
"Aku gak dibolehin Mami buat pacaran, aku belum 17 tahun," sahut Anna polos.
"Tapi kamu cinta, kan sama aku?" sambung Adit cepat.
"Iya," jawab Anna pendek sambil memainkan jari-jarinya karena masih gugup ditembak langsung oleh laki-laki yang dia sukai.
"Kalau gitu mulai hari ini kita jadian. Aku dan kamu sekarang pacaran." Adit tersenyum bahagia.
"Eh kok gitu, aku, kan udah bilang ... Mami aku gak ngasih ijin aku buat pacaran sekarang. Kalau ketahuan Mami pasti aku kena semprot dan bakalan di kasih ceramah tiap hari."
Anna memanyunkan bibirnya ketika mengingat ancaman Maminya yang terus-terusan terngiang-ngiang di kepalanya.
"Gak usah takut, kita backstreet aja," tawar Adit memberikan solusi.
Anna menatap lekat laki-laki yang ada di hadapannya. Senyumnya terukir manakala Adit mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Anna sebagai tanda mereka jadian hari ini. Dengan senang hati Anna pun menjabat tangan Adit yang seketika langsung terhenti ketika pesanan mereka datang.
"Anggap saja ini perayaan jadian kita," ucap Adit seraya memberikan cokelat yang dikasih hiasan pita dengan begitu cantik.
"Makasih." Anna menerima cokelat dengan senyum renyahnya.
***
Malam hari selepas makan malam, Anna langsung buru-buru ijin masuk ke kamarnya, sebab tadi sore sudah janjian sama Adit untuk chating-an.
"Tumben buru-buru masuk kamar, biasanya juga suka manja-manjaan sama Papi," tanya Alex seraya menyimpan gelas bekasnya minum.
"Aku lagi banyak tugas, Pi. Aku duluan, ya," Anna langsung melesat pergi naik ke atas menuju kamarnya.
Anna mengunci pintu kamarnya, sebab dia tidak ingin ketahuan jika nanti pas asyik-asyiknya chating sama Adit, Mami atau Papinya masuk ke kamar.
Anna berlari mengambil ponsel di atas meja belajarnya. Dia langsung tersenyum ketika ada satu pesan masuk dari Adit.
__ADS_1
Anna membaca pesan Adit sambil rebahan di atas tempat tidur, dia senyam-senyum sendiri ketika membaca dan membalas pesan dari kekasih yang baru saja jadian beberapa jam yang lalu.
[Baru juga pisah 4 jam, aku udah kangen sama kamu.]
Sebaris pesan yang dikirim Adit mampu membuat Anna baper setengah mati.
[Lagi mau ngegombalin aku, ya.]
Balas Anna cepat, sebab pesan Adit sudah masuk sekitar 15 menit yang lalu.
[Kamu dari mana? Kok lama jawab pesan akunya.]
Anna langsung saja mengetik kembali balasan untuk Adit, tetapi Adit justru malah balik menghubunginya.
"Dari mana?" tanya Adit di sebrang telepon.
"Aku baru selesai makan malam, maaf ponsel akunya di kamar jadi aku gak tahu kalau kamu udah nge-chat aku," jelas Anna.
Mereka berbincang-bincang dengan begitu hangat, hingga mereka tidak menyadari jika sekarang sudah hampir jam 12 malam.
Anna yang memang sedang merasa kasmaran, sesaat setelah panggilannya dengan Adit terputus, dia malah membuka aplikasi sosial media punya Adit, dia stalking media sosial Adit hingga tanpa sadar justru malah tidak bisa tidur karena terus-terusan menatap foto Adit.
Anna menguap beberapa kali dan dia baru merasakan jika matanya sepet dan ingin di istirahatkan. Perlahan matanya terpejam hingga akhirnya dia mendengar suara teriakan sang Mami dan ketukan pintu dari luar.
Anna mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menguap. Dia turun dari tempat tidurnya kemudian membuka pintu kamarnya.
"Kamu jam segini baru bangun? Memangnya enggak sekolah?" pekik Raina kesal karena anak gadisnya baru bangun tidur saat jam hampir menunjukkan pukul 6 pagi.
"Sekolah, Mi ... Emang ini jam berapa?" sahut Anna santai karena belum sadar jika hari sudah hampir siang.
"Lihat saja sendiri," hardik Raina sambil berlalu meninggalkan Anna yang sekarang sedang menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
Anna menggeliat sambil melihat ke arah jam yang menempel di dinding kamarnya. Matanya langsung membulat penuh ketika melihat arah jarum jam sudah tidak bisa diajak kompromi.
"Mami ... kenapa gak bangunin aku dari tadi," teriak Anna sambil lari terbirit-birit menuju kamar mandi.
"Habis kau, Anna ... jika Mami tahu kamu kesiangan gara-gara chating-an sama pacar, bisa-bisa kamu dikurung di rumah," umpat Anna.
Anna mandi dengan terburu-buru, dia bahkan meminta sang Papi untuk mengantarkannya ke sekolah, sebab jika naik motor dia tidak akan sempat berdandan ataupun menyisir rambut.
"Pi ... anterin aku, ya, please," ucap Anna dengan penampilan yang hanya baru menggunakan seragam saja, tanpa alas kaki dan tanpa menyisir rambut.
"Kamu tuh gak bisa apa kalau tidur pasang alarm biar gak bangun kesiangan. Masa anak gadis bangunnya siang," sahut Alex yang saat itu sedang tidak berencana untuk ke sekolah.
"Ceramahnya simpan saja buat nanti sore. Cepetan aku gak mau kesiangan." Anna menarik tangan sang Papi agar segera bangun dari duduknya.
"Semalam kamu habis ngapain, biasanya juga gak bangun telat kayak gini. Awas, ya kalau ketahuan kamu begadang ... Mami gak akan segan-segan buat ngambil ponsel kamu." Bukannya langsung beranjak, justru Alex malah menarik Raina yang saat itu akan marah sama putri bungsunya.
"Dilanjutin nanti sore, ya, Mami Sayang ... kasihan Anna udah kesiangan." Alex mencoba untuk melerai Raina yang saat itu tengah mengerahkan emosinya pada Anna.
"Iya, Mami ... aku sekolah dulu, ya. Nanti sore aku pasti bakalan mendengarkan ceramah Mami sama Papi. Oke." Anna membulatkan jari tangannya sebagai tanda oke sambil memasang wajah memelas supaya Maminya tidak terus-terusan bertanya.
Anna menarik tangan Alex supaya cepat-cepat mengantarkannya ke sekolah. Dia langsung masuk ke mobil kemudian mengambil pelembab wajah untuk dioleskan ke wajahnya.
Alex hanya tersenyum tidak percaya jika kelakuan Anna sungguh sangat mirip Raina. Alex melihat Raina muda di diri Anna yang sekarang sedang sibuk menyisir rambut dan memasang sepatu di dalam mobil, karena tadi belum sempat memasang sepatu di rumah.
"Semalam kamu teleponan sama siapa?" selidik Alex.
Sebenarnya saat malam, Alex hendak menemui Anna yang tidak keluar-keluar lagi setelah makan malam, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara Anna yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon dan Alex tidak tahu siapa.
Anna langsung kaget ketika Papinya bertanya masalah semalam. Dia berpikir jika tidak akan ada orang yang mendengar percakapannya sebab semalam dia bicara pelan-pelan.
"Kok Papi tahu aku lagi teleponan, nguping, ya?" Bukannya menjawab, Anna malah membalikkan keadaan.
__ADS_1
"Semalam Papi denger dari balik pintu kamar kamu. Ayo cerita sama Papi ... kamu teleponan sama siapa? Tenang ... Papi gak bakalan bilang-bilang sama Mami, kok," bujuk Alex berharap putri bungsunya akan terbuka tentang semua hal.
Alex memang berbeda dengan Raina. Alex terkesan selalu mendukung dan terbuka, sedangkan Raina terkesan over protective bahkan bisa dibilang terlalu posesif.