
Pagi ini Anna libur dari dinasnya. Dia pun segera membuatkan sarapan untuk Salman dan setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Sayang ... udah mau tidur?" tanya Salman ketika selesai mandi.
"Iya, Mas. Sarapan udah aku bikin dan udah aku siapkan di meja makan," jawab Anna.
Bukan tanpa sebab, Anna yang baru lepas dinas malam dia sungguh sangat merasa kantuk, Dia belum sempat tidur hingga ketika pulang Anna langsung menuju tempat tidur.
Salman tersenyum kemudian mendekat ke arah Anna.
"Capek? Mau aku pijitin?" tawar Salman ketika melihat Anna yang mencoba memijat kakinya sendiri.
"Gak usah, Mas. Kamu siap-siap aja. Aku tidur, ya," sahut Anna yang kemudian memejamkan matanya.
Salman tersenyum dan di pun segera menggunakan pakaiannya dan dia menggunakan pakaian rumahan karena rencananya hari ini Salman ijin tidak masuk kerja.
Salman pun ikut naik ke atas tempat tidur. Dia memeluk istrinya dan langsung membuat Anna kembali membuka matanya.
"Kenapa malah ikut tiduran?" Anna menatap suaminya.
"Aku mau di sini nemenin kamu tidur," jawab Salman seraya mengeratkan pelukannya.
"Yakin cuma mau tidur?" goda Anna yang balas memeluk suaminya.
"Ya, kalau ada yang ngasih lebih gak mungkin aku menolaknya," sahut Salman yang ikut-ikutan menggoda Anna.
"Hahaha ... modus kamu mah, Mas." Anna tersenyum lebar.
"Sayang ... perasaan bulan ini kamu belum haid deh," ucap Salman yang tahu jadwal tamu bulanan istrinya itu.
"Oh, ya? Kayaknya belum waktunya deh," jawab Anna seraya mengingat-ngingat kembali tanggal datang bulannya.
"Bulan kemaren kamu haid tanggal 20, sekarang udah tanggal 22, Sayang," jelas Salman.
"Kayanya efek capek jadi telat," jawab Anna cepat.
"Kok gara-gara capek? Bukan karena ...." Salman menggantungkan ucapannya.
"Hamil?" tebak Anna langsung.
"Iya," jawab Salman.
__ADS_1
"Gak mungkin, aku kan ...." Anna buru-buru menutup mulutnya ketika hampir keceplosan mengatakan sesuatu yang dia lakukan tanpa sepengetahuan suaminya.
"Apa?" selidik Salman dengan serius.
"Aku yakin ini cuma efek cepek aja, Mas. Aku yakin," jawab Anna cepat.
"Kenapa begitu yakin? Harusnya wanita yang bersuami ketika terlambat datang bulan pertanda jika mungkin saja sedang hamil, tapi kenapa kamu yakin jika bukan karena hamil?" selidik Salman yang pasti tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan penjelasan.
"Ya pokoknya aku enggak hamil, Mas," tegas Anna.
"Iya aku tahu, tapi apa alasan kamu bisa seyakin itu, Zeanna," tegas Salman.
"Ya yakin aja," jawan Anna cepat.
"Apa kamu menyembunyikannya sesuatu dari aku, Zea?" selidik Salman menatap tajam ke arah Anna.
"Aku capek, Mas. Aku belum tidur ... aku tidur dulu, ya," pungkas Anna dengan memejamkan matanya tapi Salman tidak membiarkan Anna lolos begitu saja.
"Ayo kita pergi ke dokter kandungan sekarang juga," ucap Salman sambil mengubah posisi Anna.
"Ya ampun, Mas. Aku ini ngantuk, bisa enggak sih kamu gak ganggu aku dulu," ketus Anna yang awalnya normal sekarang malah terpancing emosinya.
"Aku udah udah bilang aku gak hamil, Mas!" tegas Anna.
"Kenapa?"
Untuk pertama kalinya Salman menaikkan nada bicara pada Anna.
"Apa kamu minum atau mengikuti progam pencegah kehamilan?" selidik Salman.
Deg!
Anna terkejut karena sebenarnya dia memang mengikuti program KB dengan tujuan dia ingin menunda dulu kehamilannya.
Anna diam dia hanya memainkan ujung pakaiannya hingga tepukan Salman menyadarkannya.
"Jawab aku, Zeanna!" ulang Salman.
"Iya, aku ikut KB," jawab Anna cepat.
Jeder!
__ADS_1
Salman seperti disambar petir ketika mendengar jawaban Anna.
"Kenapa kamu ikut KB tanpa sepengetahuan aku bahkan tanpa ijin dari aku, Zeanna? Aku ini suamimu dan harusnya sebelum kamu melakukan hal seperti itu kamu bicara dulu sama aku," tegas Salman dengan nada kecewa karena ternyata selama ini Anna malah sengaja menunda kehamilannya.
"Aku, kan udah bilang sama kamu, Mas. Aku belum siap untuk punya anak, lagian kalau aku punya anak sekarang-sekarang koas aku gimana? Aku hanya tinggal beberapa bulan lagi menuntaskan semuanya sampai gelar aku benar-benar menjadi seorang dokter," jelas Anna.
"Kalau begitu mulai besok kamu tidak perlu lagi pergi ke rumah sakit. Diam di rumah dan tidka perlu menuntaskan pendidikan kedokteran kamu," tegas Salman serius.
"Gak bisa gitu dong, Mas. Jadi dokter itu impian aku. Aku tidak mungkin berhenti ketika beberapa bulan lagi aku jadi dokter," tegas Anna.
"Lalu kenapa kamu mengambil keputusan besar untuk menunda kehamilan tanpa bicara sama aku. Bukankah aku suami kamu yang harusnya kamu pinta ijinnya?" hardik Salman.
"Tapi jika aku bicara dulu sama kamu, yang ada nanti kamu bakalan melarang aku. Aku mengambil keputusan aku ini hanya untuk beberapa bulan ke depan, Mas," lanjut Anna.
"Aku kecewa sama kamu," tegas Salman seraya beranjak dari kasur dan keluar dari kamar.
"Ih kok malah marah. Aku, kan gak salah," gumam Anna yang ikut menyusul suaminya.
"Kenapa jadi marah sama aku, Mas? Aku melakukan ini demi kebaikan kita juga. Aku tidak ingin punya anak dulu makanya aku mengambil keputusan ini," ucap Anna seraya menghampiri Salman.
"Kalau belum siap untuk punya anak lalu kenapa mau menikah? Kamu tahu, kan orang menikah karena ingin mempunyai keturunan," sahut Salman.
"Oh ... jadi alasan kamu menikahi aku karena itu, Mas. Aku pikir karena kamu cinta sama aku dan kamu mau mengerti sama aku," sahut Anna yang justru entah kenapa malah kecewa mendengar jawaban Salman.
"Jika ku tidak cinta ngapain aku nikahin kamu. Tapi selain cinta tentunya tujuan orang menikah karena ingin punya keturunan," lanjut Salman menjelaskan.
"Lalu jika aku tidak bisa memberikan kamu anak, kamu mau apa? Mau nikah lagi dengan perempuan yang bisa memberikan kamu anak? Seperti itu?" teriak Anna.
"Jaga bicara kamu, Zeanna!" tegas Salman.
"Aku pikir aku menikah dengan laki-laki yang mengerti pada perempuan, tapi ternyata kamu sama seperti laki-laki lain yang hanya akan menuntut istrinya untuk mengandung anak dan jika istrinya tidak bisa memberikan anak maka akan pergi dengan menikah lagi dengan perempuan lain," cibir Anna.
"Aku tidak seperti itu, Zea!" tegas Salman.
"Buktinya kamu menuntut aku untuk hamil ketika aku hanya ingin menundanya beberapa bulan saja," tegas Anna dengan berteriak.
Salman terhenyak melihat Anna yang marah. Bayangan ketika dulu Anna marah di saat mengetahui dirinya sudah menikah pun terulang lagi. Salman seperti melihat Anna di masa lalu yang marah karena kecewa pada dirinya.
Sadar akan kesalahannya, Salman buru-buru menarik napasnya panjang kemudian menghampiri Anna.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Salman tapi Anna langsung mendorong Salman yang hendak memeluknya.
__ADS_1