Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Pertemuan Kembali


__ADS_3

*4 tahun kemudian*


Anna memulai kuliah dengan suasana hangat. Dia membuka lembaran baru dalam kehidupannya karena semboyan dia 'life must go on'.


Tahun pertama dia lalui dengan tanpa hambatan, begitu juga tahun kedua dan juga tahun ketiga.


Pada tahun keempat Anna di haruskan pulang ke kota kelahirannya karena sang Kakak akan melepas masa lajangnya.


"Jika saja bukan karena pernikahan Bang Fais, aku malas harus pulang," gumam Anna.


"Nanti di sana aku akan ketemu dengan dia lagi. Sudah dengan begitu susah aku melupakannya dan sekarang aku malah harus ketemu dengan dia. Apa aku akan siap bertemu dengannya," batin Anna.


"Sekuat apa pun aku mencoba, hati ini kenapa begitu susah untuk berpaling," gumam Anna sambil menyentuh kalung hadiah dari Salman yang sudah dia gunakan sejal empat tahun yang lalu.


Anna merasa tenang karena merasa dirinya begitu dekat dengan Salman. Ketika dia merasa rindu, dia pasti akan mengajak kalung yang dia gunakan sebagai lawan bicaranya.


Anna bersiap-siap untuk pulang. Dia mengambil penerbangan pagi supaya bisa sampai di kampung halamannya tidak terlalu sore.


Tiba di tanah kelahirannya, Anna menghirup udara khas yang dia rindukan. Selama kuliah 4 tahun di kota Y, Anna baru pulang satu kali itupun karena Maminya yang sakit. Selebihnya Anna tidak pulang dan dia akan lebih mengurung dirinya sendiri sambil belajar di kosan.


Anna jadi orang yang tertutup. Bahkan teman satu kampus ada yang secara blak-blakan mengatakan jatuh cinta pada Anna, tapi Anna lebih menjawab jika dia sudah bertunangan, sehingga tidak ada lagi laki-laki yang berani mendekati Anna selain urusan persahabatan.


"Aku harus bersiap-siap untuk menyediakan stok sabar dalam hati aku. Lagian kenapa juga Abang dapat istri teman satu sekolahnya dulu, Gak niat apa nyari istri di tempatnya kerja," keluh Anna yang memang kebetulan acara pernikahan Fais di selenggarakan di hotel dekat rumahnya, karena istri Fais berasal dari kota yang sama juga.


***


Hari pernikahan Fais pun berlangsung mewah. Anna sudah bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan akan bertemu dengan Salman dan istrinya atau mungkin anaknya juga.


Anna berdiri dengan tubuh yang gemetar ketika melihat ada istri Salman yang membawa seorang anak kecil.


Namun, Anna tidak menangkap sosok yang dia rindukan. Meskipun awalnya merasa tidak sanggup tapi ketika mendapati Salman tidak mendampingi istri dan anaknya pun dia jadi merasa kecewa karena benar-benar tidak bisa melihat wajah Salman.

__ADS_1


"Mungkin dia tidak ingin ketemu dengan aku," batin Anna yang sekarang memilih untuk keluar dari gedung pesta.


Anna terus kepikiran. Dia lagi-lagi menggenggam kalung yang melingkar di lehernya jenjangnya.


"Bodoh ... kenapa aku masih mengharapkan bertemu dengannya, sedangkan dia sudah tidak mengingat aku," batin Anna.


***


Anna sudah kembali ke kota Y. Hari ini dia memulai aktivitas magangnya di rumah sakit terkenal di kota tersebut.


Anna seorang dokter koas yang ditempatkan di UGD di rumah sakit tersebut. Dia banyak mengambil pelajaran dari dunia nyata seorang dokter untuk melayani dan mengobati pasien di rumah sakit ini.


"Ada kecelakaan di ruas jalan tol, segera bersiap," ucap salah satu dokter senior pada Anna dan juga dokter muda lainnya.


Anna yang saat ini berjaga sudah bersiap-siap untuk menyambut korban kecelakaan beruntun di jalan tol.


Satu pasien datang dan Anna dengan sigap memberikan pertolongan pertama, dan yang lainnya pun sama.


Anna berlari ke arah pintu depan UGD, satu pasien pasien laki-laki dengan wajah yang berlumuran darah tampak tak sadarkan diri.


Anna segera menghampiri pasien tersebut, dan ketika blankar sudah sepenuhnya keluar dari ambulan, mata Anna melotot sempurna seraya tangan menutup mulutnya.


Deg, jantung Anna berpacu lebih cepat ketika melihat wajah laki-laki yang hampir 5 tahun tidak pernah dia lihat, laki-laki yang teramat dia rindukan sekarang berada di depannya dengan keadaan yang sangat memprihatikan.


Mata Anna berkaca-kaca ketika melihat Salman yang tidak sadarkan diri. Namun, sebagai seorang dokter Anna tidak boleh hanya karena larut dalam keterkejutannya melihat seseorang yang pernah singgah di hatinya.


"Pindahkan ke sini," ucap Anna pada petugas ambulan yang kemudian dia segera melakukan tindakan pada Salman.


Anna memberikan infusan serta oksigen pada Salman. Tangannya bergetar ketika bisa menyentuh wajah dan tangan dari laki-laki yang masih begitu setia berada di hati Anna.


Air mata Anna tiba-tiba lolos begitu saja ketika melihat luka Salman yang cukup parah.

__ADS_1


"Tolong bawa pasien ini ke ruang ct scan," ucap Anna meminta bantuan pada perawat untuk mendorong ranjang Salman.


"Kenapa harus bertemu dalam keadaan seperti ini? Kamu dari mana atau mau kemana? Kenapa kamu ada di kota ini?" batin Anna seraya mengikuti perawat lain.


Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, kaki Salman ada yang retak hingga harus di gips.


Anna bernapas lega karena ternyata tidak ada hal serius yang terjadi di kepala Salman. Hanya robek dan itulah yang menyebabkan wajah Salman berlumuran darah.


"Dokter Anna, apa pasien yang Anda tangani sudah teridentifikasi?" tanya perawat yang mendata pasien.


"Identitasnya belum sempat saya lihat, bentar," sahut Anna yang dengan ragu-ragu membuka dompet Salman.


Perlahan Anna membuka dompet Salman. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah foto seorang gadis yang ada di dompet itu. Mata Anna membulat sempurna ketika melihat foto yang di dompet Salman adalah foto dirinya yang diambil secara diam-diam oleh Salman ketika di taman.


"Kamu menyimpan foto aku di sini? Lalu apa istrimu tidak pernah melihatnya?" batin Anna yang malah diam membeku.


"Dok, ada identitasnya?" ulang perawat.


"Oh, bentar," sahut Anna yang langsung membawa KTP Salman.


Anna makin membulatkan matanya lagi ketika melihat alamat di KTP Salman, ternyata Salman memang berdomisili di kota Y.


"Jadi selama ini kamu ada di sini? Tapi kenapa baru sekarang aku melihatmu?" batin Anna sambil menyerahkan KTP pada perawat.


"Ponselnya rusak, jadi tidak bisa melihat kontak keluarganya. Kami akan mengunjungi rumahnya dan memberitahu keadaan pasien," ucap perawatan yang pergi membawa KTP Salman.


Anna menatap lekat laki-laki yang saat ini tengah tidak sadarkan diri. Dia mendekat dan menatap Salman dengan lamat-lamat.


"Hai, apa kabar? Aku tidak menyangka akan melihatmu lagi," ucap Anna yang beberapa detik kemudian, Salman mengerjap-ngerjapkan matanya dan membuka matanya perlahan-lahan.


"Halusinasi ini terasa nyata. Bahkan ini seperti bukan dalam mimpi," gumam Salman yang menganggap jika orang yang sedang dia lihat adalah bagian dari mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2