
Dua jam sudah Film berputar, dan sekarang mereka keluar dari gedung bioskop karena filmnya sudah selesai.
"Ternyata kamu tidak datang, bahkan untuk sekedar membalas chat aku pun kamu tidak bisa," gumam Anna dalam hati ketika Adit yang benar-benar tidak menepati janji temunya.
"Zea ... temani saya makan, yuk!" ajak Salman ketika mereka baru saja keluar dari gedung bioskop.
"Males, ah," sahut Anna sambil cemberut.
"Gak lama, kok. Cuma sebentar ... aku gak enak kalau makan sendirian di sini. Ayo, please," bujuk Salman berharap Anna akan menemaninya.
"Ya udah." Anna akhirnya menerima ajakan Salman. Rasanya otaknya masih belum bisa berpikir dengan jernih karena rasa marah pada Adit masih menyelimuti hatinya.
Salman dan Anna berjalan beriringan menuju ke sebuah tempat makan yang masih ada di mall. Mereka fokus melihat ke arah jalan yang mereka lewati hingga tiba-tiba Anna tersenggol oleh seseorang yang membuatnya hilang keseimbangan.
Salman yang berjalan beriringan dengan Anna segera meraih pinggang Anna agar tidak terjatuh. Tubuhnya menempel sempurna dan manik mata mereka beradu untuk kedua kalinya.
Salman merasakan hatinya berdegup begitu kencang, begitu juga dengan Anna. Baru kali ini Anna bisa berdekatan dengan laki-laki seintim ini, tubuhnya tiba-tiba merasa seperti tersengat aliran listrik ketika dirangkul oleh gurunya sendiri.
"Kamu tidak apa-apa?" Salman membantu menegakkan tubuh Anna sambil meredakan gejolak rasa yang kini timbul pada dirinya.
"Enggak, Pak. Terima kasih sudah menolong aku. Kalau jatuh pasti akan sakit, tapi sakitnya gak seberapa, malunya itu loh," Anna tersenyum sambil menegakkan tubuhnya.
Perlahan tangan Salman melepaskan rangkulannya di tubuh Anna. Ada kehangatan yang baru saja dia rasakan dan juga kedamaian ketika bisa berdekatan seperti tadi dengan Anna yang sering dia panggil Zea.
"Zea ... makan apa?" tanya Salman ketika mereka duduk di sebuah tempat makan.
"Samakan saja, Pak," sahut Anna tidak ingin memilih.
"Kenapa?" sambung Salman.
"Biar pesanannya cepat di sajikan. Kalau menunya berbeda pasti bakalan lama lagi," jelas Anna masuk akal.
"Kamu bisa aja, Zea ... Zea." Salman terkekeh sambil memesan makanan untuknya dan untuk Anna.
__ADS_1
"Pak kenapa manggil saya Zea?" tanya Anna penasaran saat Salman selesai memesan makanan untuk mereka.
"Nama kamu Zeanna, kan? Jadi saya manggil Zea. Kalau Zeanna terlalu panjang," jelas Salman.
"Rasanya cuma Bapak aja yang manggil aku kayak gitu, orang lain manggil aku Anna. Jadi agak aneh aja," sambung Anna.
"Jika cuma saya yang berbeda, artinya saya manggil kamu lain dari yang lain." Salman terus tersenyum menampilkan wajah ramahnya.
"Ah Bapak bisa saja." Anna membalas senyuman Salman.
"Nomor ponsel kamu boleh saya save enggak?" Salman memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang ingin dia lakukan sejak Anna menghubungi nomornya dari ponsel miliknya.
"Boleh, save aja, Pak. Mungkin suatu saat Bapak butuh buat nitip tugas sama aku." Anna tertawa.
Anna tidak tahu jika Salman ingin menyimpan nomornya untuk bisa lebih dekat lagi dengannya.
Anna dan Salman pergi setelah menghabiskan makanannya. Mereka akan pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Iya," sahut Anna pendek.
"Hati-hati di jalannya, jangan ngebut dan jangan baper karena pacarmu tidak datang," goda Salman yang seketika membuat Anna mendelik sebal ke arah gurunya tersebut.
"Gak akan, pacar akunya udah digantikan sama Bapak," celetuk Anna yang seketika membuat hati Salman malah makin berdegup kencang.
Anna tiba-tiba saja berkata seperti itu, dia tidak memikirkan efek dari ucapannya itu berdampak pada hati Salman yang memang sudah terganggu oleh pesona Anna.
Gadis SMA itu dengan polosnya membangunkan hati Salman yang sudah lama mati, rasa yang Salman yakini sebagai cinta kita membuncah dalam hatinya.
Anna melirik ke arah gurunya yang tiba-tiba jadi diam. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat Salman yang menatapnya tanpa berkedip.
"Aduh, maaf, Pak. Aku gak bermaksud bicara seperti itu, bercanda aku keterlaluan, ya," Anna dengan spontan malah meraih tangan Salman.
Salman makin seperti tersengat oleh aliran listrik ketika Anna tiba-tiba meraih tangannya. Menyadari Salman masih bergeming, Anna tersadar jika dia sedang memegang tangan gurunya itu.
__ADS_1
"Aissss ... maaf, aku gak sengaja." Anna buru-buru melepaskan tangannya.
"Zea ... kamu membuat aku jadi ingin lebih dekat lagi sama kamu," gumam Salman dalam hati ketika melihat ekspresi Anna yang menggemaskan.
"Udah, gak apa-apa ... saya tidak seperti kamu yang gampang baper gara-gara pacarnya gak datang," sahut Salman setelah berhasil mengendalikan hati dan pikirannya.
"Ish aku pikir Bapak baper gara-gara dijadikan pacar pengganti." Anna tersenyum mengembang menampilkan sikap ramahnya.
Salman hanya geleng-geleng kepala sambil melanjutkan kembali langkahnya. Mereka terpisah ketika memasuki area parkir.
"Aku duluan, ya, Pak. Terima kasih makan sorenya," ucap Anna seraya tersenyum lagi.
"Kok makan sore?" Entah kenapa Salman begitu enggan untuk berpisah hingga ketika Anna berpamitan pun dia malah sengaja menyela ucapannya.
"Iya dong sore, kalau siang tadi jam 12, sekarang udah jam 4 artinya udah sore," jelas Anna sambil melambaikan tangannya pada Salman untuk segera pulang, sebab dia takut Maminya akan marah jika pulang terlalu sore.
"Hati-hati, sudah sampai rumah jangan lupa kasih kabar," pungkas Salman sambil melihat Anna yang sudah bersiap untuk keluar dari area parkir.
Anna hanya mengangguk tanpa memikirkan ucapan terakhir dari Salman. Rasanya dia ingin segera sampai di rumah agar bisa meluapkan amarahnya dengan merobek-robek kertas seperti yang sering dia lakukan jika sedang kesal.
"Kenapa aku jadi berharap bisa mengenalnya lebih jauh? Apa dia masih akan mau jika aku ajak jalan lagi?" batin Salman sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat parkir motor.
Anna melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Dia kecewa karena Adit tidak datang, padahal yang mengajak nonton bukan dirinya, melainkan Adit sendiri.
"Kamu kalau gak niat buat ngajakin aku jalan, ngapain pakai janji-janji segala. Aku kecewa sama kamu, Adit," gerutu Anna sambil mengemudikan sepeda motornya.
"Apa pun alasan kamu, tetap kamu salah. Harusnya kamu ngasih kabar aku jika tidak bisa datang. Untung saja ada Pak Salman yang menemani aku." Anna terus bermonolog sendiri sambil menggerutu meluapkan kekecewaannya pada Adit.
"Eh, Pak Salman tadi kok bisa-bisanya nebak aku nungguin pacar? Emang hubungan aku sama Adit sepopuler itukah hingga guru baru pun bisa tahu." Anna mulai berpikir tentang Salman yang tahu tentang hubungannya dengan Adit, hingga tak terasa dia pun sampai di rumah dengan selamat
***
Jangan lupa vote n like-nya, ya.
__ADS_1