Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Laki-laki Dewasa dan Wanita Dewasa


__ADS_3

"Aku akan memulainya dari awal," ucap Salman ketika melihat ada keraguan di wajah Anna.


"Mari kita mulai dari awal, Zea. Jangan pernah melihat aku sebagai gurumu ... yang perlu kamu lihat adalah aku sebagai seorang laki-laki dewasa yang mencintai seorang Zeanna, gadis yang sudah dewasa juga," lanjut Salman.


"Berikan aku kesempatan untuk mencintaimu tanpa rasa takut karena status kita yang terhalang oleh sebuah dinding pemisah. Bahkan kamu tidak perlu sungkan karena saat ini kita bicara bukan sebagai mantan murid dengan guru, tapi wanita dewasa dan laki-laki dewasa," sambung Salman.


"Apa yang membuatmu ragu?" tebak Salman pada ekspresi wajah Anna.


"Kata siapa aku ragu? Aku enggak ragu," jawab Anna cepat.


"Lalu?" lanjut Salman.


"Aku hanya takut," jawab Anna setengah-setengah hingga membuat Salman penasaran.


"Katakan yang jelas, Zea ... kamu bikin aku penasaran," cibir Salman.


"Aku masih belum percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Aku masih menganggap jika aku sedang bermimpi ... mimpi bertemu dengan seseorang yang pergi meninggalkan aku tanpa berusaha untuk bicara langsung." Anna mengenang kejadian yang sudah terjadi.


"Seandainya waktu itu aku tidak mendengar adik-adik kelasku sedang membicarakan kamu, maka aku akan jadi orang yang terakhir tahu kamu pindah dan pergi entah ke mana." Anna menjeda ucapannya.


"Waktu itu aku langsung ijin pulang, aku pergi mencarimu untuk bertanya pada tetanggamu ... jawaban mereka membuat aku hampir tidak bisa menopang tubuh aku sendiri. Tubuh aku lemas dan bergetar karena mengetahui jika kamu sudah pergi dari sejak pagi dan aku datang jam 11 siang. Otak aku blank dan aku memutuskan untuk pulang." Anna sudah mulai berkaca-kaca.


"Kamu tahu ... apa yang membuat aku bisa bertahan sampai sekarang, karena ini." Anna menunjukkan kalung yang diberikan salman di ulang tahunnya.


"Aku meyakinkan diri aku sendiri ... aku akan memakai ini. Jika kamu lupa sama aku setidaknya kamu tidak akan lupa dengan barang yang kamu berikan padaku. Dan aku pun sengaja memakainya untuk mengingatkan jika aku pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta meskipun cinta yang salah," lanjut Anna.


"Aku terpuruk, aku menarik diriku sendiri untuk tidak berkomunikasi dengan semua teman-temanku dan aku mengambil kuliah di sini karena aku ingin melupakan semua yang sudah terjadi diantara kita, tapi ...." Anna menggantungkan ucapannya dan air matanya sudah tidak bisa dia tahan lagi.


Salman tersenyum seraya menarik tubuh Anna kedepannya. Salman memeluk Anna dan Anna langsung menumpahkan tangisnya di pelukan Salman.


"Sekuat apa pun aku mencoba, aku tidak bisa melupakan kamu ... setiap hari aku tersiksa karena mengingat kamu, aku bahkan tidak pernah bisa hidup dengan tenang karena mengharapkan akan bertemu lagi denganmu." Anna menangis dan membalas pelukan Salman.


"Maafkan aku, Zea ... sekarang aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi," ucap Salman seraya mengusap-ngusap punggung Anna.


"Kamu tidak pernah memahami bagaimana tersiksanya aku kamu tinggalkan, dan kamu seenaknya saja tinggal di sini tapi sekalipun tidak pernah aku melihatmu," keluh Anna seraya melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Salman tersenyum seraya menyeka air mata Anna. "Aku sebenarnya pernah melihat kamu sekilas, tapi saat itu ketika aku lihat lagi kamu sudah tidak ada. Aku beranggapan jika aku sedang berhalusinasi tapi sepertinya saat itu yang aku lihat adalah kamu," sahut Salman.


"Aku pergi karena aku harus menjalankan usaha aku di sini, Zea. Aku pun mendapatkan beasiswa S2 di sini, sehingga sekalian aku kuliah aku pun menjalankan perusahaan keluarga. Tapi, aku salah karena aku tidak memaksa kamu untuk bertemu dengan aku," lanjut Salman.


"Sekarang dan seterusnya aku janji ... aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi." Salman tersenyum sambil menyeka kembali sisa-sisa air mata di pipi Anna.


"Aku rindu, Zea ... bahkan ini masih terasa seperti mimpi," ucap Salman lagi.


"I love you, Zeanna." Salman menatap manik hitam Anna dengan dalam.


Anna tersenyum dan lidahnya terasa kelu untuk menjawab dan mengatakan hal yang sama seperti yang diucapkan oleh Salman.


Anna memilih untuk memeluk Salman dan itu sudah cukup bagi Salman sebagai jawaban atas pernyataan cintanya pada Anna.


"Aku tidak akan melepaskan kamu, Zea. Apa pun yang terjadi ... aku harus mendapatkan kamu," batin Salman.


***


Selama dirawat di rumah sakit, Anna selalu membantu Salman ketika dia selesai dari tugas dinasnya. Dan Salman mengabari anak buahnya jika dia sedang sakit di luar kota hingga tidak ada yang akan datang menjenguknya. Semua pekerjaan Salman memintanya lewat email, dan selama di rumah sakit Salman tidak bisa melakukan apa-apa, karena ponselnya rusak dan dia bisa menelpon pun menggunkan telepon rumah sakit.


"Maaf, aku lama, ya?" ucap Anna ketika melihat Salman yang sudah siap untuk pulang.


"Gak apa-apa," sahut Salman sambil tersenyum.


"Bentar aku pesan taksi dulu," sambung Anna seraya memesan taksi online.


Sambil menunggu taksi pesanannya datang Anna membantu Salman untuk naik kursi roda, karena kaki Salman yang memakai gips tidak mungkin berjalan.


"Nanti beli tongkat dulu. Aku gak mungkin terus-terusan pakai kursi roda kayak gini," ucap Salman.


"Iya, nanti di depan juga ada," jawab Anna.


Taksi pun sudah menunggu mereka di parkiran. Salman dengan dibantu oleh Anna akhirnya bisa masuk ke dalam mobil dan Anna duduk di samping Salman.


Sepanjang perjalanan pulang, Salman terus-terusan menggenggam tangan Anna. Dia begitu takut jika ini adalah akhir dari mimpinya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Anna ketika melihat Salman yang terus-terusan menatap wajahnya.


"Aku takut jika ini hanya mimpi," sahut Salman dan tanpa Salman duga Anna mencubit lengan Salman.


"Awww," ringis Salman.


"Sakit?" tanya Anna dan Salman mengangguk.


"Berarti itu bukan mimpi," sahut Anna sambil terkekeh.


Salman ikut tersenyum dan menarik pinggang Anna untuk duduk lebih dekat lagi.


"I love you, Zeanna," bisik Salman tepat di telinga Anna.


"Jangan ngomong macam-macam malu sama pak sopirnya," sahut Anna seraya berbisik juga.


Semburat merah di pipi Anna pun muncul. Dia masih belum terbiasa untuk mendengarkan kata-kata yang dia anggap mewah ketika dulu hanya pernah dia dengar ketika berusia 18 tahun.


"Kamu makin cantik," sambung Salman.


"Udah deh ... kalau ngomong lagi aku turunin di jalan, mau?" gertak Anna yang ditanggapi Salman sambil terkekeh.


"Gak mau," jawab Salman yang malah memilih menyandarkan kepalanya di bahu Anna.


"Loh kok bukan pulang ke rumah?" tanya Anna ketika Salman meminta diantarkan ke tempat lain.


"Aku sering tinggal di apartemen, biar gak bising," jelas Salman.


"Bising?" ulang Anna.


"Kalau pulang ke rumah, tetangga aku pasti bakalan banyak tanya ketika melihat aku pulang sama kamu. Tetangga aku suka bergosip jadi mending aku pulang ke apartemen aja, biar gak jauh juga dari tempat kos kamu," jelas Salman.


"Aku jadi curiga," Anna menatap tajam Salman.


"Aku gak pernah bawa siapa pun ke apartemen, baru kamu aja," jelas Salman yang paham akan ucapan Anna.

__ADS_1


__ADS_2