
Anna memeluk kertas surat yang dikirim oleh Salman padanya. Dia menangis dan meraih kalung dengan liontin yang begitu indah.
"Bahkan aku tidak bisa mendengar kamu mengucapkan ulang tahun yang pertama kalinya untukku," gumam Anna sambil menangis.
"Maafkan aku, Pak ... maafkan aku," gumam Anna lagi.
"Aku begitu egois ... karena ketakutan aku untuk menjadi orang ketiga justru malah membuat hati ini sakit, aku tidak menyangka jika kehilangan akan sesakit ini." Anna menangis dengan tersedu-sedu.
Anna yang menyadari semua ini tidak harus terjadi, dia buru-buru menyimpan kalung yang diberikan Salman. Untuk saat ini dia tidak akan mungkin memakainya karena akan menimbulkan pertanyaan dari kedua orang tuanya.
"Aku akan selalu menyimpannya," batin Anna seraya menyembunyikan perhiasan yang diberikan Salman dalam kotak miliknya yang selalu dia kunci.
Anna buru-buru membersihkan wajahnya. Tidak mungkin dia menunjukkan wajah sedihnya nanti pada kedua orang tuanya.
***
6 bulan kemudian.
Hari ini Anna akan menjalani ujian nasionalnya. Setelah Salman pergi, Anna sama sekali tidak pernah lagi main atau nongkrong dengan sahabat-sahabatnya. Dia fokus belajar karena ingin masuk ke universitas kedokteran ternama.
Ujian nasional berjalan lancar, tidak ada kesulitan berarti yang Anna alami, dan hari ini untuk pertama kalinya setelah 6 bulan Anna menginjakkan lagi kakinya di taman tempat dia janjian dengan Salman dulu.
Anna duduk seorang diri. Dia kembali memutar ingatannya tentang semua yang sudah dia lewati bersama Salman. Selama enam bulan ini Anna tidak pernah melupakan Salman barang satu detik pun. Dia merindukan laki-lakinya yang mampu mengerti akan dirinya dan juga menyayanginya dengan begitu tulus.
"Pak Salman ... apa kabar? Aku lagi di taman menunggumu," batin Anna sambil memegang kalung pemberian Salman.
Ya, sehabis pulang ujian, Anna sengaja memasang kalung Salman untuk jalan-jalan ke taman dengan anggapan jika saat ini dia tengah jalan dengan si pemberi kalung itu.
"Kamu tahu ... di sini aku sangat merindukanmu," gumam Anna pelan.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Salman yang saat ini tegah duduk santai di balkon kamarnya merasakan jantungnya berdegup kencang. Ingatannya kembali pada Anna yang masih saja belum bisa dia lupakan.
"Zeanna ... aku harap kamu akan selalu baik-baik saja," batin Salman.
***
Waktu bergulir dengan begitu cepat. Anna lulus dari sekolah menengah atasnya dengan nilai sempurna dan satu kabar baik lagi Anna diterima di universitas kedokteran di kota Y, sangat jauh dari kota kelahiran Anna dan juga kota kelahiran Salman.
"Mami ... gimana?" tanya Anna meyakinkan kembali pada orang tuanya, sebab maminya masih belum memberikan ijin 100 persen pada Anna untuk kuliah di luar kota.
Bukan tanpa sebab. Sejak 6 bulan tidak ada kabar dari Salman, Anna memutuskan untuk tidak menunggunya lagi. Dia berharap kelak akan ada laki-laki lain yang bisa dia cintai seperti ketika dia mencintai Salman.
Anna mengambil kuliah di luar kota supaya tidak harus selalu bolak balik ke rumah. Anna ingin memakai kalung pemberian dari Salman sebagai cara untuk mengingatkan dia jika dia pernah mencintai dan dicintai.
"Mami ... gimana?" ulang Anna lagi.
"Mami sebenarnya berat, Na ... tapi demi cita-cita kamu ... Mami akan mengijinkan kamu, jangan pernah macam-macam ketika jauh dari kami, Na," sahut Raina.
"Kalau gitu aku harus registrasi minggu depan, Mi. Sekalian kita cari tempat kos buat aku," ucap Anna lagi.
"Iya, kita harus segera nyari tempat kos Anna, Mi ... jika tidak sekarang nanti keteteran," ucap Alex menyahuti.
"Iya, lusa saja kita ke sana sambil kita lihat-lihat kampus kamu nantinya," pungkas Raina.
Waktu pun berlalu dengan begitu cepat, Anna sekarang sudah berada di kota Y, di mana nantinya dia akan tinggal dan menimba ilmu. Anna ditemani oleh kedua orang tuanya dan ternyata tidak sulit untuk mendapatkan kamar kos karena memang kebanyakan yang kuliah di universitas ini adalah para pendatang.
"Ini tempatnya bagus, Pi. Aman lagi karena tempat kosnya hanya untuk putri," ucap Raina menyetujui kamar kos untuk Anna.
"Menurut kamu gimana, Na?" tanya Alex.
__ADS_1
"Oke, aku mau ambil yang ini saja," sahut Anna antusias.
Kesepakatan telah diambil, dan Anna sangat bersyukur sekali karena orang tuanya memberikan dia fasilitas kos yang begitu sangat layak untuknya.
Waktu yang dinantikan pun akhirnya tiba. Hari ini Anna sedang berkemas untuk pindah ke kamar kosnya. Dia tidak lupa membawa kalung pemberian Salman dan itu dia sembunyikan dalam tasnya.
"Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Raina dan juga Alex.
"Udah," jawab Anna dengan berusaha untuk tersenyum.
"Kita tunggu di bawah, ya," ucap Raina kemudian dan Anna mengangguk.
Anna mengedarkan pandangannya ke seluruh juru kamarnya. Tempat nyaman ini akan dia tinggalkan untuk waktu yang begitu lama, 5 tahun itu pun kalau magangnya nanti lancar. Anna kembali mengingat ketika dia berguling ke kiri dan ke kanan saat menelpon Salman, dan dia juga mengingat ketika dia menangis terus-terusan mengingat Salman yang pergi dari hidupnya atas instruksi dirinya.
Anna buru-buru menyeka air matanya yang lolos di pipi indahnya. Dia keluar dari kamar dengan meniatkan untuk memulai kehidupan barunya di kota Y.
Saat melintasi halte tempat Salman menunggu, sekelebat bayangan Salman yang menunggunya di halte muncul, dan Anna terperanjat menoleh ke arah belakang ternyata apa yang dia lihat hanya halusinasinya saja, sebab di halte tidak ada mobil yang terparkir.
"Aku akan mengubur semua kenangan bersamamu di sini. Aku akan meninggalkannya di sini," batin Anna dengan mantap.
Setibanya di kota Y, Raina dan Alex terus-terusan memberikan petuah-petuahnya pada Anna. Mereka tidak ingin jika Anna terjerumus pada hal-hal yang tidak di harapkan.
"Aku akan tetap jadi Anna seperti yang Mami dan Papi inginkan. Jagan khawatir ... niat aku sangat baik, Mi ... Pi ... aku ingin mengobati orang-orang di sekitarku, hingga aku harus fokus untuk belajar di sini," jawab Anna antusias.
"Mami pasti akan merindukan kamu, Sayang." Raina memeluk Anna.
"Jangan kayak gini, Mi ... nanti aku malah kepikiran Mami terus," sahut Anna sambil menyeka air mata ibunya itu.
"Anna benar, Mi ... toh Anna bisa pulang kapan pun dan kita juga bisa berkunjung kapan pun kita ingin," ucap Alex menambahkan.
__ADS_1
"Bener yang Papi bilang, Mi. Mami bisa ke sini kapan pun Mami mau ... Anggap saja aku ngasih waktu buat Mami sama Papi untuk pacaran, kali aja nanti aku di kasih ade," goda Anna.
"Tidak! Mami udah tua gak mau punya bayi lagi," sahut Raina yang langsung disambut gelak tawa oleh Alex dan juga Anna.