Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Jangan Suka Main Hati


__ADS_3

Salman yang baru saja mengantarkan Anna ke rumah neneknya, dia pun segera pulang untuk berkemas karena dia memutuskan untuk pulang esok hari.


Bukan tanpa alasan dia mempercepat kepulangannya, tiada lain dan tiada bukan karena Salman tidak ingin istrinya keburu pulang dan dia masih berada di rumah ibunya.


Salman sudah bersusah payah mencari alasan untuk tidak menyentuh Vania, dia sudah tidak mungkin lagi mencari alasan karena Vania pasti tidak akan percaya. Maka dari itu dia memutuskan untuk pulang di saat Vania di luar kota.


"Salman apa yang sedang kamu lakukan?" tanya ibunya Salman.


"Aku harus segera kembali, Bu. Ada urusan yang tidak bisa aku tunda," jawab Salman beralasan.


"Tapi Vania sedang tidak ada," sambung ibunya.


"Nanti aku akan bicara sama dia," jelas Salman.


"Kamu berangkat kapan?" tanya ibunya Salman lagi.


"Nanti sore, Bu." Salman menutup kopernya dan kemudian masuk ke kamar mandi.


"Aku harus pesan tiketnya hari ini, dan untuk malam ini aku harus tidur di hotel agar nanti ketika Vania datang aku sudah pergi," batin Salman seraya membersihkan badannya.


Salman segera berganti pakaian. Dia menarik kopernya dan tidak lupa berpamitan pada ibunya.


"Kamu kok buru-buru sekali, Salman," selidik ibunya yang merasa aneh dengan sikap Salman.


"Aku, kan udah bilang aku harus buru-buru tiba di sekolah, Bu. Besok pagi aku harus sudah menghadiri agenda rapat," jelas Salman sambil berpamitan. Salman memesan taksi online, begitu taksinya datang, Salman langsung pamit.


"Maafkan aku, Bu. Aku melakukan ini karena aku tidak ingin menyakiti siapa pun. Jika malam ini aku masih tinggal di sini, maka aku mau tidak mau harus memberikannya hak dia sebagi seorang istri. Aku tidak mungkin melakukannya karena aku tidak mencintainya. Aku ingin bicara baik-baik dengannya dan aku pun ingin mengakhiri pernikahan aku tanpa harus menjadikan dia korban hasrat sesaatku," batin Salman.


Salman meraih ponselnya. Dia mengetikkan pesan untuk Vania.

__ADS_1


[Aku harus kembali, maaf tidak bisa menunggumu. Sukses untuk usahanya.]


Kemudian Salman pun mengetikkan pesan untuk Anna.


[Zea, malam ini aku tidur di hotel. Aku sudah pamit dengan orang rumah untuk pulang hari ini, tapi aku berbohong karena aku pulangnya besok. Aku kangen sama kamu, Zea.]


Salman tersenyum ketika membayangkan Anna akan cemberut ketika menerima pesan darinya.


Namun, ternyata pesan Salman tidak dibaca oleh Anna.


"Zea ... kamu sedang apa? kenapa tidak baca pesan dariku?" batin Salman.


Anna sebenarnya tahu jika Salman mengirim pesan padanya. Tapi, karena dia masih tidak tahu harus bersikap seperti apa, dia pun memilih hanya melihat pesan Salman di jendela ponselnya tanpa berniat membukanya.


Sampai malam Salman tidak mendapatkan balasan apa-apa dari Anna, tapi tidak pada Vania. Vania memaklumi alasan kepulangan Salman karena dia masih belum bisa kembali sampai tiga hari ke depan.


Salman terus menatap ke layar ponselnya, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena tidak ada balasan apa-apa dari Anna.


"Lebih baik aku kirim dia pesan lagi, meskipun tidak dibalas tapi setidaknya nanti dia akan membukanya," batin Salman sambil mengetikkan kembali pesan.


[Malas baca pesan aku, ya? Tapi gak apa-apa ... aku ngerti kok. Sampai jumpa lagi. I love you, Zeanna.]


Anna yang saat ini tengah memegang ponsel, dia bisa tahu ada pesan dari Salman. Rasa penasarannya mengalahkan segalanya.


Dia akhirnya membuka pesan dari Salman dan hatinya bergetar ketika membaca pesan dari Salman.


"Bodoh ... dasar bodoh ... udah jelas-jelas aku bilang benci tetap saja bilang kayak gini," gumam Anna.


Anna tidak membalas. Dia menyimpan ponselnya dan memejamkan matanya untuk tidur. Dia berusaha untuk tidur tapi sampai jam 10 malam Anna masih berguling ke kiri dan ke kanan karena tidak bisa tidur memikirkan Salman.

__ADS_1


"Salman ... kamu tuh bener-bener bikin aku tidak bisa tidur," gumam Anna seraya meraihnya ponselnya.


[Jangan kirim aku pesan lagi!]


Anna mengirimkan pesan pada Salman dan dia langsung melotot ketika pesanannya langsung dibaca oleh Salman.


[Aku tidak bisa tidur, Zea. Sekuat apa pun aku mencoba ... aku tetap tidak bisa melupakan kamu.]


Anna tersenyum getir ketika membaca pesan balasan dari Salman.


"Ternyata dia juga belum tidur," gumam Anna.


[Makanya jangan suka bermain hati jika akhirnya seperti ini. Aku harap ini pesan terakhir kita, jangan pernah menghubungi aku lagi. Aku akan bersikap seperti biasa, menghormatimu karena kamu guru aku. Jangan pernah membahas lagi urusan perasaan kita, anggap saja ketika kita bertemu lagi di sekolah itu adalah pertemuan awal kita. Maafkan atas semua perkataan aku yang menyinggung bahkan menyakitimu. Itu hanya spontanitas ketika aku marah. Aku menyesal karena bertindak kurang sopan sama Bapak. Sekali lagi aku mohon maaf. Semoga Bapak selalu bahagia.]


Anna harus mengambil tindakan tegas dan meminta maaf atas ucapannya yang tidak sopan pada Salman. Dia meyakini satu hal jika perasaan Salman memang tulus dan itu tidak bisa dia pungkiri karena dia pun memiliki perasaan yang sama, tapi dia juga harus segera menyadari jika dia tidak boleh merusak kehidupan rumah tangga Salman dan istrinya dengan dia masuk ke kehidupan Salman.


Salman yang membaca pesan terakhir dari Anna, hatinya langsung terkoyak. Patah hati, itulah yang saat ini Salman rasakan.


[Aku akan menghormati semua keputusan kamu, Zea. Maafkan aku.]


***


Seminggu sudah Salman dan Anna tidak saling berkomunikasi. Baik Salman ataupun Anna tidak ada yang berani mengirim pesan hanya untuk sekedar bertanya kabar. Mereka berdua menahan rasa rindu yang sama-sama menggebu dalam hati mereka, tapi karena ego mereka dan kesepakatan yang sudah mereka sepakati akhirnya mereka hanya bisa menahan rindu yang sekarang sudah hampir memuncak.


Hari ini awal masuk sekolah, Anna masuk di kelas XII dan hari ini juga dia pasti akan bertemu dengan Salman.


Anna menghidupkan sepeda motornya, ketika hendak melewati halte, Anna melihat ada mobil Salman yang selalu menunggu hanya sekedar untuk melihat Anna menggunakan sepeda motor.


Anna yang biasanya tersenyum atau memberi kode dengan klakson, hari ini dia acuh tidak mempedulikan Salman, padahal dalam hatinya dia begitu rindu akan sosok laki-laki yang tidak bisa dia miliki.

__ADS_1


"Kamu benar-benar membuktikan ucapan kamu untuk menunggu aku," gumam Anna sambil mengemudikan sepeda motornya.


"Hanya dengan melihat kamu seperti ini pun sudah lebih dari cukup untukku, Zea. Aku tidak akan menggangu kamu lagi," gumam Salman seraya melajukan mobilnya.


__ADS_2