
Anna tersenyum. Kemudian duduk di kursi yang tersedia di dekat ranjang rawat Salman.
"Bapak dari mana dan mau ke mana? Kenapa menjadi salah satu korban dari kecelakaan beruntun?" tanya Anna yang mulai mencari tahu tentang kejadian naas Salman.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja aku kepengin jalan-jalan dan pikiran aku blank tidak punya arah dan tujuan, hingga ketika ada mobil yang menghantam mobil aku dari belakang aku langsung tidak sadarkan diri," jelas Salman.
"Ish kamu tuh kayak orang linglung aja gak punya tujuan," cibir Anna.
"Benar juga, Zea. Aku mungkin linglung, dan ini sudah berlangsung selama 5 tahun lebih," sambung Salman.
"Mungkin aku bisa mengambil hikmah dari kejadian ini, jika saja aku tidak mengalami kecelakaan ... belum tentu aku bisa bertemu kamu lagi. Meskipun seperti itu, aku masih bersyukur karena aku masih bisa bernapas dan masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan kamu lagi," lanjut Salman.
"Ponsel kamu rusak, jadi tim rumah sakit mencoba untuk mencari informasi keluarga Bapak," sambung Anna seraya menyerahkan KTP milik Salman.
Salman tersenyum seraya mengambil KTP-nya.
"Tapi di rumah mereka bilang tidak ada siapa-siapa. Jadi, istri kamu belum tahu jika kamu kecelakaan," jelas Anna yang entah kenapa hatinya tercekat ketika menyebut kata istri pada pada Salman.
"Aku memang tinggal sendirian. Jadi, meskipun mereka mencoba mencari informasi tentang keluarga aku ... mereka tidak akan dapat apa-apa," jawab Salman santai.
Anna mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan ucapan Salman padanya.
"Aku sudah bercerai. Aku menceraikan Vania setelah satu bulan pindah ke sini."
Salman menatap lekat mata Anna yang terlihat shock dengan penjelasannya.
"Aku menceraikan dia bukan karena kamu, aku menceraikannya karena aku tidak mungkin terus-terusan berbohong padanya. Setiap kali aku bertemu dengannya aku selalu menghindari dia dengan alasan karena aku tidak ingin menyentuhnya. Vania marah bahkan membenci aku karena selama aku menikah dengan dia aku belum pernah melakukan kewajiban aku sebagai seorang suami padanya," lanjut Salman.
"Aku tidak ingin memberikan dia harapan palsu. Aku tidak mungkin menyentuhnya sedangkan hati aku untuk wanita lain. Aku tidak ingin berdosa hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami," jelas Salman panjang lebar.
"Tapi, saat Bang Fais menikah aku jelas-jelas melihat istrimu membawa anak kecil, aku pikir itu adalah anak kalian," sahut Anna dengan mengatakan apa yang dia lihat.
"Vania sudah menikah lagi, dan tentu saja dia punya anak karena dia punya suami," sahut Salman sambil terkekeh.
"Kalau kamu tinggal sendirian, lalu yang menjadi wali pasien siapa?" celetuk Anna tiba-tiba.
"Kamu," jawab Salman cepat.
"Aku?" tunjuk Anna pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lalu jika kamu tinggal sendiri ... nanti siapa yang akan bantu kamu di rumah?" sambung Anna lagi.
"Kamu, Zeanna," jawab Salman lagi.
"Kamu tinggal di kosan, kan? Mami dan Papi kamu tidak ada di sini, kan? Jadi, kamu bisa, kan membantu aku untuk datang ke rumah?" sambung Salman.
"Aku sibuk," jawab Anna cepat.
"Ya, udah ... aku akan tinggal di rumah sakit saja sampai sembuh total," sahut Salman cepat.
"Gak mungkin kamu tinggal sampai 6 minggu di sini. Jangan gila," sahut Anna.
"Habisnya kalau di rumah gak ada siapa-siapa," keluh Salman dengan memasang wajah memelas.
Anna menarik napasnya panjang. "Iya, iya nanti aku bantu."
Akhirnya Anna mengalah dan menerima permintaan Salman.
"Pulanglah ... kamu terlihat capek. Tidur dan istirahat," ucap Salman kemudian.
"Gak apa-apa, kan aku tinggal sendirian?" Anna memastikan Salman tidak akan membutuhkan bantuannya.
Salman sebenarnya tidak ingin jika Anna pergi, tapi dia tidak mungkin egois karena melihat wajah Anna yang tampak lelah dan juga capek.
"Baiklah ... aku pulang dulu. Nanti malam aku ke sini lagi," sahut Anna seraya beranjak dari duduknya.
"Terima kasih," sahut Salman dengan binar bahagia.
Anna keluar setelah menyelesaikan obrolannya dengan Salman. Hatinya benar-benar tidak bisa dia kondisikan ketika tahu Salman sudah bercerai dan tidak menikah lagi. Ada perasaan yang sulit untuk dia ungkapkan dengan kata-kata, tapi dia tidak mungkin langsung menarik kesimpulannya sendiri.
***
Jam 7 malam Anna datang lagi ke rumah sakit dengan membawakan Salman makanan. Anna yang besok kebagian jadwal libur membuat dia bisa leluasa untuk menemani Salman malam ini. Entah datang dari mana keberanian Anna yang rela menemani Salman malam ini di rumah sakit.
Anna mendatangi meja resepsionis untuk memberikan data keluarga Salman. Dia menjadikan dirinya sebagai wali dari Salman agar semua proses administrasi nantinya mudah.
Anna masuk ke kamar Salman dan saat itu Salman sedang menunggu Anna.
"Kamu udah makan?" tanya Anna ketika melihat makanan dari rumah sakit yang masih utuh.
__ADS_1
"Tangan akunya sakit, jadi gak bisa makan sendiri," sahut Salman modus.
"Ish tadi aja kamu bisa pegang-pegang sekarang masa iya, jadi sakit," cibir Anna sambil terkekeh.
"Mau makanan ini atau mau pesan dari luar?" tawar Anna.
"Sebenarnya aku gak bisa makan makanan itu, aku pengin makanan yang normal," jelas Salman yang disambut gelak tawa oleh Anna.
"Kamu tuh sakit aja masih bisa nawar, apalagi kalau sehat," cibir Anna lagi sambil memesan makanan online untuk mereka.
"Zea, dompet aku di mana?" tanya Salman yang memang dia tidak tahu jika dompetnya di simpan di laci meja yang ada di kamar rawatnya.
"Ah aku lupa gak ngasih tahu, ini," sahut Anna seraya mengambil dompet Salman.
Salman tersenyum kemudian membuka dompetnya dan mengambil kartu debit miliknya.
"Ini kamu yang simpan, gunakan semuanya untuk keperluan aku selama di sini. Pin nya tanggal lahir kamu," ucap Salman yang lagi-lagi mampu membuat Anna melongo.
"Jangan suka nge-prank deh," kilah Anna seraya mencoba menetralisir perasaannya.
"Kamu boleh membuktikannya," tegas Salman.
Anna hanya tersenyum seraya mengambil kartu debit Salman.
"Kok kepikiran ngasih pin-nya tanggal lahir aku," selidik Anna.
"Jelas kepikiran lah, orang kamu ada di hati aku," jawab Salman yang membuat Anna mengerucutkan bibirnya.
"Dasar tukang gombal," kilah Anna.
"Aku serius, Zeanna ... sampai sekarang hati aku hanya untukmu. Aku masih mencintaimu bahkan setiap hari aku selalu memikirkan kamu," ucap Salman meyakinkan.
"Udah, ah ... gak usah dibahas. Fokus sama kesehatan kamu aja," kilah Anna.
"Bagaimana dengan kamu, Zeanna?" tanya Salman lagi.
"Aku tidak tahu, waktu 5 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Semuanya bisa berubah termasuk perasaan. Benar, kan?" sahut Anna yang mencoba untuk tidak terpancing oleh perasaan Salman.
Anna hanya masih butuh waktu untuk mencerna semua ini. Dia cinta, bahkan dia makin mencintai Salman, tapi dia masih belum siap untuk patah hati lagi.
__ADS_1