Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Aku Pasti Akan Merindukannya


__ADS_3

Waktu yang dinantikan oleh setiap murid akhirnya segera tiba. Ulangan akhir semester akan digelar sekitar 3 hari lagi dan Anna sudah siap dengan semua materi yang dia pelajari selama ini.


"Untuk materi Ulangan akhir semester kalian pelajari dari awal. Sukses untuk ulangan akhir semesternya, ya," ucap Salman mengakhiri pembelajarannya.


"Siap, Pak," jawab serempak semua murid.


Salman menatap ke arah Anna yang sekarang tampak memandangnya juga. Hatinya semakin berbunga-bunga setelah hubungannya dengan Anna semakin dekat dan mereka sudah sering bertukar pesan hanya sekedar ber-say hallo saja.


[Nanti sore makan jagung di taman, yuk!]


Sebaris pesan yang Salman tulis sungguh membuat Anna sangat senang. Dengan perasaan yang luar biasa senangnya Anna pun segera membalas pesan yang dikirim oleh Salman.


[Oke, jam 4.]


Salman yang saat ini sedang bersiap-siap untuk pulang dia begitu merasa senang karena sebelum akhirnya Anna ujian akhir semester, Salman masih bisa mengajak Anna nongkrong karena setelah UAS dimulai Salman bertekad tidak akan mengganggu konsentrasi Anna.


Waktu yang dijanjikan pun akhirnya tiba. Anna yang hampir saja tidak mendapatkan ijin dari maminya, dia menggunakan senjata pamungkasnya jika ini adalah acara nongkrongnya yang terakhir sebelum belajar untuk persiapan UAS.


"Oke, ini yang terakhir dan besok kamu tidak boleh keluyuran dan harus fokus belajar!" seru Raina tegas.


"Siap, Mamiku cantik," sahut Anna seraya berlari keluar karena takut Salman akan menunggunya terlalu lama.


"Aku kayak yang mau pergi kencan aja. Lagian Pak Salman cuma ngajakin nongkrong biasa, ngapain juga aku pakai buru-buru kayak gini," batin Anna sambil menghidupkan mesin sepeda motornya.


"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Pak Salman sama aku? Apa benar ini pure urusan antara guru dan murid? Kenapa aku merasa jika Pak Salman memperlakukan aku berbeda? Apa hanya aku yang merasa? Geer kamu, Anna," batin Anna terus-terusan merasa jika perhatian Salman lebih sekedar perhatian dari guru pada muridnya.


"Zea!" panggil Pak Salman ketika melihat Anna yang baru saja tiba dan memarkirkan sepeda motornya.


"Wah ... Bapak udah nungguin dari tadi? Maaf, ya. Biasa aku nyari alasan dulu pada yang mulia Ratu," jelas Anna dengan terkikik geli karena memanggil maminya yang mulia Ratu.

__ADS_1


"Kamu tuh sama ibu sendiri ngatain kayak gitu, dosa loh," tegur Salman sambil menyentil kening Anna.


"Awww," ringis Anna seraya mengerucutkan bibirnya.


"Bapak sakit ih." Anna mengusap-usap keningnya dan dengan refleks Salman malah menyingkirkan tangan Anna dan diganti dengan tangannya untuk mengusap-usap kening Anna seraya meniup-niupnya.


Deg ... Deg ... Deg ....


Jantung Anna benar-benar akan copot dari tempatnya. Jarak wajah keduanya begitu dekat dan Anna bisa merasakan hangatnya napas Salman yang beraroma mint menusuk ke hidungnya.


Salman yang refleks pun baru sadar jika sekarang keduanya berada pada posisi yang begitu dekat.


Salaman menatap manik hitam Anna dan Anna pun sebaliknya. Pikiran liar Salman mulai berkelana ke hal-hal yang biasa dilakukan oleh para pasangan kekasih.


Salman membayangkan jika dia menatap Anna kemudian membelai pipinya dan berakhir dengan menempelkan bibirnya di bibir ranum Anna. Namun, ketika hendak melanjutkan khayalannya, getar ponsel Anna menyadarkan Salman jika dirinya sedang berhalusinasi.


"Makanya kalau ngatain orang tua harus sopan, kalau enggak nanti aku sentil lagi," ucap Salman seraya menyudahi acara mengusap-usap kening Anna-nya.


"Tumben Bapak ngajakin nongkrong hari jumat, biasanya hari sabtu," tanya Anna sambil berjalan mendekat ke arah penjual jagung bakar.


"Mulai besok dan sampai ujiannya selesai, saya gak akan ganggu kamu. Kamu mesti fokus belajar supaya bisa memberikan nilai terbaikmu untuk kedua orang tuamu," jelas Salman.


"Belajar yang rajin dan harus fokus. Aku punya hadiah jika kamu bisa mendapatkan nilai terbaik ketika ujian nanti," sambung Salman.


"Hadiah? Asyik ... kali ini bukan hanya Mami, Papi, Nenek dan Abang, tapi ada Bapak juga yang akan ngasih hadiah. Aku tunggu loh dan aku bakalan nagih jika Bapak sampai lupa ngasih hadiahnya," sahut Anna senang.


"Wah ternyata penggemar kamu banyak juga, ya." Salman baru tahu jika keluarga selalu mendukung prestasi yang Anna peroleh.


"Penggemar kayak artis aja," sanggah Anna seraya duduk di kursi yang tersedia di taman.

__ADS_1


"Liburan, Bapak kemana?" tanya Anna antusias.


"Saya pulang ke rumah Ibu, tapi itu pun sepertinya kalau di sekolah gak ada acara," jawab Salman.


"Emang kalau libur sekolah suka ada acara? Papi aku ...." Anna menggantungkan kalimatnya dan mengingat-ingat momen liburan ayahnya jarang ikut.


"Gak setiap libur sekolah juga, tapi kayaknya libur sekarang bakalan ada acara dan mungkin saya pulang setelah acara sekolah selesai, kamu?" jelas Salman dan balik bertanya.


"Aku mau main ke tempat Abang. Kakak aku itu jarang pulang dan sekarang malah sibuk bantuin pekerjaan Kakek, aku liburan suka diajak berkeliling rumah Kakek dari Mami dan juga Papi," jelas Anna.


"Wis ... Keren. Pantesan aja wajah kamu gak kaya orang lain yang kurang piknik," goda Salman yang justru malah membuat Anna melotot.


"Ish ... Bapak ada-ada aja." Anna akhirnya tersenyum karena memang benar dirinya tidak pernah absen liburan jika waktu libur sekolah tiba.


Obrolan mereka terus berlanjut panjang lebar, momen ini dijadikan oleh Salman seperti tahap menggali informasi dan kebiasaan Anna. Salman yang sudah jatuh cinta tidak akan mundur sampai akhirnya nanti Anna yang menjauhinya sendiri.


Jagung bakar yang mereka pesan pun bisa mereka nikmati dengan sesekali bercanda dan tertawa karena membicarakan hal-hal konyol.


Salman sungguh merasa akan sangat merindukan gadis kecilnya itu yang sudah berhasil menggetarkan hatinya dan juga mencairkan hatinya yang beku.


"Aku pasti akan merindukan kamu, Zea. Aku harap tidak akan pernah ada yang namanya libur sekolah agar aku bisa bertemu dengan kamu setiap hari. Aku sungguh merasa sangat berat untuk pulang ke rumah Ibu, pasti di sana istriku akan menagih kewajiban aku sebagai seorang suami." Salman larut dalam pikirannya seraya memperhatikan Anna yang sedang makan jagung bakar.


"Zea ... bagaimana mungkin aku bisa menyentuh wanita lain, sedangkan hati aku sudah jadi milik kamu," batin Salman.


Anna dan Salman akhirnya pulang. Mereka sudah puas menghabiskan waktu nongkrong mereka dan Salman tidak lupa mengingatkan agar Anna belajar dengan fokus.


"Sampai jumpa hari senin, hati-hati di jalannya," ucap Salman ketika Anna sudah siap dengan sepeda motornya.


"Bapak juga, hati-hati," sahut Anna dengan senyum manis yang selalu terukir untuk Salman.

__ADS_1


"Aku pasti akan merindukan suasana seperti ini," batin Anna.


__ADS_2