Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Aku Hanya Ingin Kamu Bahagia


__ADS_3

Anna menangis, hatinya masih belum bisa menerima setiap ucapan baik dari ayahnya. Dadanya sesak, matanya sakit karena sejak tadi Anna mencoba untuk menghapus air mata itu.


Salman masuk ke kamar. Ditatapnya sang istri yang sedang menangis begitu menyedihkan. Dia menghampiri Anna dan dengan lembut memeluknya dengan begitu erat.


"Aku akan mendukung apa pun yang kamu inginkan, Zea. Jika menurutmu jalan itu adalah yang terbaik untuk kehidupan kita ... aku akan menerimanya. Udah, ya ... jangan nangis lagi." Salman mengusap-usap punggung Anna.


Anna tidak bisa menjawab ucapan suaminya, dipeluknya dengan begitu erat tubuh yang selalu membuatnya tenang dan saking terlalu lama Anna menangis, dia pun akhirnya tertidur di pelukan Salman.


Salman merebahkan tubuh Anna. Diusapnya wajah Anna dengan mata yang sembab serta masih ada sisa air mata yang tertinggal.


"Semuanya aku serahkan padamu. Jika itu yang terbaik ... akan aku turuti," gumam Salman seraya mengusap kepala Anna.


Salman mendengar semua ucapan ayah mertuanya. Dia merasa tidak enak hati oleh ayah mertuanya karena tidak bisa menyakinkan Anna untuk menjadi seorang ibu. Salman pun melihat sisi lain dari Anna, dia teringat ketika Anna marah mengetahui Salman sudah beristri. Bayangan kemarahan dan luka Anna masih membekas dalam ingatannya. Dia tidak ingin Anna menangis lagi atas apa yang terjadi dalam rumah tangganya. Salman tidak ingin menjadi laki-laki egois yang memaksakan keinginannya sendiri. Atas dasar itulah Salman mencoba untuk menerima takdirnya sendiri sesuai dengan keputusan yang akan diambil istrinya.

__ADS_1


***


Malam harinya, Anna masih tidak bisa makan. Semua makanan yang dia lihat membuat dia mual dan ingin muntah lagi. Anna hanya bisa minum dan itu pun tetap saja tidak bisa banyak karena rasa mual yang semakin menjadi.


"Mau makan di luar?" tawar Salman.


"Aku mau pulang," jawab Anna tidak nyambung.


"Sekarang?" sahut Salman lagi.


"Gak boleh seperti itu. Ini rumahmu ... masa kamu gak mau pulang ke rumah sendiri." Salman tersenyum.


"Papi gak sayang sama aku," keluh Anna.

__ADS_1


"Jika Papi tidak sayang, mana mungkin Papi memikirkan masa depanmu, Zea. Percayalah orang tua tidak akan bicara yang merugikan anaknya ataupun menjerumuskan anaknya," jelas Salman.


"Jika karena ucapan Papi tadi siang kamu seperti ini, kamu tidak perlu khawatir ... aku akan mengikuti semua keinginan kamu, apa pun itu ... aku akan menerimanya," sambung Salman.


"Termasuk menggugurkan kandungan aku?" sela Anna cepat.


"Iya. Aku akan mendukung setiap hal yang ingin kamu lakukan. Aku hanya ingin kamu bahagia dan tidak ingin kamu menangis lagi." Salman mengusap kepala Anna.


"Niat aku menikahimu karena aku ingin hidup bahagia. Untuk apa aku mendapatkan apa yang aku inginkan sedangkan kamu sendiri tujuan hidup aku tidak bahagia. Aku akan merelakan calon anak kita untuk kebaikanmu dan juga kebahagiaan kami, Sayang ... aku hanya ingin kamu bahagia dan tidak terluka." Mata Salman berkaca-kaca. Sungguh dia harus memilih apa yang harus dia lakukan agar keadaan Anna kembali baik. Salman tidak tega ketika melihat Anna yang begitu menderita akibat kehamilannya.


Anna tertegun. Dia tidak menyangka jika suaminya akan mendukung apa yang dia inginkan. Dia begitu terharu melihat semua itu, tapi lewat sorot matanya, Anna melihat kepedihan yang saat ini sedang dirasakan oleh suaminya.


***

__ADS_1


Tunggu buku baru akan segera terbit. Jangan lupa untuk selalu dukung karya saya, ya.


__ADS_2