka menghabiskan waktu kebersamaannya karena besok mereka sudah harus kembali pada rutinitas mereka masing-masing.
__ADS_1
"Zea ... mau honeymoon ke mana?" tanya Salman sambil memeluk pinggang Anna karena posisi mereka duduk berdampingan.
"Aku gak tahu ... liburannya juga kapan aku bahkan belum tahu," jawab Anna dengan mata tetap fokus memandang ke arah televisi.
"Kok gitu?" Salman langsung mengubah posisi duduknya.
"Kamu lupa kalau aku seorang dokter? Dokter tuh harus siap kapan aja, Mas. Kadang di hari weekend pun aku masih harus jaga kalau kebagian jadi dokter jaga," jelas Anna.
"Ini aja aku cuti seminggu itu artinya aku ngambil cuti tahunan," lanjut Anna.
Salman menghela napasnya panjang, rencana honeymoon yang sudah dia idam-idamkan ternyata harus tertunda karena pekerjaan Anna yang harus melayani masyarakat.
"Kalau gitu ...." Salman menggantungkan ucapannya dan menatap Anna dengan lamat-lamat.
"Apa?" Anna mengerutkan keningnya.
"Aku ingin mengulang yang semalam," bisik Salman dengan wajah yang tiba-tiba saja menunjukkan gairah bercintanya.
"Ini masih pagi, Mas," kilah Anna.
"Gak apa-apa. Besok gak mungkin aku minta jatah pagi-pagi. Kapan lagi coba? Kamu kerja aku juga," jelas Salman yang saat ini sudah dipenuhi oleh kabut gairah.
"Kenapa gak di kamar?" Anna menahan tangan Salman yang hendak membuka kancing kemejanya.
"Aku ingin mencobanya di semua ruangan rumah kita, Sayang," jelas Salman yang langsung mencium bibir Anna dengan lembut tapi menuntut.
Anna tersenyum di sela ciumannya. Salman sudah pandai memainkan bibirnya hingga Anna larut dalam buaian permainan Salman.
Salman tidak lupa menambah maha karya di leher Anna dengan begitu bersemangat. Anna yang mendapatkan sentuhan seperti itu pun, dia langsung bergelinjang.
Apalagi ketika Salman bermain di area yang menjadi favoritnya. Anna langsung mengeluarkan suara-suara seksi yang membuat Salman makin menggelora.
"Kalau masih sakit tahan, ya," ucap Salman dengan suara yang sudah menunjukkan jika dirinya benar-benar diliputi oleh gairah hasratnya.
Anna mengangguk kemudian mencoba untuk merilekskan tubuhnya agar tidak kaku seperti tadi malam.
Anna mencoba untuk tenang, tapi ketika milik Salman kembali memasuki miliknya tubuhnya kembali menegang karena sisa sakit masih terasa.
"Maaf, ya," ucap Salman lagi ketika dia menaikkan ritme permainannya.
__ADS_1
Sakit yang Anna rasakan berujung kenikmatan yang tiada tara. Untuk kedua kalinya Salman menyirami rahim Anna dengan benih-benih kehidupan baru yang mungkin akan tercipta.
"Mudah-mudahan saja kita mendapatkan keturunan yang sholeh dan shalehah," ucap Salman ketika tubuhnya ambruk di atas tubuh Anna.
"Amin," jawab Anna dengan peluh yang bercucuran di tubuh Anna juga Salman.
Anna bergerak untuk mengambil pakaiannya yang sudah berceceran di mana-mana. Namun, tangannya langsung di tahan oleh Salman.
"Jangan dulu, aku masih ingin mencoba di tempat itu," cegah Salman seraya menunjuk ruang tamu.
"Hah? Lagi?" ulang Anna.
"Iya, Sayang ... lihatlah ... ini masih minta jatah," jawab Salman seraya menunjuk ke arah miliknya yang memang sudah menegang lagi.
"Mas, nanti ada tamu ... lagian itu gordennya gak di tutup. Kalau ada orang yang lihat gimana?"
Anna bukan menolak tapi dia memberikan alasan yang masuk akal tentang kemungkinan yang akan terjadi.
"Gak akan ... gerbangnya aku kunci jadi gak akan ada orang masuk," jawab Salman seraya mengangkat tubuh Anna.
Salman menggendong Anna ke ruang tamu. Dia menidurkan Anna di sofa yang paling panjang kemudian dia mengulang kembali apa yang dia lakukan tadi di ruang keluarga.
Kali ini Salman benar-benar menunjukkan kebuasannya sebagai seorang laki-laki. Dia memimpin permainan dengan begitu lincah dan juga menguntungkan.
Salman selalu mementingkan kepuasan Anna dulu, setelah Anna puas barulah dia beraksi untuk dirinya.
"Mas, udah ya ... aku benar-benar lemes," ucap Anna setelah Salman mencapai puncaknya di permainan yang kedua.
"Maafkan aku, Sayang ... aku terlalu bersemangat karena ini baru untukku," jawab Salman.
"Terus menurutmu aku tidak?" ketus Anna.
"Aduh maaf salah bicara ... maksudnya baru untuk kita, Sayang ... jangan marah dong, nanti aku makin ingin memakanmu lagi," bujuk Salman dengan menggoda Anna.
"Memakan ... emang aku makanan," ketus Anna lagi.
"Aduh salah lagi. Maaf, Sayang ... maksudnya pengin minta jatah lagi," jelas Salman sambil tersenyum karena berhasil menggoda Anna.
"Aku bahagia, Zea ... sungguh sangat bahagia. Impianku ternyata sudah menjadi kenyataan. Aku mendambakan hal seperti ini sejak 6 tahun yang lalu. Tapi ternyata setelah 6 tahun berlalu ini benar-benar nyata ... sungguh aku sangat bahagia karena bisa menjadi suamimu, Zeanna," ucap Salman yang tidak pernah bosa. untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan.
__ADS_1