Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Ditembak Adit


__ADS_3

Anna bingung harus menjawab pertanyaan dari Ferdy, dia tidak ingin berbohong pada siapa pun, tetapi ketika melihat tatapan Adit, dia seolah-olah mendapatkan isyarat jika dia harus mengikuti permainan Adit supaya Ferdy tidak mengganggunya lagi.


"Aku ... baru jadian sama Adit."


Jawaban itulah yang lolos dengan begitu lancar dari bibir ranum Anna.


"Kamu gak lagi berbohong, kan? Kamu tidak membohongi aku, kan?" serbu Ferdy seolah tidak percaya, tapi memang dia tidak percaya.


"Itu terserah kamu, Fer. Mau percaya syukur ... enggak juga gak apa-apa. Itu hak kamu," tegas Anna dengan berusaha memasang wajah meyakinkan.


"Oke ... jika kamu baru jadian, artinya masih ada kesempatan untuk aku mendekati kamu, karena janur kuning belum melengkung, hahaha." Ferdy tertawa dengan diiringi delikan keras pads Adit.


"Lo ... memang gak tahu malu, ya." Adit mengepalkan tangannya.


"Bener, kan yang gue omongin. Jika lo udah jadi suaminya baru kesempatan gue udah gak ada, lah sekarang cuma baru jadian ... artinya gue masih punya kesempatan untuk bisa berjodoh dengan dia," tegas Ferdy seraya melayangkan tatapan sinisnya.


Drama perebutan Anna harus berakhir meskipun masih menggantung, karena suara bel masuk sudah terdengar dengan begitu jelas.


Semua murid berhambur berlari memasuki kelas mereka masing-masing.


"Makasih, ya." Anna mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Adit.


"Nanti siang jangan lupa," sahut Adit dengan senyum manisnya yang seketika membuat hati Anna makin meleleh.


"Sadar, Anna ... tadi tuh cuma sandiwara aja, Adit cuma nolongin kamu dan belum tentu juga dia suka sama kamu." Naluri Anna selalu mengingatkan hal itu. Dia memang menyukai Adit, tetapi dia tidak ingin disebut kepedean karena berharap Adit akan mencintainya juga.


Anna masuk ke kelas XI IPA, di sana ada sahabat Anna yang sering kali disebut sebagai tiga serangkai, yaitu Anna, Anita, dan Amara. Ketiganya selalu menjadi sorotan karena entah bagaimana caranya, saat di kelas X mereka satu kelas dan sekarang pun mereka satu kelas lagi.


"Anna ... tadi gue denger lo di tembak sama si Ferdy, ya? Pas gue mau lihat ... eh keburu bel masuk," ucap Amara antusias yang diangguki oleh Anita.


"Ah dasar si Ferdy, dia tuh emang iseng jadi orang. Bikin gue malu aja. Masa tadi gue jadi bahan tonton anak-anak yang lain," gerutu Anna kesal sambil menjatuhkan diri di kursi tempatnya duduk.

__ADS_1


"Lo emang udah jadian sama Adit? Kok gak cerita sama kita," sahut Anita antusias.


Anna mengedarkan pandangannya kemudian dia melihat situasi untuk berbisik pada sahabat-sahabatnya supaya tidak terdengar oleh orang lain.


"Tadi Adit cuma akting, dia pura-pura jadi pacar gue," bisik Anna sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya pertanda jika Anita dan Amara harus tutup mulut.


"Kali aja ke tulis sama Malaikat, dan kalian pacaran beneran," bisik Amara yang seketika diaminkan oleh Anna dengan refleks.


"Cie ... yang bener-bener mau jadian, langsung amin saja," goda Anita yang seketika menimbulkan semburat merah di pipi chubby Anna.


"Tuh ... tuh, kan ... dia jadi salah tingkah sendiri," goda Amara yang langsung membuat Anna menutupi wajahnya.


"Hai tiga serangkai ... sudah puas ngobrolnya," teriak Pak Daya yang memang sejak tadi sudah melihat ketiga muridnya itu sedang asyik ngobrol padahal dia sudah masuk dan mengucapkan salam.


"Maaf, Pak. Aku tak berdaya," sahut Anna yang sontak langsung membuat tawa semua orang yang ada di kelas pecah karena akhirnya Anna keceplosan menyebut Pak Daya dengan tak berdaya.


"Anna ... panggil saya Dayat bukan Daya ... itu udah kayak merk deterjen aja," ucap Pak Daya geli.


Guru Matematika yang biasanya paling dihindari oleh hampir seluruh siswa, tetapi berbeda dengan Pak Daya, guru satu ini mampu membangun minat pada hampir seluruh siswa untuk gemar belajar matematika.


Belajar matematika pun menjadi menyenangkan, hingga tanpa terasa waktu 2 jam pelajaran pun sudah habis dan sekarang sudah memasuki pelajaran yang lain.


***


Sepulang sekolah, Anna begitu merasa gugup. Dia belum pernah jalan sama cowok, apalagi cowok yang selama ini dia sukai. Hatinya jadi tak karuan ketika melihat Adit yang sudah menunggunya di parkiran.


"Hai ...." Anna menyapa Adit untuk sedikit menghilangkan kegugupannya.


"Hai, kita langsung berangkat aja, ya. Kamu tinggal ikutin aku aja dari belakang," sahut Adit dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.


Anna mengangguk dan dia segera mengambil helm kemudian menghidupkan mesin sepeda motornya.

__ADS_1


Tanpa bertanya kemana Adit akan membawanya pergi, Anna hanya mengikuti kemana arah Adit mengendarai sepeda motornya.


Adit ternyata mengajak Anna untuk singgah di warung bakso yang biasa di pakai nongkrong oleh anak-anak muda yang sering menghabiskan waktu bersama pasangannya, sebab selain ada bakso, ada juga makanan lain hanya saja lebih dikenal dengan warung bakso.


"Ayo," ucap Adit seraya menunggu Anna memarkirkan sepeda motornya.


"Bentar," sahut Anna yang saat ini sedang melepas helm-nya.


Anna mengikuti Adit dari belakang, dia ikut duduk berhadapan ketika Adit sudah memilih tempat duduk untuknya.


"Mau pesan apa?" tanya Adit seraya melihat pilihan menu dengan berbagai jenis aneka bakso dan juga makanan lainnya.


"Aku pengin mie ayam bakso saja, gak pakai sawi, minumnya es jeruk hangat," sahut Anna cepat sambil membayangkan nikmatnya mie ayam dengan bakso yang dia pesan.


Adit terkekeh melihat kebiasaan Anna yang hampir sama setiap hari jika sedang di kantin, apa pun makanannya, minumnya es jeruk hangat. Itulah semboyan Anna ketika hampir setiap hari dia minum es jeruk hangat.


"Gak nyobain yang dingin?" tanya Adit iseng.


"Aku mudah batuk, jadi Mami bilang aku mesti minum air hangat dan jangan terlalu banyak minum air dingin, karena sering minum air hangat jadi kebiasaan deh," sahut Anna nyengir.


"Mami kamu perhatian, ya," sambung Adit.


"Yang namanya ibu pasti perhatian dong," sahut Anna dengan percaya diri.


"Kalau aku perhatian sama kamu gimana?" Adit seakan mendapatkan celah untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini dia pendam, akhirnya dia langsung mengungkapkan isi hatinya.


"Aku sudah lama menyukai kamu, tapi aku tidak berani karena takut akan kamu tolak. Sekarang aku udah gak bisa lagi memendam rasa ini. Aku cinta sama kamu, Anna." Adit dengan begitu lugasnya menyatakan cinta pada Anna, dan Anna hanya melongo saja sebab dia tidak menyangka jika ternyata Adit pun mencintainya.


"Gimana? Kamu mau jadi pacar aku, Anna?" sambung Adit dengan mencoba memberi waktu pada Anna untuk mencerna ucapannya.


"Kamu gak bisa nolak aku, lagian tadi kamu udah bikin pengumuman jika kita baru jadian, bener, kan?" Adit seakan ingin terus mengingatkan jika di sekolah orang-orang tahunya jika mereka baru jadian, dan Adit ingin merealisasikannya.

__ADS_1


"Cepetan, jawab." Adit sudah tidak sabar karena Anna hanya menatapnya saja tanpa mengeluarkan suara apa-apa.


__ADS_2