
Anna menatap ayahnya dengan tatapan malu-malu, dia langsung nyengir ketika ayahnya mencoba menerka-nerka apa yang sedang dipikirkannya.
"Kamu enggak lagi pacaran, kan?" tanya Alex to the point.
"Emang boleh jika aku pacaran?" Seakan ingin mencari tahu reaksi sang ayah, Anna akan mencoba untuk menutupi dulu hubungannya dengan Adit.
"Papi sih oke-oke aja, asal tidak mengganggu belajar kamu. No problem," sahut Alex dengan wajah meyakinkan.
"Papi ... aku sayang sama Papi. Makasih, ya." Anna mengguncang-guncangkan lengan sang ayah yang sedang fokus menyetir.
"Jadi, bener nih kamu udah punya pacar?" tanya Alex penuh selidik ingin menyakinkan praduganya.
Anna mengangguk cepat sambil menutup wajahnya. Sungguh menggemaskan melihat Anna yang tidak jauh seperti tingkah Raina saat masih seusia Anna.
"Dulu Mamimu pacaran saat kelas XI, sama seperti kamu. Bedanya ... Mamimu pacaran langsung sama Papi yang tidak pernah mengobral janji dan Papi langsung mengajak serius, sedangkan kamu ... beda, hati-hati bila berhadapan dengan lawan jenis, sekalipun itu pacar ... tetap bukan suami." Alex mencoba memberi pengertian agar putri bungsunya menjalani kisah kasihnya secara normal.
"Iya, aku tahu ... aku bisa jaga diri, kok. Lagian aku baru juga kemaren jadiannya," sahut Anna sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha ... anak Papi ternyata lagi kasmaran, pantas saja sampai bangun kesiangan ... awas loh kalau keseringan telepon malam-malam, kejadian pagi ini tidak mustahil akan terulang lagi. Jika Mami tahu ... siap-siap saja, soalnya Papi gak mungkin cerita jika Papi tahu kalau kamu sudah punya pacar," jelas Alex.
"Oke." Anna menarik napasnya panjang.
Setelah sampai di sekolah, Anna bergegas turun dari mobil, dia berlari terbirit-birit karena dia tiba di sekolah saat berbarengan dengan bel masuk berbunyi.
Adit melihat dari kejauhan jika sang pujaan hati sedang berlari karena kesiangan, senyumnya merekah ketika dengan sengaja dia mengambil video Anna yang berlari seperti di kejar-kejar orang gila.
"Huh ... selamat," gumam Anna sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Anna ... gak biasanya kesiangan," ucap Anita yang mencoba memberikan air mineral.
Anna langsung mengambilnya dan meneguknya hampir habis.
__ADS_1
"Lo kesambet apa, Na?" Amara ikut menimpali.
"Gue bangun kesiangan, dan untung Papi gue gak pergi kerja, jadi bisa nganterin ke sekolah, kalau gak ada Papi, gue gak tahu bakalan nyampe jam berapa, secara tadi gue pakai sepatu aja di mobil," jelas Anna panjang lebar.
Obrolan tiga serangkai terhenti ketika ada guru pelajaran yang akan mengajar di kelas mereka masuk.
Dua jam pelajaran dilalui Anna dengan lancar, dan sekarang bersambung ke jam berikutnya.
"Anak-anak hari ini di karenakan ada rapat internal sekolah, maka setelah pelajaran ini selesai kalian boleh pulang," ucap Bu Rita yang mengampu pelajaran Sejarah.
Sorak sorai suara semua murid yang ada di kelas XI IPA menggema, karena saking senangnya bisa pulang cepat.
"Na ... jalan, yuk!" ajak Anita dan Amara.
"Kayaknya gue gak bisa, gue masih melanjutkan tidur. Semalam gue kurang tidur," sahut Anna sambil menutup mulutnya karena menguap.
Anita dan Amara pun tidak bisa memaksa, setelah selesai jam pelajaran sejarah, Anna dan teman-temannya membubarkan diri untuk pulang. Anna sengaja tidak janjian sama Adit, sebab dia benar-benar ingin menuntaskan tidurnya.
***
"Kok udah pulang?" tanya Raina penuh selidik pada putri manjanya.
"Ada rapat, Mi," sahut Anna sambil berjalan ke arah ruang makan.
"Mami ... aku pengin makan." Anna menarik kursi untuknya.
"Untung saja Mami udah masak, ternyata feeling Mami bagus, ya jika kamu pulang dan bakalan langsung minta makan," jelas Raina sambil menemani Anna makan.
Selesai makan, Anna langsung naik ke atas dan melempar tas sekolahnya, tanpa mengganti seragam terlebih dahulu, Anna langsung tidur karena memang masih kantuk.
Sore hari Anna membuka lemari persediaan cemilannya. Di saat ingin ngemil ternyata persediaannya sudah hampir habis. Anna buru-buru mengambil kunci motornya dan bergegas turun ke bawah.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya sang Mami.
"Aku mau beli jajanan, Mi. Mau nitip?" tanya Anna.
"Enggak, hati-hati. Jangan terlalu sore pulangnya," sambung Raina sambil melanjutkan kembali menonton acara televisi.
Anna mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Dia mengendarai sepeda motor dan berhenti di pemberhentian lampu lalu lintas saat lampu berwarna merah.
Kaki Anna menyentuh aspal jalan, karena ingin membenarkan posisi duduknya saat nanti melajukan kembali sepeda motornya. Namun, tiba-tiba Anna di tabrak dari belakang oleh pengendara mobil yang persis berada di belakang motornya.
"Awwww." Anna mencoba menahan sepeda motornya, tetapi dia keburu jatuh. Dengan perasaan kaget Anna langsung menepikan sepeda motornya dan menghampiri mobil serta meminta sang pengemudi mobil untuk turun.
"Woi ... turun," teriak Anna sambil mengetuk kaca mobil.
Sang pengemudi pun langsung turun dan menghampiri Anna sambil mengecek keadaan Anna.
“Maaf, Dek, Adek tidak apa-apa? Apa ada yang luka? Tadi saya lagi nelpon jadi gak keburu nginjak rem. Apa ada yang luka? Biar saya antar ke rumah sakit,” ucap sang pengemudi mobil yang ternyata kalau Anna lihat usianya sekitar 23 atau 24 tahun.
“Apa? Sedang menelpon?" Anna mengulang kalimat yang diucapkan orang yang menabraknya tadi.
"Bang … harusnya Anda lebih bisa berhati-hati saat mengemudikan mobil, Anda pasti sudah punya SIM sejak lama, tapi saya rasa Anda memiliki SIM-nya nembak, karena tidak tahu tata tertib saat mengemudi, buktinya teleponan saat mengemudi. Untung saja saya gak apa-apa, coba kalau saya terluka udah jelas pasti akan saya aduin sama Papi saya,” sahut Anna dengan sedikit mengejek sang pengemudi mobil.
“Kok bicaranya kemana-mana, ya? Adek … saya kasih tahu, ya … yang pertama, saya punya SIM karena memang layak mendapatkannya, dan kedua, saya bukan sengaja teleponan, tapi ini sedang dalam keadaan darurat. Jadi, saya harap adek maklum, ya," jelas si pengemudi dengan lugas.
"Tetap saja itu tidak dibenarkan. Kalau Papi saya polisi ... udah saya minta untuk ditilang," ketus Anna sambil mengusap-usap bagian sikutnya yang tadi terkena aspal.
"Simpan nomor telepon saya ... jika ada keluhan nanti bisa menghubungi saya langsung dan sekarang mohon maaf saya harus segera pergi. Sekali lagi maaf, ya,” pungkas sang pengemudi mobil sambil menyerahkan kartu nama pada Anna dan langsung pamit melanjutkan perjalanannya.
Anna hanya melongo ketika melihat orang yang barusan menabraknya langsung pergi saat dia membaca nama di kartu namanya.
“Hei … urusan kita belum selesai,” teriak Anna saat sang pengemudi mobil melajukan kembali mobilnya.
__ADS_1
"Awas saja kalau ketemu lagi, gak bakalan aku kasih ampun," gerutu Anna.
Anna membaca kembali kartu nama yang di berikan oleh sang pengemudi yang ternyata bernama Salman Al Kahfi.