Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Sebuah Fakta


__ADS_3

Sore hari benar saja Salman datang, tapi kali ini dia datang bersama Anita dan juga Amara.


"Anna ... kamu tuh sakit apa sih?" tanya Anita yang langsung duduk di tepi kasur Anna.


"DBD, mungkin waktu di luar kota banyak nyamuk hingga aku kena gigitan nyamuk, bahkan ada nyamuk yang kepalanya gede ... pengin aku timpuk tapi takut melawan," sahut Anna seraya melirik ke arah Salman.


"Kamu tuh beneran DBD atau apa, Na? Kok omongan kamu jadi gak nyambung," sahut Amara yang langsung mendapatkan senyuman dari Salman, tapi Salman berusaha untuk menahan senyumnya.


"Beneran ... ada nyamuk yang kepalanya ekstra gede, ngeselin selalu deketin aku," jelas Anna lagi.


Amara dan Anita saling bertukar pandang. Mereka berdua meraba dahi Anna yang panas, dan buru-buru memasang isyarat untuk segera pulang.


"Na, sepertinya kamu perlu istirahat banyak. Besok kita ke sini lagi, ya," ucap Anita yang merasa takut jika Anna terganggu mentalnya, karena terus-terusan menjawab dengan ucapan yang tidak masuk akal.


"Kok udah pada pulang, sih," ucap Anna. Namun diabaikan oleh Anita dan Amara.


"Pak, kita duluan," pamit Anita dan Amara dengan terburu-buru.


Salman hanya mengangguk sambil tersenyum. Matanya beralih menatap ke arah Anna yang saat ini tampak kecewa, karena sahabatnya hanya sebentar menengoknya.


"Makanya kalau bicara itu harus jelas, gak usah pakai dianalogikan segala. Aku tuh udah paham loh," ucap Salman dengan suara pelan.


"Ih emang aku ngomong apa?" sahut Anna sambil mengerucutkan bibirnya.


"Pak Guru, kira-kira di sini masih lama gak?" ucap Bi Marni ragu.


"Emang kenapa?" sahut Salman ramah.


"Kenapa, Bi?" sahut Anna.


"Titip Anna sebentar, ya. Bibi mau pulang dulu ada urusan yang sangat mendesak, gak apa-apa, kan?" jelas Bi Marni.


"Tentu saja tidak apa-apa. Lagian rumah saya dekat jadi santai aja, Bi," sahut Salman.


Salman pastinya tidak keberatan karena itu yang dia inginkan, selalu dekat dengan Anna.

__ADS_1


"Bibi mau kemana? Jangan tinggalin aku, dong," ucap Anna memelas.


"Palingan 2 jam, Bibi tinggal dulu, ya. Nanti Bibi jelaskan," sahut Bi Marni yang justru malah buru-buru keluar dari ruangan Anna.


Anna mencebikkan bibirnya. Tidak sahabat tidak Bi Marni, semuanya meninggalkan dirinya sendirian di rumah sakit.


"Kamu boleh pergi, maaf mengganggu waktu istirahatnya," ucap Anna seraya melengos.


"Aku gak setega itu juga, Zea ... aku istirahat di sini aja, ya," sahut Salman sambil menarik kursi untuk duduk lebih dekat dengan Anna tepat di sisi ranjang Anna.


Jarak antara Anna dan Salman begitu dekat. Anna begitu gugup dan itu sangat terlihat jelas oleh Salman.


Salman tersenyum. Dia meraih tangan Anna dan meskipun Anna berusaha berontak tetap tidak bisa karena tenaga Salman jauh lebih kuat.


"Jangan suka marah-marah ... masih muda nanti darah tinggi," ucap Salman menggoda.


"Kalau aku darah tinggi itu gara-gara kamu," sahut Anna mencibir.


"Kalau aku jantungan," sambung Salman.


"Gara-gara kamu aku jantungan, karena dekat dengan kamu kayak gini bikin jantung aku berdegup lebih kencang, Zea," sahut Salman dengan meletakkan tangan Anna di dadanya.


"Kamu merasakannya, kan?" sambung Salman.


Anna hanya menatap Salman. Jantung Salman benar-benar berdetak lebih kencang.


"Kamu tahu apa artinya?" ucap Salman lagi.


"Karena aku cinta sama kamu, makanya jantung aku akan berpacu lebih kuat ketika melihat dan dekat dengan kamu," jelas Salman.


"Gombal," cibir Anna seraya menarik tangannya. Namun, Anna masih saja merasakan getaran jantung Salman di telapak tangannya meskipun sekarang sudah tidak memegang dada Salman.


"Zea ... apa kamu mau dengar cerita aku?" tanya Salman.


"Buat apa? Gak guna," sahut Anna cepat.

__ADS_1


"Meski gak guna, aku harap kamu mau mendengarnya. Supaya kita tidak salah paham," sambung Salman.


Anna tidak menyahut. Sebenarnya dia pengin dengar cerita Salman tapi itu terlalu menjatuhkan harga dirinya jika Anna berterus terang.


"Aku adalah anak tunggal. Ayah dan Ibu membesarkan aku dengan begitu sayang. Mereka orang tua terbaik menurut versiku." Salman menjeda ucapannya.


"Ketika aku masih kecil, usaha Ayah masih belum stabil. Ayah hanya pemilik Yayasan yang tidak terlalu besar dan ketika itu cobaan menghampiri keluarga kami." Salman menarik napasnya panjang dan kembali menarik tangan Anna.


"Saat itu Ayah kecelakaan ... Ayah hampir tidak ditemukan ... tapi gadis kecil yang saat itu tengah bertamasya melihat Ayah sedang tergeletak di parit dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Gadis itu berlari menuju orang tuanya dan menceritakan tentang apa yang dilihatnya."


"Ayah dibawa ke rumah sakit oleh keluarga anak kecil itu. Lalu karena Ayah yang sudah hampir kehabisan darah, Ayah memerlukan transfusi darah secepatnya, dan secara kebetulan ayah gadis kecil itu golongan darahnya sama dengan Ayah."


"Ayah bisa kembali ke tengah-tengah keluarga kita berkat bantuan mereka, dan atas dasar itulah Ayah membuat janji untuk membalas hutang budi yang pernah Ayah terima."


"Gadis kecil itu adalah Vania, dan orang tua yang memberikan darahnya untuk kehidupan ayah adalah ayahnya. Atas dasar itulah Ayah dan Ibu meminta agar aku bisa membalaskan hutang budi pada mereka."


"Aku menikahi Vania karena keinginan terakhir Ayah. Ayah meninggal tepat setelah aku mengikrarkan ijab kabul pada Vania. Pernikahan yang hanya dihadiri oleh kedua orang tua aku dan juga orang tua Vania."


"Sehari setelah menikah aku memutuskan untuk pergi ke kota ini, melanjutkan yang Ayah cita-citakan agar aku bisa meneruskan perjuangannya."


"Hari dimana aku menabrak kamu, itu adalah hari pertama aku menginjakkan kaki lagi di kota ini. Aku sedang buru-buru karena harus bertemu dengan pihak Yayasan."


"Aku yang masih belum menerima pernikahan aku, membuat aku tidak konsentrasi hingga akhirnya aku nabrak kamu, Zea."


"Dan ketika kita ketemu di kota kelahiran aku ... itu adalah pertemuan kedua aku dengan Vania setelah aku menikahinya."


Salman menjelaskan semuanya dengan begitu rinci. Anna yang menyimak pun merasakan ada sesuatu yang Salman rasakan.


"Bukankah pernikahan itu sesuatu yang sakral? Tapi kamu seolah-olah mempermainkan pernikahan kamu," sahut Anna.


"Aku tidak punya niat untuk itu. Aku seperti ini karena aku tidak pernah mencintai istriku," tegas Salman.


"Tapi cinta bisa datang karena terbiasa," sahut Anna.


"Dan cinta itu muncul hanya padamu, Zea. Aku tidak mencintai siapa pun juga selain kamu," tegas Salman.

__ADS_1


"Please ... beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini dulu, Zea. Aku tidak mungkin menyakiti Vania dengan berpura-pura mencintainya ... aku akan mengakhiri semua ini dengan baik-baik ... dan selama itu ... aku minta sama kamu untuk berjanji agar bersedia menunggu aku, Zea," ucap Salman memelas.


__ADS_2