
Anna yang sudah selesai dengan ritual mandinya langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia meraih ponselnya yang saat ini tengah berdering.
Wajah Anna langsung tersenyum ketika melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Dengan perasaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata, dia langsung menggeser tombol hijau di benda pipih miliknya itu.
"Hallo, Pak," ucap Anna ketika menjawab panggilan telepon dari Salman.
"Lagi apa?" tanya Salman kaku.
"Lagi rebahan aja, Pak," jawab Anna sambil kembali merebahkan tubuhnya.
"Gak di marahi sama Maminya?" selidik Salman.
"Ya, begitulah ... Mami aku ngomel-ngomel, tapi untung ada Papi yang belain aku. Bapak lagi apa?" tanya Anna balik.
"Lagi nelepon sama Zeanna." Salman terkekeh.
"Yeay ... Si Bapak. Gak malam mingguan, Pak?" tanya Anna lagi.
Anna yang teringat akan ucapnya tadi sore pada Maminya, dia malah iseng bertanya pada Salman.
"Ini lagi malam mingguan," sahut Salman yang justru malah membuat Anna sedikit kecewa ketika mendengar jawaban dari Salman.
"Oh," jawab Anna pendek.
Salman terkekeh. Dia tahu jika Anna mengira kalau dirinya sedang malam mingguan, padahal yang di maksud Salman adalah malam mingguan dengan Anna.
"Ya, udah saya tutup dulu teleponnya. Selamat malam minggu. Semoga liburan besok menyenangkan," pungkas Salman sambil mengakhiri panggilannya.
Anna tiba-tiba jadi BT ketika sudah menerima telepon dari Salman. Dia terus menggerutu sendiri, karena seolah-olah Salman memilih mengakhiri panggilannya karena sedang malam mingguan sama pacarnya.
__ADS_1
"Kalau lagi sama cewek ngapain coba nelepon aku?" gerutu Anna.
"Tadi siang aja dia udah berani-berani pegang tangan aku. Apa coba maksudnya?" sambung Anna menggerutu.
"Ish ... aku kenapa juga malah marah-marah kayak gini, emang aku siapanya dia? Hallo, Zeanna ... kamu tuh keganjenan banget deh sok-sokan beranggapan Pak Salman suka sama kamu." Anna bermonolog sendiri mengingatkan akan posisi dirinya.
"Tapi, aku benar-benar gak ngerti dengan sikapnya yang tadi siang. Aku merasa seolah-olah jika dia itu pengin nunjukin sesuatu sama aku. Aku gak mungkin salah deh. Aku yakin tadi dia pengin nunjukkin jika dia suka sama aku," sambung Anna kembali bermonolog.
"Apa aku yang kegeeran?" tanya Anna pada dirinya sendiri.
***
"I don't like monday," ucap Anna ketika pertama kali membuka matanya di senin pagi.
Anna buru-buru beranjak dari tempat tidurnya. Dia dengan begitu malas masuk ke kamar mandi dan menarik napasnya panjang, karena selain sekarang hari senin, hari ini dia pasti akan ketemu juga sama si Adit, sang mantan pacar.
Selesai memakai seragam, Anna turun ke bawah untuk bergabung sarapan dengan kedua orang tuanya. Dia menarik kursi dan duduk di sisi ibunya.
"Kalau udah liburan aku suka malas ke sekolah, huh," sahut Anna sambil meneguk air susu yang sudah tersedia untuknya.
"Pamali ih mengawali hari dengan kayak gitu. Sambut dengan baik, biar berkah," tegas Raina sambil mengusap-usap kepala Anna.
"Bentar lagi ulangan semester, jangan malas-malasan kayak gitu," ucap Alex ikut angkat bicara.
"Iya, Pi," sahut Anna sambil mengambil nasi untuknya sarapan.
Mereka semua sarapan dalam diam. Tidak ada yang berani bicara jika sudah memulai sarapan. Selesai sarapan, Anna pamit pada ayah dan ibunya untuk pergi ke sekolah.
Anna langsung memasang helm-nya dan menghidupkan mesin sepeda motornya. Dia perlahan meninggalkan pelataran rumahnya menuju gerbang utama komplek.
__ADS_1
Anna mengerutkan keningnya ketika melihat ada mobil yang dia kenal sedang terparkir di dekat halte dan Anna yakin jika mobil yang dia lihat adalah mobil Salman.
Anna membunyikan klakson ketika melewati mobil Salman. Dengan senyum renyahnya Anna tersenyum sendiri, karena dia merasa jika Salman memang sengaja menunggunya.
"Pak Salman nungguin aku? Anna ... jangan geer," gumam Anna sambil terus melajukan sepeda motornya.
Sementara itu, Salman yang memang sengaja menunggu Anna, dia pun segera melajukan kembali mobilnya ketika sudah melihat gadis yang membuat dirinya hampir tidak bisa tidur lewat. Dia sengaja melakukan itu, karena sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Anna.
Katakanlah jika Salman sedang kasmaran, tapi memang itu yang sebenarnya terjadi. Salman sedang merasa jatuh cinta pada gadis muda yang sekarang jadi muridnya.
Salman sadar jika dia tidak mungkin bisa mengatakan perasaannya pada Anna. Namun, dia akan berusaha tetap dekat dengan Anna meskipun tanpa mengatakan perasaan yang sesungguhnya pada Anna. Dengan melihat Anna seperti ini pun sudah lebih dari cukup untuk Salman.
Sampai di sekolah, Anna melirik ke arah Salman yang juga baru keluar dari mobil. Dengan refleks Anna malah melambaikan tangannya pada Salman yang saat itu tengah menatapnya juga.
Senyum renyah Anna mampu menghipnotis Salman yang saat itu memang sangat ingin melihat wajah gadis yang sudah mengobrak-abrik hatinya. Dia terkesima melihat wajah Anna yang menurut Salman malah makin menggemaskan.
Salman senyum membalas lambaian tangan Anna. Dia pun akhirnya memilih untuk berjalan masuk untuk ke ruang guru.
Hari senin diawali dengan kegiatan upacara bendera. Semua siswa berkumpul di lapangan upacara untuk mengikuti agenda wajib rutin setiap hari senin. Anna yang saat itu baris di posisi paling depan justru malah berdiri sejajar tepat di depan Salman yang saat ini tengah berbaris juga di barisan khusus para guru.
Mata Anna menelisik setiap gerak Salman. Begitu juga sebaliknya. Salman pun menatap Anna dengan begitu lekat meskipun pandangan mereka berada pada jarak beberapa meter.
"Seandainya aku bertemu dia setahun yang lalu, mungkin saat ini aku sudah akan berani mengungkapkan perasaan aku padanya. Sekarang aku hanya bisa mengaguminya seperti ini, aku hanya bisa memberikannya perhatian agar dia merasa nyaman dan merasa terlindungi. Aku tidak bisa melebihi batasanku karena aku yakin jika dia tahu status aku yang sebenarnya ... dia akan menjauh dan tidak akan pernah mau lagi aku ajak keluar," batin Salman meratapi ketidakberdayaannya.
"Pak Salman ternyata ganteng juga. Aku kenapa merasa jika perhatian Pak Salman berbeda sama aku. Tadi pagi saja dia nungguin aku di halte. Aku yakin kalau dia memang sengaja nunggu aku," batin Anna.
Keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain, menatap dengan begitu intens dan membayangkan sesuatu yang sekarang sedang berseliweran dalam pikirannya masing-masing.
"Liburan nanti pasti akan terasa sangat lama. Aku tidak bisa bertemu atau melihatnya seperti ini. Meskipun aku tidak bisa memilikinya tapi setidaknya aku masih bisa melihatnya dan menjalin komunikasi yang baik dengan dia. Semoga saja dia selalu bahagia," batin Salman.
__ADS_1
***
Jangan lupa kasih like, komentar n vote, ya Teman-teman.