Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
I Love You, Zeanna


__ADS_3

Keesokan harinya Anna terbangun, karena ada notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya. Anna mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian meraih ponselnya.


[Jalan-jalan pagi, yuk? Saya tunggu di taman kota jam 7. Kamu tahu, kan tempatnya?]


Pesan yang dikirim Salman mampu membuat Anna sadar seratus persen dari efek tidurnya. Anna langsung berlari masuk ke kamar mandi, tapi dia balik lagi, karena belum sempat membalas pesan dari Salman.


[Oke.]


Jawaban pesan Anna begitu singkat. Anna kembali melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur kemudian masuk ke kamar mandi.


"Hahaha ... kenapa coba aku sesenang ini? Jangan dulu geer Anna," gumam Anna seraya memulai aktivitas mandinya.


Anna menggunakan celana pendek di atas lutut, dengan atasan yang agak longgar. Rambutnya dia ikat ke atas hingga leher jenjangnya terlihat sempurna.


"Anna, mau ke mana pagi-pagi kayak gini?" tanya neneknya Anna.


"Aku mau jalan-jalan, Nek. Bosan kalau diam di rumah terus," jawab Anna sambil mengambil sandwich di meja makan.


"Semangat amat," goda Fais.


"Iya lah semangat, selain bisa liburan aku bakalan dapat sepeda motor baru," sahut Anna yang masih enggan untuk mengatakan yang sebenarnya.


Baik Fais atau kakek neneknya Fais tidak akan curiga dengan apa yang akan Anna lakukan hari ini. Mereka tidak tahu jika laki-laki yang Anna ceritakan pada Fais kemarin adalah orang yang tinggal satu wilayah dengan mereka, hanya berbeda tempat saja.


"Hati-hati mainnya, jangan sampai kejauhan," ucap Fais ketika mengantarkan Anna ke taman yang Anna maksud.


Dari jarak kejauhan, Salman melihat Anna yang baru saja keluar dari mobil. Salman meyakini jika Anna diantar oleh keluarganya.


Setelah mobil yang mengantarkan Anna pergi, Salman berjalan ke arah Anna. Senyumnya terbit ketika melihat Anna yang tampil sederhana tapi tetap cantik.


"Udah sarapan?" tanya Salman.


"Udah," sahut Anna.


"Ya, padahal saya mau minta ditemani buat sarapan," jawab Salman dengan senyum manisnya.


"Loh Bapak belum sarapan?" sahut Anna dan Salman mengangguk.


"Ayo aku temani, tapi Bapak aja, ya, yang sarapan ... aku mah duduk aja," ajak Anna memberi solusi.


"Ih sama aja bohong, saya tuh penginnya sarapan sama kamu bukan sarapan sendiri," sahut Salman sambil menarik tangan Anna.

__ADS_1


Anna tersenyum sambil berjalan beriringan dengan Salman.


"Tadi kamu sarapan apa?" tanya Salman sambil berjalan mengelilingi taman dengan Anna.


"Sandwich," jawab Anna cepat.


"Ternyata kesukaan kita sama," jawab Salman seraya mengajak Anna ke parkiran.


Anna hanya mengekor dan ketika Salman membuka bagasi motornya, Salman mengeluarkan kotak makan yang tersimpan di dalamnya.


"Ayo, kita duduk di sana," ajak Salman sambil kembali meraih tangan Anna.


Anna dan Salman duduk di bangku taman. Sebelum membuka kotak makanan yang dia bawa, Salman terlebih dahulu bertanya pada Anna.


"Mau minum apa? Susu atau coklat?" tanya Salman sambil memegang ponselnya.


"Emang di mana penjualnya?" sahut Anna sambil mengedarkan pandangannya.


"Di sebrang jalan," jawab Salman seraya menyimpan ponselnya ke saku celana.


"Cokelat aja, Pak," jawab Anna memilih dan Salman langsung berdiri.


"Tunggu sebentar, ya," ucap Salman seraya mengusap kepala Anna dan berlari ke seberang jalan untuk membeli coklat panas.


"Jangan baper, malu-maluin ih," batin Anna mengomentari hatinya sendiri.


Anna terus senyum-senyum sendiri, dan tidak perlu menunggu lama, karena Salman sudah kembali dengan membawa dua gelas instan cokelat panas.


"Ini." Salman menyerahkan coklat panas pada Anna.


"Makasih," sahut Anna seraya mengambil coklat panasnya.


Salman kemudian membuka kotak makanan yang dia bawa tadi.


"Ini sandwich-nya," ucap Salman menyerahkan kotak makanan yang berisi sandwich buatannya.


"Buat aku?" tunjuk Anna pada dirinya sendiri.


"Iya, lah masa untuk satpam. Kan tadi saya bilang pengin sarapan bareng, saya sengaja loh bikin sandwich-nya dua, buat saya satu, kamu satu," jelas Salman.


"Makan sandwich dua kali gak bakalan bikin kamu gemuk, ayo!" sambung Salman yang kekeh ingin Anna memakan sandwich buatannya.

__ADS_1


"Hahaha ... aku gendut, ya." Anna menertawakan dirinya yang saat ini berat badannya naik beberapa kilogram.


"Enggak. Tubuh segini mah ideal," jelas Salman seraya memakan sandwich-nya.


Begitu juga dengan Anna. Dia pun akhirnya memakan sandwich buatan Salman dan juga minum cokelat hangat.


"Kayaknya ini perut bakalan minta di isi lagi ntar siang," ucap Anna ketika merasakan perutnya penuh.


"Kan udah waktunya makan siang," jawab Salman sambil menyesap cokelat miliknya.


"Biasanya kalau sarapan sandwich jam 10 aku suka pengin makan nasi, tapi karena sekarang sarapan dua kali jadi itu kehitung jadwal makan aku yang jam 10," ucap Anna dengan tertawa lepas.


Salman ikut tertawa. Melihat Anna yang tertawa lepas seperti itu rasanya ingin sekali dia memeluk Anna dengan gemas. Namun, semua itu hanya khayalan dia saja.


"Mau jalan-jalan?" tanya Salman setelah matahari di taman terasa terik.


"Kamu belum tahu, kan tempat wisata yang ada di daerah sini?" sambung Salman.


"Boleh," jawab Anna dengan senyum manisnya.


"Gak apa-apa, kan naik sepeda motor?" sambung Salman.


"Emang kenapa? Kan aku biasa naik motor, ketemu sama Bapak aja gara-gara ditabrak dari belakang, lampu motor aku pecah," sahut Anna dengan tersenyum mengingat kembali pertemuan awalnya dengan Salman.


"Hahaha ... kamu masih dendam kayaknya," goda Salman yang lagi-lagi mengusap-usap kepala Anna.


"Ayo! Keburu panas," ajak Salman sambil menarik tangan Anna.


Untuk pertama kalinya Anna dibonceng oleh Salman pakai sepeda motor. Bahkan Salman membantu memasangkan helm untuk Anna, yang tentu membuat Anna makin meyakini jika sikap Salman menunjukkan bahwa dia menyukainya.


Salman tersenyum seraya naik ke atas motor yang disusul oleh Anna juga. Entah punya keberanian dari mana, Salman justru menarik tangan Anna agar memeluknya ketika mereka di atas sepeda motor.


"Ingat, jangan bertanya kenapa," ucap Salman ketika dia meraih kedua tangan Anna agar melingkar di pinggangnya.


Anna mengangguk, karena sejatinya dia memang sudah merasakan jika dia jatuh cinta pada Salman.


"Apa ini gak masalah?" tanya Anna.


"Enggak," jawab Salman dengan tersenyum kemudian melajukan sepeda motornya.


Hati keduanya berdegup dengan begitu kencang. Baik Anna maupun Salman merasakan hal yang sama, yaitu kenyamanan yang tidak bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Setidaknya di sini aku bisa merasakan jika aku tidak sendiri. Ada kamu yang selalu membuat hidup aku lebih berwarna," batin Salman.


"Jika pada akhirnya kamu tahu tentang status aku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus menjalani kehidupan aku tanpa kamu, Zea. I love you, Zeanna ... I love you more," batin Salman.


__ADS_2