
Anna tersenyum, seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Namun, gerakannya tertahan oleh tangan Salman.
"Mandi, yuk!" ajak Salman.
"Aku masih ngilu," bisik Anna yang masih merasakan sakit di intinya.
"Maaf, pasti gak nyaman, yah?" sambung Salman dan Anna mengangguk.
"Mau aku gendong?"
Salman sudah siap dengan posisinya untuk menggendong Anna, tapi ketika menyentuh tubuh polos Anna, darahnya kembali berdesir hebat. Naluri kelelakiannya kembali bangkit tatkala menyentuh tubuh polos istrinya itu.
Salman menelan salivanya. Dia tidka mungkin kembali menerjang Anna, sebab melihat Anna yang masih kesakitan pun membuat Salman mencoba untuk menahan hasrat yang kian menggelora.
Anna mengalungkan tangannya di leher Salman ketika Salman mengangkat tubuhnya. Malu, itulah yang Anna rasakan ketika keduanya sama-sama tidak memakai apa pun dan Salman menatapnya dengan begitu sulit dia artikan.
"Kenapa pipimu merah?" goda Salman dengan tersenyum.
"Enggak, ih," kilah Anna mencoba untuk memalingkan wajahnya.
Salman hanya terkekeh. Sampai di kamar mandi Salman mengucurkan shower untuk mengguyur tubuh merek berdua.
"Mas kenapa aku gak diturunin?" ucap Anna ketika Salman yang tak kunjung menurunkannya dari gendongan.
"Hehe ... lupa," sahut Salman garing dan perlahan Salman menurunkan Anna, tapi detik berikutnya Salman memeluk Anna dari belakang seraya mencium tengkuk Anna dan tangannya menjelajah bagian-bagian yang baru saja menjadi favoritnya.
"Mas, kalau kayak gini mandinya gak bakalan kelar. Aku masih sakit," ucap Anna mengingatkan jika Anna tidak mungkin melakukan sesuatu yang baru di kamar mandi.
Bukan karena alasan intinya masih sakit, tapi rasanya dia masih belum tahu bagaimana cara bermain di kamar mandi.
"Iya, iya, kita mandi aja," sahut Salman dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Kamu marah?" tanya Anna.
"Enggak," jawab Salman.
"Bohong!" seru Anna.
"Aku tadinya ingin mencoba di sini," jelas Salman.
"Aku masih belum tahu gimana caranya, lebih baik kita lihat tutorialnya aja dulu," bisik Anna yang seketika membuat Salman melotot dan menyentil kening Anna.
"Awwww ... kamu kenapa nyentil aku?" keluh Anna.
"Kamu suka nonton video begituan?" selidik Salman.
__ADS_1
"Enggak, ih. Kata siapa?" sahut Anna cepat.
"Itu tadi kamu bilang lihat tutorial," lanjut Salman.
"Udah ah, dingin," jawab Anna mengalihkan pembicaraan.
"Zea ... jangan menghindar," tegur Salman.
"Mau ngobrol di kamar mandi atau di kasur?" tawar Anna genit.
"Kamu, ya ...." Salman terkekeh karena melihat rayuan Anna.
Merek berdua pun segera membersihkan badan mereka. Anna berjalan masih tertatih-tatih karena area sensitifnya masih terasa ngilu akibat pembobolannya oleh Salman beberapa jam yang lalu.
Anna mengambil pakaian yang sudah di sediakan oleh Salman untuknya.
"Mas, kok baju tidurnya kayak gini semua?" tanya Anna seraya menghampiri suaminya yang saat ini sudah berada di atas tempat tidur.
"Bukankah kamu sering kegerahan karena pakaian panjang?" jawab Salman yang kembali tergoda melihat lekukan tubuh Anna yang hanya terhalang oleh kain tipis yang sengaja dia beli.
"Ish tapi gak kayak gini juga. Ini tuh tipis banget ... kalau ada orang bertamu malam-malam gimana coba?" sambung Anna.
"Gak akan ada tamu yang datang malam-malam ke rumah ini," jawab Salman yang sudah menarik Anna untuk dipeluk.
"Kamu cantik kalau pakai pakaian seperti ini, tapi ini hanya boleh kamu gunakan kalau sedang bersama aku," ucap Salman sambil mengaitkan rambut Anna ke belakang telinga.
Salman mendekatkan wajahnya dengan wajah Anna kemudian mengunci tubuh Anna dengan memberikan kecupan-kecupan hangat di seluruh wajah Anna.
"Mas, geli," ucap Anna ketika Salman mencium seluruh wajah Anna.
"Ini masih terasa seperti mimpi, Sayang," ucap Salman seraya mengusap-ngusap pipi Anna.
"Sini aku cubit," sahut Anna seraya mencubit perut Salman dan kali ini Salman yang meringis.
"Sakit?" sambung Anna dan Salman tertawa.
"Tentu saja sakit, itu artinya aku tidak mimpi," jawab Salman sambil kembali menarik Anna ke pelukannya.
"Ini masih sakit?" sambung Salman yang seketika Anna terlonjak kaget ketika area sensitifnya disentuh Salman.
"Kenapa kaget? Bukankah tadi juga aku sudah memegangnya?" goda Salman.
"Ish, kamu tuh ...." Anna mengerucutkan bibirnya dan itu justru langsung disambar oleh Salman.
Salman tersenyum lagi ketika Anna tersipu lagi.
__ADS_1
"Gimana? Masih sakit?" ulang Salman. Anna mengangguk perlahan.
"Ya udah malam ini satu kali aja, ya? Besok kita coba lagi," sahut Salman.
"Kamu kecewa, Mas?" selidik Anna sambil memandang ke arah Salman.
"Buat apa aku kecewa? Kita tuh masih punya waktu yang lama untuk melakukannya." Salman mengusap kepala Anna.
"Justru aku yang minta maaf karena sudah membuatmu merasakan sakit seperti ini," lanjut Salman.
"Aku pikir tidak akan sesakit ini. Jika aku lihat orang lain begitu menikmatinya tapi ...." Anna keceplosan dan buru-buru menutup mulutnya dengan tangan.
"Orang lain menikmatinya? Maksudnya?" Salman menatap tajam ke arah Anna.
"Oh, itu ... maksud aku ...." Anna tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Salman melotot ke arahnya.
"Ayo bilang yang jujur!" gertak Salman.
Anna yang takut suaminya akan marah pun dia memilih untuk diam.
"Zeanna ... mau berkata jujur atau nanti kamu akan ketahuan berbohong sama suamimu?" gertak Salman lagi.
"Iya, aku pernah menontonnya, tapi itu juga waktu aku SMA, karena si Amara yang salah putar film," jelas Anna yang justru malah makin membuat Salman melotot.
"Kamu melihatnya saat SMA?" ulang Salman meyakinkan jika pendengarannya masih normal.
"Iya," jawab Anna sambil memainkan ujung lingerie-nya.
"Kamu tuh aku pikir masih polos ternyata suka nonton yang gituan, dari SMA lagi," cibir Salman sambil melotot.
"Aku gak sengaja. Waktu itu kita bertiga main ke rumah Amara, eh laptop si Amara dipinjam sama Kakaknya, dan di sana aku jelas-jelas nama filmnya itu film korea, tapi pas kita buka ternyata film yang begituan. Jadi, kita bertiga gak sengaja nonton," jelas Anna mengklarifikasi.
"Terus." Salman meminta Anna menjelaskan kembali.
"Ya, karena kita bertiga penasaran akhirnya kita nonton sampai tuntas," lirih Anna sambil menunduk.
"Zeanna ... kamu tuh kok bisa sih udah tahu itu bukan film yang layak kamu tonton ketika usia kamu di bawah umur, bukannya langsung di matikan ini malah dilanjutkan sampai tuntas." Salman geleng-geleng kepala.
"Habisnya aku penasaran, dan ternyata jika benar-benar dilakukan tidak seenak yang aku lihat," sahut Anna.
"Dokter Zeanna ... ternyata pikiran kamu sudah terkontaminasi sejak usiamu beranjak remaja. Jangan-jangan ...." Salman menggantungkan ucapannya.
"Apa? Jangan mikir yang aneh-aneh! Aku gak pernah melakukan dan berciuman pun baru sama kamu," tegas Anna yang justru disambut gelak tawa oleh Salman.
"Jadi aku menang banyak dong," goda Salman yang tidak di mengerti oleh Anna.
__ADS_1
"Maksudnya?" Anna balik menatap Salman tajam.
"Aku tuh dapetin kamu yang usianya masih muda, perawan dan belum pernah berciuman dengan orang lain." Salman menarik Anna hingga akhirnya Anna memukul Salman karena jawabannya.