
Malam hari Anna masih sibukkan dengan acara packing barang-barang yang akan dia bawa selama liburan dengan Kakak serta kakek neneknya. Dia begitu senang, karena liburan sekarang Anna dijanjikan akan dibelikan sepeda motor baru oleh kakek neneknya jika mau tinggal selama dua minggu dengan mereka.
"Anna ... besok kita perginya pagi, kamu awas loh terlambat bangun," ucap Raina yang saat ini masuk ke kamar anaknya.
"Gak bakalan, Mi," sahut Anna cepat sambil menutup koper miliknya.
"Semuanya udah kamu masukin? Awas loh ada yang ketinggalan," sambung Raina.
"Tinggal minta dibeliin aja sama Abang," jawab Anna cepat.
"Abang ... Abang ... nanti Fais bosen kalau dikit-dikit kamu minta di beliin," ujar Raina lagi.
"Ada Nenek sama Kakek," sahut Anna yang malah membuat Raina geleng-geleng kepala.
Anna tersenyum kemudian menyimpan kopernya ke dekat meja rias dan kemudian dia memasukkan alat kosmetiknya ke tas yang lainnya.
"Na," panggil Raina lembut.
"Apa, Mi?" sahut Anna sambil menoleh ke arah Maminya.
"Mami boleh tanya sesuatu gak?" tanya Raina ragu-ragu.
"Apa?" Anna sudah siap untuk menyimak.
"Guru kamu yang ngasih kamu hadiah ... maksud Mami ... guru kamu itu ngasihnya pakai iming-iming gak?" tanya Raina kagok.
"Iya, aku harus jadi juara kelas dan nilai matematika aku harus jadi yang terbaik," jawab Anna jujur.
"Apa kamu gak merasa aneh?" sambung Raina.
Deg, Anna bukan anak kecil. Dia sudah paham dengan arah pembicaraan ibunya itu yang menginginkan kejujuran atas sesuatu yang yang Anna rasakan.
"Seandainya Mami tahu aku nonton sama Pak Salman, Mami sudah sangat pasti bakalan marah. Tapi, aku kan tidak tahu sebenarnya alasan Pak Salman baik sama aku itu karena apa? Apa benar hanya sebatas guru pada muridnya," batin Anna.
"Enggaklah, Mi. Pak Salman kadang suka ngasih reward juga kalau sedang di kelas, bukan sama aku aja," jelas Anna masih berusaha menutupi, karena dirinya sendiri masih tidak tahu kejelasannya.
"Kalau nanti aku cerita yang sebenarnya, nanti Mami mengira jika Pak Salman suka sama aku. Padahal aku juga pernah beranggapan seperti itu, tapi aku tidak ingin kepedean dulu sebelum ada kejelasan yang pasti," batin Anna.
***
Pagi ini Anna diantarkan oleh Mami dan juga Papinya. Sebenarnya Alex dan Raina bisa saja mengantarkan Anna sampai Bandara, tapi karena rasa khawatirnya mereka pun akhirnya tidak pernah mengijinkan Anna untuk berangkat sendirian, meskipun nanti di Bandara di sana sudah ada Faisal yang menjemput.
__ADS_1
"Abang!" teriak Anna ketika melihat sang kakak yang saat ini menjemput mereka di Bandara.
"Adek ... kamu kayak yang gak ketemu berapa tahun aja," goda Faisal sambil mencubit kedua pipi Anna gemas.
"Ish Abang tuh kalau jauh ngangenin kalau deket makin kangen aja," sahut Anna yang bergelayut manja pada Faisal.
"Anna ... jangan kayak gitu, nanti gak bakalan ada cewek yang mau sama Abang kamu karena dikiranya kamu pacarnya," ucap Alex menggoda.
"Papi, kalau bicara tuh dijaga. Masa ngatain anak sendiri gak laku," protes Raina yang langsung memeluk anak sulungnya.
Alex hanya tersenyum. Faisal sungguh menjadi duplikat Alex. Wajah dan kebiasaannya pun sama persis seperti Alex.
Mereka berempat terlihat bahagia. Alex yang merangkul Anna, sedangkan Faisal merangkul Maminya.
"Bagaimana usahanya?" tanya Alex serius.
"Lancar, Pi. Aku sudah mulai full di kantor dan kakek sudah menyerahkan semuanya sama aku," jelas Faisal.
"Jadi, kamu gak ada niat buat balik dan kumpul sama kita?" sela Raina.
"Mau, Mi. Tapi, kan Mami tahu sendiri kalau aku di sini repot," jawab Faisal dengan melirik ibunya dari kaca spion depannya.
"Mendingan Abang jauh, kalau di rumah nanti bakalan terus-terusan di omelin Mami. Pacaran aja gak boleh, kan," sahut Anna ikut menimpali.
"Kalau aku minta pindah ke sini boleh gak, Pi?" tanya Anna menggoda Alex.
"Jangan dong, Papi kesepian, Sayang," sahut Alex yang langsung disambut gelak tawa mengejek oleh Anna.
"Hahaha ... Papi sekarang kalau Mami gak mau diajak kencan pasti bakalan ngajak kencan aku, iya 'kan, Pi?" goda Anna lagi.
"Ish ... kamu sama Papi sama aja," keluh Raina sambil tersenyum.
Sementara itu, sesampainya di rumah kakek dan neneknya yang tidak lain adalah rumah orang tua Alex, Anna langsung memposisikan dirinya masuk ke kamar. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menguap, karena entah kenapa matanya terasa lelah sehingga merasa sangat kantuk sekali.
Tring! Suara pesan masuk di ponsel Anna berbunyi.
Anna membuka pesan tersebut, dan senyumnya langsung terbit ketika melihat nama dari si pengirim pesan tersebut.
[Sudah tiba?]
Pesan yang begitu singkat tapi mampu membuat Anna sangat senang.
__ADS_1
[Baru sampai, Pak.]
Balas Anna dengan begitu antusias.
[Nanti saya hubungi lagi. Saat ini kamu pasti masih merasa capek. Selamat istirahat.]
Anna yang membaca pesan balasan dari Salman merasa kecewa karena sebenarnya dia masih ingin bertukar pesan dengan Salman.
"Ya, udah aku gak usah balas aja," gumam Anna yang kembali menyimpan ponselnya.
"Kira-kira Pak Salman kalau liburan kayak gini, dia ngapain aja, ya?" gumam Anna lagi.
***
Keesokan harinya, Alex dan Raina memutuskan untuk pulang lagi ke rumah mereka. Alex hanya ingin memastikan jika putri kesayangannya sampai di tempat tujuan dengan aman.
"Gak usah di anterin ... Mami dan Papi bisa naik taksi," cegah Alex yang menolak akan diantara ke Bandara.
"Iya, kita bisa naik taksi, Bang," sahut Raina meyakinkan.
"Beneran gak apa-apa?" Faisal yang tipikal bertanggung jawab, dia enggan untuk membiarkan orang tuanya naik taksi.
"Kamu tuh gak percaya sama Papi kamu sendiri," goda Alex seraya memeluk anak sulungnya dengan erat.
"Titip Anna, ya. Siapin aja dompet karena sejak dari rumah dia sudah banyak bikin list yang pengin dia minta dari kamu." Alex melepaskan pelukannya.
Faisal hanya tersenyum seraya melepas kedua orang tuanya yang saat ini akan naik taksi.
Faisal sangat beruntung melihat Papi dan Maminya yang selalu akur dan harmonis. Meskipun berada jauh, kedua orang tuanya selalu saja menyempatkan diri untuk bertanya kabar pada Faisal meskipun tidak sesering saat pertama kali Faisal pindah ke kota ini.
"Anna kamu lagi chatting sama siapa? Kok senyam-senyum sendiri kayak gitu?" Ucapan Faisal membuat Anna terlonjak kaget, karena pasalnya saat ini Anna sedang berbalas pesan dengan Salman.
"Abang, kok masuk gak ketuk pintu dulu," keluh Anna.
"Abang udah ngetuk, kamunya aja yang gak denger. Chating sama pacar, ya?" sambung Faisal yang ujungnya malah menggoda Anna.
"Abang jangan sok tahu." Anna mendelik dan menyembunyikan ponselnya, karena takut terbaca oleh Faisal.
"Ya, udah lanjut aja ... mumpung gak ada Mami jadi gak bakalan ada yang tahu kalau kamu chating sama pacar," pungkas Faisal seraya keluar dari kamar Anna.
Anna menarik napasnya panjang, alangkah terkejutnya Anna ketika melihat ke arah ponselnya yang malah menghubungi Salman lewat telepon sejak dari tadi.
__ADS_1
"What, kenapa jadi kayak gini, dia denger gak, ya apa yang Abang ucapkan," batin Anna yang buru-buru memutuskan sambungan teleponnya.