Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Mata Laki-laki Lebih Tajam dari Pisau


__ADS_3

"Pagi-pagi udah bikin BT," gumam Anna seraya berbalik badan meninggalkan Adit.


"Kamu sekarang jadi beda, Na," batin Adit ketika melihat wanita yang masih dia cintai pergi begitu saja setelah mengatakan hal-hal yang menohok ke hatinya.


Dari kejauhan, Salman tersenyum menang ketika melihat Adit yang menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Rasanya ingin sekali menulis pesan untuk Anna, tapi niat itu Salman urungkan karena di sudah berjanji tidak akan mengganggu Anna selama ujian.


Entah karena sengaja atau memang kebetulan, hari pertama UAS Salman jadi pengawas di ruangan Anna. Salman tersenyum dalam hatinya karena ternyata dewi fortuna sedang berpihak padanya.


"Aku bisa melihatnya dengan lebih seksama lagi karena semua orang tidak akan memperhatikan aku. Mereka akan fokus mengerjakan soal dan aku fokus menatap Zeanna," batin Salman seraya membagikan lembar soal dan jawaban pada setiap peserta ujian.


Anna terlihat mengerutkan keningnya ketika melihat lembar soal, tetapi kerutan itu seketika memudar berganti dengan senyuman yang manis.


90 menit lamanya Salman duduk memperhatikan Anna. Getaran hatinya semakin kuat dan Salman memang sudah bertekad untuk terus mendekati Anna dan memposisikan diri sebagai seseorang yang spesial meskipun pada kenyataannya dia tidak berani mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada Anna.


***


Empat hari telah berlalu, sekarang adalah UAS terakhir dan Anna begitu merasa senang karena setelah ini dia bebas melakukan apa saja tanpa harus mendengarkan teriakan maminya yang mengingatkan dirinya untuk belajar.


"Anna, pulang sekolah nge-mall yuk!" ajak Anita dan Amara.


"Oke, tapi pulang ke rumah dulu, ya biar gak pakai seragam," sahut Anna antuasias.


"Oke."


Mereka berpisah karena ruangan ujian mereka berbeda, saat hendak masuk ke kelas lagi-lagi Anna ditahan oleh Adit.


"Na, nanti jalan yuk," ajak Adit yang tanpa dia sadari jika Anna pasti akan menolaknya lagi.


"Aku udah punya janji sama Anita dan Amara," sahut Anna jujur.


"Aku boleh gabung sama kalian, gak? Ada film bagus dan aku ingin mengajak kamu," jelas Adit membujuk Anna.


"Adit, hari senin kemarin aku udah bilang ... yang namanya mantan tetap saja mantan, aku gak mungkin jalan sama kamu ... aku tahu kamu masih ingin bersahabat, tapi aku tidak bisa!" tegas Anna.

__ADS_1


"Apa karena Pak Salman?" selidik Adit.


"Pak Salman? Maksud kamu apa? Apa hubungannya dengan Pak Salman," tanya Anna tidak mengerti.


"Ck ... kamu jangan pura-pura bodoh, Na. Aku tahu kalian itu dekat dan mungkin saja sedang pendekatan," jelas Adit yang langsung ditanggapi gelak tawa oleh Anna.


"Kami tuh aneh-aneh aja, Dit," pungkas Anna seraya buru-buru masuk karena pengawas di ruangannya sudah akan masuk.


Anna masuk ke dalam kelas. Ucapan Adit barusan terngiang-ngiang di telinganya dan Anna tiba-tiba saja jadi kepikiran tentang apa yang mungkin dia rasakan pada gurunya itu.


"Apa mungkin dugaan Adit benar? Tapi aku yakin jika Pak Salman ...." Anna menggantungkan pikirannya karena pengawas sudah masuk.


"Jalani apa adanya saja," batin Anna seraya mengambil lembar soal dan jawabannya.


Bel jam pelajaran terakhir sudah berdering. Semua murid mengumpulkan hasil pengerjaan soalnya dan segera berhambur keluar.


Suara riuh sangat terasa ketika banyak murid yang menyamakan jawaban mereka dan mereka berteriak ketika jawaban yang mereka tulis tidak sama dengan temannya.


"Mami ... aku mau nge-mall sama Anita dan Amara, boleh, kan?" ucap Anna saat meminta ijin pada ibunya.


"Jangan terlalu malam pulangnya, sebelum jam 8 kamu sudah harus pulang," tegas Raina yang tahu kebiasaan putrinya jika keluar dengan sahabat-sahabatnya pasti akan makan dan keliling mall sehingga waktu larut.


"Oke," sahut Anna seraya berlari menaiki anak tangga untuk segera masuk ke kamar.


Anna mengganti pakaiannya dan dengan secepat kilat Anna sudah berganti pakaian.


"Makan siang dulu?" tawar Raina.


"Suapin." Anna membuka mulutnya karena memang sekarang maminya sedang makan siang.


Raina hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan putri bungsunya. Melihat Anna yang manja seperti itu dia jadi ingat ketika bermanja-manjaan pada Alex, dulu ketika orang tua Raina berada di luar kota, pasti Alex yang selalu menyuapinya dan memanjakan dirinya.


"Mami kenapa senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu?" tanya Anna iseng.

__ADS_1


"Syirik aja kalau lihat Mami senang," sahut Raina seraya mencubit pipi Anna.


"Udah, ah ... kalau kekenyangan nanti aku gak bisa makan bareng Anita dan Amara." Anna mengambil gelas air minum dan meneguknya sampai tandas.


"Ingat jangan terlalu malam," ucap Raina mengingatkan kembali.


"Iya," sahut Anna cepat seraya mencium pipi ibunya itu.


Benar saja ketika Anna keluar, Ada Anita dan juga Amara yang sudah tiba di depan rumahnya. Mereka langsung pergi setelah semuanya siap.


Di tengah perjalanan, mereka bertiga berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Dari seberang jalan sana Salman yang baru pulang dari sekolah tidak sengaja melihat tiga serangkai sedang menunggu lampu lalu lintas.


"Mereka kayaknya mau pada jalan-jalan. Seandainya aku bisa ngajak Zeanna pergi nonton lagi, mungkin akan seru," gumam Salman dengan tatapan fokus pada wajah Anna dan berakhir pada kaki Anna.


"Zea ... kamu pergi ke luar memakai pakaian seperti itu? Sungguh kamu membuat aku khawatir," gumam Salman ketika melihat Anna yang hanya memakai celana pendek dan sebagian pahanya bisa terekspose karena posisi Anna sedang duduk di motor.


Salman langsung mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan pada Anna. Hatinya menuntun dia untuk memproteksi Anna agar Anna berhati-hati dengan pakaian yang dia kenakan.


[Zea ... lain kali kalau mau keluar, jangan pakai celana pendek kayak gitu. Ingat loh ... mata laki-laki lebih tajam ketimbang pisau.]


Anna merasakan jika ponselnya bergetar, tapi saat ini dia tidak mungkin membuka ponselnya karena sedang berada di atas motor.


Salman hanya menarik napasnya kasar ketika melihat Anna yang belum membuka pesan darinya, dan saat itu berbarengan dengan lampu lalu lintas arah Salman berwarna hijau dan Salman tidak lagi bisa melihat Anna.


Begitu juga dengan Anna, mereka pun segera melajukan sepeda motornya lagi untuk menuju tempat yang mereka rencanakan.


Tiba di mall, mereka bertiga langsung masuk ke parkiran dan saat melepas helm-nya Anna ingat jika tadi ponselnya bergetar. Anna mengambil ponselnya dan melihat ada pesan yang masuk.


Anna membulatkan matanya ketika membaca pesan dari Salman, dia segera mengedarkan pandangannya karena mengira jika Salman ada di sekitar mall.


"Kenapa aku malah berharap dia ada di sini?" batin Anna kecewa ketika menyadari jam yang tertera di pesan masuknya adalah ketika dia masih di perjalanan.


"Kayaknya otak aku udah gak beres ... ini gara-gara Pak Salman." Anna membatin.

__ADS_1


__ADS_2