Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Ketemu Lagi


__ADS_3

"Cerita sama Abang, Dek ... kamu lagi di deketin cowok?" selidik Fais ketika melihat adiknya yang jadi salah tingkah.


"Aku sih gak tahu, Bang ... aku gak berani bilang seperti itu, takutnya aku dikatain geer," sahut Anna menjelaskan.


"Loh kok gitu? Kamu gak mungkin tiba-tiba merasa ada cowok yang berusaha mendekati kamu sedangkan kamu gak merasakan apa-apa atau gak pernah mendapatkan perhatian apa-apa dari cowok itu," jelas Fais menegaskan.


"Aku sih merasa jika perhatian dia itu berbeda dari yang lainnya, Bang. Dia begitu perhatian sama aku, bahkan aku udah beberapa kali nonton bareng sama dia. Makan bareng bahkan kadang nongkrong juga," jelas Anna.


"Kalau dia gak punya perasaan apa-apa gak mungkin ngajakin kamu nonton, Abang yakin di suka sama kamu," jawab Fais.


"Tapi aku gak yakin, Bang, soalnya dia gak pernah bahas apa-apa." Anna tersenyum getir.


"Apa aku termasuk wanita yang kegeeran?" tanya Anna ingin mengetahui sudut pandang kakaknya tentang apa yang sedang Anna rasakan.


"Enggak ... apa yang kamu rasakan memang sudah sewajarnya, Dek. Mungkin laki-laki itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya. Sabar aja." Fais tersenyum seraya mengusap kepala adik kesayangannya itu.


"Jangan bilang sama Mami," ucap Anna mengingatkan.


"Iya," jawab Fais cepat.


Sore harinya Anna ijin untuk pergi ke minimarket. Dia ingin membeli cemilan karena diam di rumah sungguh membuat dia bosan.


Anna yang fokus memilih makanan tidak menyadari jika tubuhnya menabrak seseorang.


"Awww ...." Anna memegang keningnya yang terbentur ke dada seorang.


"Zea," ucap Salman dengan wajah senangnya, karena bisa bertemu dengan wanita yang dia rindukan.


"Pak Salman," sahut Anna sambil melepaskan tangannya dari kening.


"Kamu gak apa-apa, kan?" Salman mengusap kening Anna yang tadi terbentur ke dadanya.


"Hehe ... enggak," jawab Anna dengan perasaan yang sulit dia ungkapkan.


"Ternyata Abang kamu tinggal di daerah sini?" ucap Salman kemudian.


"Iya, Bapak?" sahut Anna dengan melempar pertanyaan lagi pada Salman.


"Orang tua Saya tinggal di sini juga," jelas Salman yang langsung ditanggapi senyuman oleh Anna.

__ADS_1


"Sama siapa kamu?" tanya Salman kemudian.


"Sendiri," jawab Anna.


"Silakan lanjutkan ... biar cepat pulang. Aku antar, ya," ucap Salman yang begitu berani mengajak Anna untuk pulang bareng.


"Hehe ... duluan aja, Pak ... aku masih belum mau pulang," tolak Anna halus. Sebenarnya Anna ingin sekali pulang diantarkan oleh Salman, tapi dia masih belum punya keberanian untuk itu.


"Mau kemana lagi? Emang kamu tahu wilayah sini?" Salman tiba-tiba saja tidak suka jika Anna keluyuran sendiri.


"Aku bosan di rumah ... rencananya aku mau ngabisin jajanan aku di taman sambil lihat lingkungan di sini," jelas Anna.


"Lain kali saja, sekarang selesaikan belanjaannya dan saya akan mengantarkan kamu pulang," tegas Salman yang begitu berani melarang Anna untuk pergi sendiri.


Anna tanpa sadar mengikuti instruksi yang Salman katakan, dia buru-buru belanja dan membawa belanjaan ke kasir.


Jangan dilupakan, Salman berdiri menunggu Anna di kasir dan ketika petugas kasir menyebutkan nominal belanjaan Anna, Salman langsung mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar apa yang Anna beli.


"Bapak ...." Belum sempat Anna menuntaskan ucapannya, Salman sudah lebih dulu menyelanya.


"Jangan protes," sela Salman.


"Rumah Abang kamu di mana?" tanya Salman ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil.


Anna langsung menyebutkan nama daerah tempat kakek dan neneknya tinggal.


"Saya gak nyangka kalau kita bakalan ketemu di sini. Tahu kamu liburan di sini saya bakalan pulang bareng sama kamu," ucap Salman seraya mengemudikan mobilnya.


"Emang, Bapak kapan datang?" sahut Anna.


"Baru tadi siang," jawab Salman yang mencoba untuk tersenyum padahal hatinya sedang bingung untuk menghadapi malam ini.


Ya, Salman yang masih merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan pada istrinya, dia memilih untuk pergi keluar setelah dia mandi.


Salman berusaha untuk menghindar selagi masih bisa, dan ternyata hatinya yang bingung malah makin bingung lagi ketika bertemu dengan Anna di kota kelahirannya.


"Aku tidak boleh gegabah untuk bertindak, bisa-bisa Vania tahu," batin Salman.


Jarak dari minimarket ke komplek kediaman kakek dan neneknya Anna tidak jauh, sehingga hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk bisa sampai di tempat yang Anna maksud.

__ADS_1


"Masuk dulu, Pak," ajak Anna ketika mereka sudah sampai.


"Lain waktu saja ... kamu masih lama, kan tinggal di sini?" sahut Salman.


Anna mengangguk dan meraih tangan Salman untuk mencium punggung tangan Salman.


"Terima kasih untuk semuanya, Pak. Maaf jadi merepotkan," pungkas Anna sambil tersenyum.


"Nanti malam aku chat kamu, ya," ucap Salman ketika Anna yang hendak menutup pintu mobilnya.


Anna tersenyum seraya mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah.


Ini adalah pengalaman pertama Salman mengantarkan Anna sampai di depan rumah. Biasanya Salman akan mengantar Anna dengan jarak yang cukup jauh dari kediaman Anna, tapi entah sadar atau tidak justru hari ini Salman malah mengantarkan Anna sampai ke depan rumah.


Fais yang memang sedang tidak di rumah, dia tidak tahu jika laki-laki yang Anna ceritakan sudah mengantarkan adiknya itu sampai di depan rumah.


Sementara itu selepas mengantarkan Anna, Salman pun pulang ke rumahnya. Tubuhnya lelah dan butuh untuk istirahat. Salman memilih untuk menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ketimbang di kamarnya.


"Kamu dari mana?" ucap Vania ketika melihat suaminya yang saat ini tengah memejamkan matanya.


"Dari luar cari angin," sahut Salman dengan mata yang masih terpejam.


"Kalau mau istirahat di kamar aja, kalau di sini gak bakalan nyaman," ajak Vania seraya menarik tangan Salman.


Sentuhan Vania sungguh berbeda dengan Anna. Ketika tangan Vania menyentuh tangannya, Salman tidak merasakan apa-apa, tapi berbeda ketika disentuh oleh Anna, Salman langsung merasakan jika tubuhnya tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.


Salman pun memilih untuk mengalah. Dia bergerak melangkah kakinya untuk masuk ke dalam kamar, dan ketika sampai di kamar, Vania langsung memeluk Salman sebagai tanda jika dia begitu merindukan suaminya itu.


Vania memang mencintai Salman, tapi tidak dengan Salman, hatinya sudah terkunci untuk Zeanna.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Salman yang masih belum siap untuk melakukan hubungan suami istri dengan Vania.


"Vani ... aku lelah, aku ingin istirahat," ucap Salman menolak sentuhan Vania yang Salman yakini jika Vania menginginkan Salman untuk membalasnya.


"Aku benar-benar lelah, kamu gak keberatan, kan aku istirahat?" sambung Salman ketika Vania yang tidak melepaskan pelukannya.


"Ya, udah istirahat aja dulu ... aku akan menunggu," sahut Vania dengan tersenyum.


"Setidaknya untuk malam ini aku masih aman, besok akan aku pikirkan lagi cara lainnya," batin Salman.

__ADS_1


__ADS_2